Sabtu, 27 November 2010

Catatan Idul Adha Dari Washington



Sudah berkali-kali aku mendengar kisah Nabi Ibrahim, tapi hari baru kali ini aku ingin menangis.

Di Islamic Center of Kent, Washington, USA, kisah itu hari ini diperdengarkan lagi oleh khotib muda yang berwajah cerah itu. Aksen Inggrisnya membuat siapa saja bisa menebak bahwa dia berasal dari daerah timur tengah. Meski bisa mengikuti dengan baik, ada beberapa bagian yang membuat saya harus berkonsentrasi penuh agar paham.

Pemanas ruangan di masjid kecil itu tak mampu mengusir hawa dingin akhir musim gugur menjelang winter—di negeri yang selalu dingin sepanjang tahun ini. Wajarnya, dikhotbahi pagi-pagi dalam cucaca dingin sedemikian rupa setiap orang pasti terkantuk. Tapi ketika kuangkat kepala dari menatap lantai, kulihat semua orang di kiri kananku takzim mengikuti kotbah. Dari barisan depan sudah banyak yang terisak. Beberapa orang sudah mengusap punggung tangan ke mata. Tadinya kupikir aku sendiri yang memerah matanya.

Lima hari lagi genap sudah tiga bulan aku di sini. Tapi sampai sekarang belum juga aku terbiasa dengan cuacanya, terutama hawa dinginnya yang kadang mencapai 3 derajat celcius di pagi hari. Tak tahulah aku bagaimana jadinya winter nanti, jika masih musim gugur ini saja suhunya sudah drop sebegitu.

Hawa dingin itulah yang membuat aku tadinya malas berangkat. Shalat Ied yang dimulai jam delapan membuat saya harus bangun pagi-pagi dan segera mandi, lalu keluar rumah ketika hari masih remang-remang. Disini, di akhir bulan November ini, jam tujuh pagi masih gelap dan jam lima sore sudah gelap lagi. Kadang-kadang hujan turun sepanjang hari. Matahari tidak muncul bisa sampai berhari-hari.

Keluar dari apartement aku harus berjalan cepat-cepat ke pemberhentian bus untuk mengejar bus 166 menuju Kent Station. Lalu kemudian mendekam di bawah halte bus Kent Station dalam belaian angin basah yang berdesau-desau, sekitar sepuluh menit menggigil disana hingga bus 169 menuju Renton membukakan pintunya, tepat jam tujuh tiga puluh. Parahnya lagi hari ini tadi hujan—seperti kebanyakan hari-hari sebelumnya—(oh ya, welcome to Seattle. Disini dalam setahun sembilan bulannya hujan.)

Ada alasan yang bagus untuk tidak pergi ke masjid untuk sholat idul Adha hari ini tadi. Pertama sholat Ied itu sunnah, jadi boleh saja ditinggalkan. Apalagi untuk melakukannya banyak rintangan. Kedua, hari hujan. Katanya kalau hari hujan boleh tidak ke masjid. Ketiga, sebenarnya hari ni aku ada kelas. Aku kan sedang menuntut ilmu. Ada pernah aku dengar bahwa itu bisa jadi excuse.

Tapi bagaimanapun juga, tetap saja hati kecil saya berkata saya harus ke masjid.Bukankah itulah maknanya perngorbanan dari hari raya kurban ini? Karenanya sejak kemarin saya sudah siap-siap.

Saya izin dengan dosen untuk tidak masuk hari ini. Saya jelaskan bahwa ini adalah holiday buat kami Muslim. Dia bilang “That’s really fine.” Dia Cuma beri saya tugas.

Sebenarnya disini sudah ada yang merayakan idul Adha kemarin. Bahkan di masjid yang sama tempat saya sholat hari ini, kemarin juga diadakan sholat idul adha. Ada dua kubu besar di sini, antara kelompok arab dan kelompok Somalia. Seperti Muhammadiyah dan NU kalau di Indonesia. Tapi bedanya, disini mereka sholat di masjid yang sama dan tidak pernah ribut. Mereka saling menghormati pendapat orang lain. That’s not a big deal. Tidak seperti di negeri kita yang bisa jadi ribut besar-besaran.

Saya memilih sholat hari ini karena sebagian besar jamaah masjid Kent merayakannya hari ini. Meski tidak penuh—bahkan tidak sebanyak jamaah sholat jum’at—sholat Ied hari ni berjalan lancar dan khidmat. Dan seperti yang kubilang tadi, khutbahnya begitu menyentuh.

Kisahnya sama. Tentang Nabi Ibrahim yang hanif, yang telah memiliki sifat-sifat kenabian semenjak ia kecil. Yang hidup di tengah-tengah komunitas yang rusak. Yang berani menghancurkan berhala-berhala. Yang dibakar tapi tidak terbakar. Yang menikah dengan siti Hajar, lalu tanpa putus asa terus bersabar menunggu selama delapan puluh tahun untuk dikarunia Ismail yang diberkati.

Lalu tentang perintah Allah untuk meninggalkan anak istrinya di lembah antah berantah , yang panasnya bukan main kalau siang lalu gulita ketika malam sampai tidak terlihat telapak tangan di depan wajah. Lalu tentang kisah mahsyur mengenai peristiwa yang mendasari hari raya Kurban. Peristiwa ketika Ibrahim hendak menyembelih anak kesayangannya karena perintah Allah, yang setiap muslim pasti pernah mendengarnya.

Semua sama seperti yang sejak kecil sudah ku dengar dari mulut khotib di masjid kampungku yang terbata-bata membaca tulisan arab gundul di kitab kuning tua kebanggaannya.

Tapi hari ini kisah itu terasa jauh lebih menyentuh. Entah karena khotibnya yang dengan merdu mengutip ayat-ayat Alqur’an sehigga kutbahnya terasa lebih khusuk, atau karena kelihaiannya memilih kata-kata.

Tapi kukira yang paling penting, sang imam waktu itu selalu mengaitkan apa-apa yang disampaikannya dengan apa yang terjadi dengan kehidupan sehari-hari disini. Dia membuat siapa saja tertohok dan merasa malu sendiri pada Ibrahim. Pengorbanan yang ia lakukan begitu besar, membuat apa-apa yang kita lakukan selama ini untuk Allah terasa tidak ada apa-apanya.

Bagi saya sendiri, sang Khotib membuat sosok Ibrahim menjelma raksasa dan saya kerdil di ujung kakinya. Saya sering berpikir bahwa ada alasan baik bagi saya jika saya tidak beragama dengan baik disini, sebab saya tinggal di lingkungan yang sangat tidak kondusif.

Tinggal di negeri “bebas’ ini, kemana pun wajah mengarah disitu terlihat pemandangan yang haram. Kemana pun kaki menuju selalu bertemu tempat maksiat. Tidak ada yang melarang jika ingin berbuat dosa. Tidak ada yang mengingatkan jika kita salah jalan. Tidak ada yang disegani jika hendak mangkir. Jadi wajar jika saya tidak bisa “alim-alim amat”.

Tapi Ibrahim menertawai saya, sebab ia hidup di komunitas yang lebih parah. Tapi ia tidak lemah seperti saya dan tidak berpikir bahwa wajar jika ia tidak alim-alim amat.

Disini saya sering merasa sedih ketika harus bertemu rintangan ketika hendak menjalankan agama. Kadang waktu kuliah atau program lain yang konflik dengan waktu sholat sehingga menyulitkan. Pernah saya dituduh tanpa izin meniggalkan kelas untuk sholat.

Pernah saya tidak sholat jumat karena tidak bertemu masjid yang yang tadinya sudah dicari di Google Map, gara-gara harus menyesuaikan dengan suatu acara di luar kampus. Berkali-kali saya mesti sholat di luar ruangan seperti di tempat parkir, di emperan gedung kuliah, bahkan di dekat WC (saya sudah terbiasa melakukannya sekarang). Belum lagi pandangan orang yang menatap aneh kalau saya lagi sholat, atau dengan terang-terangan menertawai.

Tapi Ibrahim berkata, pernahkah kamu mau dibakar gara-gara itu? Tidak bukan?

Ya benar. Sekarang saya benar-benar merasa malu sendiri. Itu belum ada apa-apanya dengan apa yang dialami Ibrahim. Selama ini saya terlalu melankolik. Saya juga terlalu banyak mencari pemakluman. Terlalu banyak mencari kemudahan yang cenderung menjadi memudah-mudahkan. Saya tidak melakukan “try the best” sebelum mengatakan ‘ini uzur”. Padahal ada banyak orang yang mengalamai jauh lebih berat dari saya.

Itulah yang pelajaran yang saya dapat di hari raya Idul Adha pertama saya di negeri orang. Sungguh, itu tidak saya temukan pada waktu merayakannya di tanah air. Disini lebarannya tidak ada yang istimewa. Tidak ada acara khusus, tidak ada makanan khusus, dan tidak ada pakaian khusus. Bahkan tidak terasa seperti lebaran. Namun dalam semua kesederhanaan itu, aku justru mendapat pelajaran yang tidak kutemukan dalam meriahnya lebaran di kampung halamanku.

***
Selesai shalat semua orang berpeluk-pelukan sambil mengucapkan “Ied mubarrak”. Suasananya penuh keakraban. Bagi saya sensasinya tak kalah syahdu meski tidak berkumpul dengan keluarga, tak ada ketupat, tak ada opor, tak ada daging kurban, bahkan tak ada makanan yang mau dimakan kalau pulang nanti. Aku tidak merasa berada di negeri orang lain, meskipun hanya beberapa orang saja yang kukenal dari jamaah itu. Sebab di manapun tempatnya, di dalam masjid semua orang serasa keluarga.

Aku ingin sekali menyambangi sang imam yang telah menyampaikan khutbah yang indah tadi. Tapi rupanya yang berpikir begitu bukan hanya saya. Banyak sekali orang yang mengantri untuk bersalaman dan memeluknya. Saya termasuk yang terakhir yang mengucapkan ied mubarrak, lalu seperti kebiasaan orang disini – bersalaman dan berpelukan kiri-kanan tiga kali. “Thank you for the inspiring speech, brother,” kata saya.

Pulangnya saya naik bus lagi. Masih dingin dan angin masih bertiup berdesau-desau. Di halte saya bertemu Abdullah, nama hijrah seorang pemuda native America yang memeluk Islam beberapa tahun yang lalu. Orangnya tinggi besar, tampan dan gagah. Di depannya membuatku selalu sadar kalau aku pendek dan hidungku pesek. Aku biasa satu bus dengan dia setiap pergi sholat jumat. Kami selalu mengobrol lama kalau bertemu.

Sama seperti aku, rupanya dia juga sangat tersentuh dengan kutbah hari ini. Dia bilang kosep “sacrifice” Ibrahim sangat menyentuhnya. “What have we sacrificed so far, brother?” tanyanya retoris, tanpa bisa aku jawab apa-apa.

Di Kent station kami berpisah karena dia akan mengambil bus yang berbeda. Sebelum pergi dia menyalamiku dan mengucapkan salam, lalu berlari mengejar busnya yang sudah menunggu di Bay 8.

Aku mengiringi Abdullah berlari dengan tatapan mata. Aku kagum pada ketaatan pemuda itu. Kata-katanya terngiang lagi di telingaku. “What have we sacrificed so far?”

Entah mengapa tiba-tiba aku merasa malu pada Abdullah. Sebab selama mengenalnya, seingatku aku belum pernah mendengar ia mengeluh tentang sulitnya menjalankan agama di sini. Bukankah pasti juga berat baginya? Pasti sulit baginya harus keluar dari agama keluarganya, keluar dari kegemerlapan kehidupan Amerika yang sudah ia kenal seumur hidupnya, untuk masuk Islam dan dengan taat menjalankannya. Bahkan lebih taat dari sebagian besar orang yang lahir sebagai muslim seperti saya, atau bahkan yang datang dari negeri-negeri dimana agama ini diturunkan. Iya benar, ia tidak pernah mengeluh sekalipun soal itu.

Abdullah adalah contoh yang sangat “dekat”. Dia bukan dari golongan sahabat rasul yang hidup di jaman nabi. Dia juga bukan orang alim “di suatu kampong pada suatu masa” seperti kisah-kisah yang sering aku dengan pada taklim-taklim. Dia anak jaman ini, yang ada di depan mata saya. Dia adalah orang yang sudah mengorbankan banyak hal, tapi tetap saja berkata “what have we sacrificed so far?”.

Ah, sepertinya dia sengaja menyindirku. What have I sacrificed so far? Bukankah tadi pagi aku nyaris tidak pergi ke masjid hanya gara-gara dingin dan hujan. ***

Riverwood, Kent, 11/17/2010

Agusmantono
manthono@gmail.com

Tulisan ini dikutip dari: http://www.eramuslim.com/kisah/catatan-iedul-adha-dari-washington.htm

Siapakah Syeikh Abdul Qadir Jaelani ?




Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang 'alim di Baghdad. Biografi beliau dimuat dalam Kitab Adz Dzail 'Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali. Buku ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Imam Ibnu Rajab menyatakan bahwa Syeikh Abdul Qadir Al Jailani lahir pada tahun 490/471 H di kota Jailan atau disebut juga dengan Kailan. Sehingga diakhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al Kailani atau juga Al Jiliy. Wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi'ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj.

Beliau meninggalkan tanah kelahiran, dan merantau ke Baghdad pada saat beliau masih muda. Di Baghdad belajar kepada beberapa orang ulama' seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein Al Farra' dan juga Abu Sa'ad Al Muharrimi.

Beliau belajar sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama'. Suatu ketika Abu Sa'ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil-kecilan di daerah yang bernama Babul Azaj. Pengelolaan sekolah ini diserahkan sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang yang ada tersebut. Banyak sudah orang yang bertaubat demi mendengar nasehat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau. Sehingga sekolah itu tidak kuat menampungnya. Maka, diadakan perluasan.

Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama' terkenal. Seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Juga Syeikh Qudamah penyusun kitab figh terkenal Al Mughni.

Syeikh Ibnu Qudamah rahimahullah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir, beliau menjawab, "kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian terhadap kami. Kadang beliau mengutus putra beliau yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat fardhu." Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan sembilan hari.

Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani sampai beliau meninggal dunia. 1)

Beliau adalah seorang 'alim. Beraqidah Ahlu Sunnah, mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak (pula) orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, "thariqah" yang berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya. Diantara perkataan Imam Ibnu Rajab ialah, "Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syeikh, baik 'ulama dan para ahli zuhud".

Beliau banyak memiliki keutamaan dan karamah. Tetapi ada seorang yang bernama Al Muqri' Abul Hasan Asy Syathnufi Al Mishri (orang Mesir) 2) mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya). Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan segala yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah mansyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh (dari agama dan akal), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas.3)

Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah. Kemudian aku dapatkan bahwa Al Kamal Ja'far Al Adfwi 4) telah menyebutkan, bahwa Asy Syath-nufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini." 5)

Imam Ibnu Rajab juga berkata, "Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma'rifat yang sesuai dengan sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Beliau membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah." Syeikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, "Dia (Allah) di arah atas, berada di atas 'arsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu."

Kemudian beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadist-hadist, lalu berkata, "Sepantasnya menetapkan sifat istiwa' (Allah berada di atas 'arsyNya) tanpa takwil (menyimpangkan kepada makna lain). Dan hal itu merupakan istiwa' dzat Allah di atas arsys." 6) Ali bin Idris pernah bertanya kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, "Wahai tuanku, apakah Allah memiliki wali (kekasih) yang Tidak berada di atas aqidah (Imam) Ahmad bin Hambal?" Maka beliau menjawab, "Tidak pernah ada dan tidak akan ada." 7)

Perkataan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani tersebut juga dinukilkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Istiqamah I/86. Semua itu menunjukkan kelurusan aqidahnya dan penghormatan beliau terhadap manhaj Salaf.

Sam'ani berkata, "Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau."

Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A'lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut, "Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat."

Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan beliau mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, "Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau." (SiyarXX/451).

Imam Adz Dzahabi juga berkata, "Tidak ada seorangpun para kibar masyasyeikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak diantara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi".

Syeikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil, hal.136, "Aku telah mendapatkan aqidah beliau (Syeikh Abdul Qadir Al Jailani) di dalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. 8) Maka aku mengetahui dia sebagai seorang Salafi. Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Beliau juga membantah kelompok-kelompok Syi'ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf." 9)

Inilah tentang beliau secara ringkas. Seorang 'alim Salafi, Sunni, tetapi banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas nama beliau. Sedangkan beliau berlepas diri dari semua kebohongan itu. Wallahu a'lam bishshawwab.

Kesimpulannya beliau adalah seorang 'ulama besar. Apabila sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjung-nyanjungnya dan mencintainya, maka suatu kewajaran. Bahkan suatu keharusan. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau di atas Rasulullah Shalallahhu 'alaihi wassalam, maka hal ini merupakan kekeliruan. Karena Rasulullah Shalallahhu 'alaihi wassalam adalah rasul yang paling mulia diantara para nabi dan rasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan di sisi Allah oleh manusia manapun.

Adapun sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah (perantara) dalam do'a mereka. Berkeyakinan bahwa do'a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaranya. Ini juga merupakan kesesatan. Menjadikan orang yang meninggal sebagai perantara, maka tidak ada syari'atnya dan ini diharamkan. Apalagi kalau ada orang yang berdo'a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do'a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak diberikan kepada selain Allah. Allah melarang mahluknya berdo'a kepada selain Allah,

"Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya Disamping (menyembah) Allah." (QS.Al-Jin:18)

Jadi sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk memperlakukan para 'ulama dengan sebaik mungkin, namun tetap dalam batas-batas yang telah ditetapkan syari'ah.

Akhirnya mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita sehingga tidak tersesat dalam kehidupan yang penuh dengan fitnah ini.

Wallahu a'lam bishshawab.

Catatan Kaki:
1) Siyar A'lamin Nubala XX/442
2) Nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Yusuf bin Jarir Al Lakh-mi Asy Syath-Nufi.
Lahir di Kairo tahun 640 H, meninggal tahun 713 H. Dia dituduh berdusta dan tidak bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani.
3) Seperti kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya.
4) Nama lengkapnya ialah Ja'far bin Tsa'lab bin Ja'far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal Al Adfawi. Seorang 'ulama bermadzhab Syafi'i. Dilahirkan pada pertengahan bulan Sya'ban tahun 685 H. Wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi beliau dimuat oleh Al Hafidz di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452.
5) Dinukil dari kitab At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa'dah 1415 H / 8 April 1995 M.
6) At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 515.
7) At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 516.
8) Lihat kitab Al-Ghunyah I/83-94.
9) At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa'dah 1415H / 8 April 1995 M.


Tulisan ini dikutip dari :
http://www.assunah.or.id
http://pejalan-cahaya.blogspot.com/2007/06/siapakah-syaikh-abdul-qadir-jaelani.html

Minggu, 07 November 2010

Hikmah Bencana, Kembalilah Pada Syariah-Nya


Hikmah Bencana, Kembalilah Pada Syariah-Nya
Oleh: Ali Mustofa Akbar; Ketua Riski (Remaja Islam Ngruki)


Bencana datang silih berganti. Berupa banjir, gempa bumi, tanah longsor hingga letusan gunung berapi. Bila dipandang dari sisi geologi, Indonesia memang merupakan negara yang rawan akan bencana. Menurut data, ada Sekitar 282 kabupaten di Indonesia atau setara dengan 2/3 wilayah Indonesia masuk dalam kategori rawan bencana alam.

Negri ini dilingkupi oleh cincin api atau ring of fire yang ditandai dengan adanya rangkaian pegunungan yang membentang dari Sumatera hingga kebagian timur, yakni Nusa Tenggara Timur dan Maluku, sebuah jalur rangkaian gunung api aktif di dunia...

Secara histografi, Indonesia merupakan wilayah langganan gempa bumi dan tsunami. Negri ini dikepung oleh lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Sewaktu-waktu jika lempeng ini bergeser patah menimbulkan gempa bumi. Selanjutnya jika terjadi tumbukan antar lempeng tektonik dapat menghasilkan tsunami, sebagaimana terjadi di Aceh dan Mentawai.

Akhir-akhir ini terjadi beberapa bencana yang menimpa saudara-saudara kita. Di Wasior, banjir bandang menelan banyak korban jiwa dan menghanyutkan rumah-rumah penduduk. Diikuti dengan musibah tsunami di Mentawai. Kemudian disusul meletusnya gunung merapi di Jawa Tengah. “Wedhus gembel” mengamuk, menerjang serta memanggang beberapa wilayah di kabupaten Sleman, Boyolali dan Magelang.

Pertanyaannya, apakah semua ini hanyalah sebuah fenomena alam semata yang dikarenakan letak wilayah Indonesia yang rawan terjadi bencana? Tentu saja tidak. Semua itu adalah atas kehendak Allah (Al-Jabbar). Meskipun secara geografis menjadi wilayah rawan bencana, jika Allah tidak berkehendak, maka bencana alam takkan mungkin terjadi. Dia-lah yang menguasai langit dan bumi beserta isinya. Dzat yang mengatur atau memerintah segala makhluk ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak dan iradah-Nya.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid : 22)

Ini merupakan bukti kebesaran Allah swt dan betapa kecilnya manusia. Betapa kuasanya Allah atas segala sesuatu. Maka kita harus berusaha untuk mengambil hikmahnya. Mengevaluasi atas apa yang telah dilakukan selama ini.

Adzab, cobaan atau peringatan

Bencana yang menimpa negri muslim terbesar di dunia ini bisa berupa adzab, cobaan atau peringatan dari Allah swt. Hal ini disebabkan oleh ulah tangan-tangan manusia itu sendiri yang telah melanggar tuntunan Allah swt. Menyekutukan Allah, tidak mau sholat, tidak mau zakat, homo seksual, dll. Lebih-lebih yang merupakan kemungkaran terbesar yakni ketika negri ini mencampakkan hukum-hukum Allah swt (syariah Islam) dan memilih kukum sekuler buatan manusia.

Sebagaimana kaum-kaum yang terdahulu. Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. al-Ankabut : 40)

Musibah adalah cobaan bagi orang-orang yang beriman sekaligus penebus kesalahan yang pernah dilakukan.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (seusngguhnya kami milik Allah dan sesunnguhnya kami sedang menuju kemabali kepada-Nya) Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah : 155 -157)

Abu Hurairah r.a. berkata: "Ketika turun ayat 'man ya'mal suuan yujza bihi' (Siapa yang berbuat kesalahan akan mendapat balasannya (QS . An-Nisa: 123), kaum muslimin kelihatan dalam keadaan susah. Rasulullah Saw bersabda kepada mereka; 'Bidiklah dan dekat-dekatkan sasaran. Sesungguhnya dalam setiap musibah yang menimpa orang Islam, ada kaffarah sampai pun duri yang mengenainya dan kecelakaan yang menimpanya”. (HR. Muslim, at-Turmudzi, dan an-Nasai)

Kembali ke syariah-Nya

Semoga semua bencana ini dikarenakan Allah (Ar-Rahim) masih menyayangi kita. Ibarat orang tua yang masih menyayangi anaknya, sudah semestinya ia akan selalu memperingatkan dan memberikan teguran kepada buah hatinya yang nakal, entah dengan jeweran atau apapun itu. Semoga Allah menampuni kita, dan semoga negri ini segera sadar untuk meninggalkan hukum-hukum kufur kemudian menggantinya dengan syariah Islam secara kaffah dalam bingkai Negara khilafah, niscaya Indonesia mendapat berkah. Amin.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka menolak (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raf : 96 – 99). Wallahu a'lam bi ash-shawab.

_____________________
Ali Mustofa Akbar; Ketua Riski (Remaja Islam Ngruki); Website: mustofa.web.id; E-mail. alie_jawi@yahoo.com

Hikmah dibalik Musibah


Hikmah dibalik Musibah

Beberapa hari terakhir, tidak henti-hentinya berita tentang musibah dan bencana dalam skala besar, mulai dari banjir bah di Wasior, Gunung Merapi meletus, Gempa dan Tsunami di Mentawai dan nampaknya bencana seperti ini tidak ada henti-hentinya.

Sebagai orang yang percaya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, tetap memandang apapun gejala alam ini dengan kacamata Syari’ah. Sebab apapun yang terjadi tidak luput dari kehendak Allah SWT. Diantara hikmah yang bisa kita petik dibalik segala bencana ini antara lain...


Pertama, menjadi ujian kesabaran seorang mukmin, karena disaat musibah datang terlihat sekali sikap seorang hamba yang sebenarnya, apakah berbaik sangka atau justru sebaliknya berburuk sangka atau bahkan menyalahkan dan mencaci maki Allah SWT, Allah SWT berfirman,

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS. al Baqarah : 214).


Kedua, menjadi bukti betapa tidak berdayanya manusia dan begitu mahakuasanya Allah SWT, jangankan menangkis musibah, memprediksi kapan datangnya musibah secara valid manusia tidak sanggup.
Fir’aun menjadi sebegitu sombong dan congkaknya, dikarenakan sejak dia lahir sampai menjelang ajalnya, dia tidak pernah merasakan segala kesusahan hidup, kondisi ini lambat laun membuat Fir’aun merasakan betapa dia memang berhak berkuasa dan berlaku sombong, sampai-sampai pada akhirnya dia memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan,

“dan berkatalah Fir’aun:” Akulah Tuhan kalian yang paling tinggi.” (QS. an Nazi’at : 24).


Ketiga, musibah datang untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat seorang mukmin. Rasulullah bersabda,

“Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5641).

Keempat, musibah juga menjadi salah satu cara Allah dalam mendidik dan menegur kesilapan dan dosa hamba-Nya. Allah berfirman,

”Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun Menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. al An’am : 43).

Bahkan kepada para nabi dan rasul-Nya, Allah turunkan musibah agar mereka tidak terjebak pada sesuatu yang bisa melalaikan mereka dari cinta Allah. Nabi Yusuf Allah pisahkan dari ayahnya nabi Ya’qub. Karena dia mendapatkan cinta yang cukup besar dari bapaknya, nabi Ibrahim Allah perintahkan untuk menyembelih Ismail putra yang berpuluh-puluh tahun dinanti kehadirannya. Demikian pula Rasulullah, ditahun yang sama Allah wafatkan dua tokoh yang selama ini menjadi tulang punggung dakwah beliau. Maka di tahun wafatnya Khadijah istri beliau dan Abu Thalib sang paman disebut ‘amm alhazan (tahun duka cita). Semuanya agar rasul-Nya tak lena dengan bantuan dan cinta makhluk.
Wallahu a’lam.


SUMBER: http://kask.us/5830721

Blog Saef-Jaza Dengan Tampilan Baru!

Assalamualaikum
Alhamdulillah...
Setelah sekitar 1 jam-an lebih dari jam 8 pagi mengoprek dan mengotak-atik HTML, akhirnya blog ini sukses berganti template dengan varian JQuery, yang bermaksud agar lebih apik dilihat, namun tidak pula menambah bandwith internet anda yang mengunjungi blog ini...





Walaupun dengan widget-widget yang masih lama dan hanya sedikit penambahan, diharapkan para pengunjung semakin betah menjelajahi blog ini.

Saya hanya bisa mengucapkan Salam Terima Kasih kepada para pengunjung dan selamat menikmati artikel-artikel di blog ini, Semoga Bermanfaat!

Wassalamualaikum..
BY: ADMIN
27 November 2010