Rabu, 29 April 2009

Caleg Berjilbab yang Bangga di Partai Kristen




Caleg Berjilbab yang Bangga di Partai Kristen

"Malah saya diminta istighfar, karena dosa-dosa orang Islam yang memilih saya katanya akan saya tanggung”

"Prinsip hidup rukun." itulah jawaban Rahma Afiati (49), saat ditanya alasannya mencalonkan menjadi anggota DPRD Propinsi Jawa Timur melalui Partai Damai Sejahtera (PDS).

Keputusan Muslimah berjilbab yang maju di dapil Malang Raya (Kota, Kabupaten Malang, dan Kotatif Batu) ini memang melawan arus. Ia terlahir dan tumbuh besar di keluarga Muslim, bahkan pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah juga dijalani di lembaga pendidikan Islam.

Caleg Berjilbab yang Bangga di Partai Kristen

"Malah saya diminta istighfar, karena dosa-dosa orang Islam yang memilih saya katanya akan saya tanggung”

"Prinsip hidup rukun." itulah jawaban Rahma Afiati (49), saat ditanya alasannya mencalonkan menjadi anggota DPRD Propinsi Jawa Timur melalui Partai Damai Sejahtera (PDS).

Keputusan Muslimah berjilbab yang maju di dapil Malang Raya (Kota, Kabupaten Malang, dan Kotatif Batu) ini memang melawan arus. Ia terlahir dan tumbuh besar di keluarga Muslim, bahkan pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah juga dijalani di lembaga pendidikan Islam.

"Saya juga aktif di PMII waktu kuliah, Gusdurisme lah pokoknya," ujarnya mengawali perbincangan dengan Sabili, Kamis (1/4), di kediamannya Jl Kedung Cowek 148 yang kini bernama Jl Suramadu alias akses utama menuju jembatan yang menghubungan Pulau Jawa dan Madura ini.

Rahma menuturkan, ia memutuskan maju sebagai caleg PDS karena ditawari keponakannya yang seorang pendeta. Karena partai bergambar salib ini partai terbuka, nasionalis, pluralis, dan tidak berpihak, ia pun menerima tawaran itu.

"Saya menganggap partai hanya gerbong. Ketika gerbong sudah mengantarkan, saya akan berhenti di DPR, bukan ke partai. Saya akan bekerja untuk masyarakat, bukan untuk partai. Di DPR nanti saya tidak membahas Alkitab kan,” kilahnya.

Selain alasan prinsip, keterbatasan dana juga menjadi alasan pencalonannya itu. “Di partai lain daftar caleg harus pakai uang, sedang saya nggak punya uang. Di PDS tidak usah pakai uang,” ungkapnya.

Rahma lantas membantah anggapan bahwa yang masuk PDS adalah para misionaris. Wanita yang dikaruniai enam anak dan lima cucu ini menuturkan, “Di PDS memang ada misionaris, tapi saya kan bukan. Misi saya hanya mengentas masyarakat dari kemiskinan.”

Wanita kelahiran 13 September 1960 ini juga tak khawatir, visi dan misi partai yang didominasi warna ungu ini bertentangan dengan keyakinannya sebagai Muslim. Menurutnya, semangat yang dimiliki PDS adalah menyejahterakan masyarakat.

Soal lambang PDS yang bergambar salib? Ia memakluminya, karena pendirian PDS tak lepas dari gereja. Tapi saya jelaskan pada konstituen, salib itu sebenarnya mencerminkan garis vertikal dengan Allah dan garis horizontal dengan sesama manusia. Alumni PGA Dinoyo Malang ini juga membantah kehadirannya di PDS hanya demi kepentingan pragmatis merebut suara dari umat Islam.

“Jika partai ingin besar jangan terkungkung pada satu pandangan,” pungkasnya.

Rahma Afiati bukan satu-satunya caleg PDS yang beragama Islam dan berjilbab. Ada yang lainnya yakni, Ghurroh Muwahhidah dan Asrianty Puwantini. Keduanya maju di dapil Jatim V (Malang Raya).

Gambar mereka dalam baliho dan spanduk, cukup menjadi perhatian warga karena menyandingkan jilbabnya dengan salib.

Asrianty yang maju sebagai caleg DPR-RI ini, mengaku sering mendapat hujatan dari calon kostituennya. “Malah saya diminta istighfar, karena dosa-dosa orang Islam yang memilih saya katanya akan saya tanggung,” ungkapnya.

Meski begitu, anggota Dewan Penasihat PDS ini tidak patah arang. Wanita yang mengaku sudah mempelajari semua agama ini sudah sangat yakin dengan langkahnya ini.

Wanita kelahiran Jakarta, 7 April 1961 ini, juga membantah jika kehadirannya di PDS karena alasan pragmatis agar partai ini bisa melebarkan sayapnya di luar umat Nasrani. “PDS lebih sesuai dengan visi dan misi saya tentang pluralisme agama,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PDS Jawa Timur, Arifli Harbianto, menolak penilaian bahwa masuknya caleg Muslimah ke dalam partainya agar bisa menarik suara umat Islam.

“Tidak benar itu, karena prinsipnya adalah Undang-undang dan Pancasila. Partai kita nasionalis dan umum,” ujarnya pada Sabili di Surabaya, Rabu (1/4).

Namun dalam waktu yang sama, pria keturunan China ini mengaku, untuk mendongkrak suara partainya pada pemilu 2009 ini, strateginya adalah dengan menjadikan PDS bukan lagi partai agama.

“PDS adalah partai nasionalis dan Pancasilais, yang bernafaskan nilai-nilai agama. Lebih terbuka, untuk seluruh agama,” ujar pria kelahiran Madiun, 23 Juli 1943 itu. Karenanya, ia pun memasang caleg non-Kristen sebesar 10%.

Pria yang menjadi caleg DPR-RI Dapil I (Surabaya dan Sidoarjo) ini meminta masyarakat tak mengkhawatirkan lambang PDS. Lambang PDS yang terdiri dari Salib, diartikan sebagai garis vertikal damai antara Tuhan dan manusia, garis horisontal sebagai damai antara sesama manusia.

Merpati diartikan sebagai lawatan Allah turun ke bumi. Padi dan kapas sebagai kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh bumi. Latar ungu sebagai lambang pujian dan penyembahan.

“Salib itu lambang hablun minallah wa hablun minannas,” ujar Direktur Lions Club Surabaya itu mengutip potongan ayat al-Qur’an.

Pendapat tentang arti salib ini dibantah Ketua Tim Fakta Jawa Timur, Masyhud SM.

“Cara menafsirkan itu dari mana? Sebelum Yesus lahir, lambang salib itu sudah ada. Kemudian diadopsi oleh Kristen lewat dongeng penyaliban itu. Jadi itu adalah penafsiran yang seenak sendiri. Mereka sukanya memutarbalikkan fakta,” ujarnya geram.

Ia menilai, apa yang dilakukan PDS ini tak lain adalah tindakan penipuan terhadap umat Islam. Ia juga memprotes keras adanya caleg Muslim yang justru mencalonkan diri lewat partai itu.

“Itu berarti dia nggak tahu platform PDS. Partai Kristen ini banyak menghujat Islam lewat perjuangannya, di antaranya dengan menjegal SKB Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, juga PB Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri,” beber pria asal Waru, Sidoarjo ini.

Ia meminta umat Islam jeli terhadap dasar perjuangan PDS. Menurutnya, partai ini mengusung sebuah visi yang dianggap sebagai “amanat agung” yang harus diperjuangkan.

“Visi PDS itu adalah Matius Pasal 28 Ayat 18-20. Misalnya, ayat 19 mengatakan, ‘Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”

Masyhud menyesalkan sebagian umat Islam yang justru maju menjadi caleg PDS.

“Ini tindakan mengelabui umat Islam. Karenanya, umat Islam harus waspada dan tidak memilihnya,” tegas Masyhud. (sabili)

Asrianty Puwantini Caleg PDS Penuh Kontroversi

Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 - Asrianty Puwantini sedang melawan arus dengan mencalonkan diri menjadi anggota DPR RI lewat Partai Damai Sejahtera (PDS). Berbekal misi memperjuangkan pluralisme, wanita kelahiran Jakarta 47 tahun silam ini mantap memilih Partai Damai Sejahtera (PDS) sebagai kendaraan politik menuju Senayan. Dia beralasan, hanya PDS satu-satunya partai yang konsisten memperjuangkan pluralisme dan perlakuan nondiskrimatif terhadap kelompok minoritas.

Dia mengaku kecewa dengan segelintir umat Islam yang berusaha memaksakan kehendak menerapkan syariat Islam sebagai bagian dari produk hukum Indonesia. Menurutnya, ada banyak nilai-nilai ajaran Islam yang lebih universal yang semestinya menjadi prioritas. Setiap warga, kata Arianty, harus bisa menyadari status, hak, dan kewajibannya sebagai warga negara yang dilindungi, dijamin dan dibatasi oleh peraturan hukum yang bersumber dari Pancasila dan UUD 1945.

Asrianty yang pada Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 maju melalui dapil Jatim V mengaku sempat mendapat banyak hujatan dari calon konstituennya saat berkampanye.

"Hujatan mah sudah sering saya dapatkan. Malah saya disuruh istighfar, katanya dosa-dosa orang yang memilih ibu akan ibu tanggung," kata Asrianty. Namun demikian, berbagai hujatan yang Asrianty dapat justru tidak melemahkan anggota dewan penasihat PDS ini. Wanita yang mengaku pernah belajar semua ajaran agama ini sepertinya sudah sangat yakin dengan langkah yang ia ambil.

"Salib itu kan perlambang hablumminallah dan hablumminannas seperti di Islam. Dan salib itu juga lambang berserah diri, yang juga menjadi salah satu hakikat ajaran Islam," jelasnya. Wanita kelahiran Jakarta 7 April 1961 ini juga membantah kalau kehadirannya di PDS karena alasan pragmatis agar partai ungu ini bisa meluaskan sayapnya menarik suara di luar umat Nasrani.

"PDS lebih sesuai dengan visi dan misi saya tentang pluarisme agama," kata wanita yang mengaku mengurungkan niatnya maju dari Golkar ini. Sejak tahun 2008, jelas Asrianty, PDS sudah menjadi partai terbuka yang berlandaskan Pancasila. PDS juga memperjuangkan kerukunan, kebebasan beragama dan antidiskriminasi. Di jajaran anggota dewan pensihat pun, PDS menempatkan orang-orang dari latar belakang agama yang berbeda.

"PDS tidak padang bulu membela yang terdiskriminasi, apapun agamanya," tandasnya. (dtk)

sumber: www.swaramuslim.net dan SABILI

Obama Sihir AS Dalam Hitungan Hari



Obama Sihir AS Dalam Hitungan Hari

Bagaimanakan AS dibawah kepemimpinan Barack Obama selama 100 hari pertamanya?
Menurut beberapa pakar terkemuka politik AS, perubahan yang signifikan terjadi dalam 100 hari pertama AS didalam genggaman Obama.

Ketika pendahulunya, George W Bush, berfokus pada serbuan ke Irak, Obama malah sibuk membawa negaranya memperbaiki sistem kesehatan, dimana hal tersebut hanya sedikit disinggung selama pemerintahan Bush...




Obama Sihir AS Dalam Hitungan Hari

Bagaimanakan AS dibawah kepemimpinan Barack Obama selama 100 hari pertamanya?
Menurut beberapa pakar terkemuka politik AS, perubahan yang signifikan terjadi dalam 100 hari pertama AS didalam genggaman Obama.

Ketika pendahulunya, George W Bush, berfokus pada serbuan ke Irak, Obama malah sibuk membawa negaranya memperbaiki sistem kesehatan, dimana hal tersebut hanya sedikit disinggung selama pemerintahan Bush.

Dilihat dari penampilannya pun, keduanya tampak kontras:
Seorang pengacara Afro-Amerika dari Chicago yang keren, dan si peternak bermuka dua dari Texas.

“Seperti Mars dan Venus,” kata Thomas Mann, seorang senior kritikus politik dari DC.
“Sangat sulit menemukan persamaan diantara keduanya.”

Beberapa analis, termasuk David Rothkopf mengatakan, Obama lebih yakin terhadap gerakan aktivis pemerintahan, sementara Bush belajar mencari solusi pasar bebas.

“Pemerintahan Obama, saya kira, benar-benar menutup pintu dari pengaruh pemerintahan Reagan, yang berpikir semakin kecil administrasi maka akan semakin baik.”

Bahkan tidak sedikit kebijakan Bush harus mengalami perubahan di tangan Obama, seperti:
• Obama mengembangkan penelitian di bidang embrio, meski dengan tegas dia menyatakan menolak aborsi.
• Obama memberikan tenggat waktu bagi penarikan pasukan AS dari Irak, dan menutup “benteng” Guantanamo, dan tidak diragukan lagi keputusan tersebut mendapat tentangan keras dari pendahulunya, Bush.

Selama kunjungannya ke Turki beberapa waktu lalu, Obama menemui pendapat bahwa pemerintahan AS hanya berubah wajah, namun dengan kekejaman yang sama.

Menanggapi hal tersebut, Obama berjanji akan melakukan penarikan pasukan AS dari Irak pada 2010 mendatang yang menurutnya juga merupakan salah satu langkah mengurangi emisi bagi pemanasan global. Dia menuturkan bahwa perubahan tidak dapat terjadi dalam satu malam.

“Menggerakkan kapal pemerintahan bukanlah hal yang mudah, bukan seperti speedboat yang dapat dirubah arahnya dengan sekejap,” katanya.

Perubahan yang dilakukan Obama juga memancing kemarahan mantan wakil Presiden AS, Dick Cheney, yang menganggap Obama tidak mengikuti jalur yang diberikan Bush dalam memerangi teroris. Obama malah nampaknya menyerang balik duet Bush – Cheney dengan melakukan penyelidikan terhadap penyiksaan yang terjadi di penjara Guantanamo, dimana para tahanan menerima bentuk interogasi dengan penyiksaan fisik.

Tidak lama lalu, Cheney dan mantan sekretaris negara, Condoleezza Rice terbukti bersalah dalam andil mereka mengesahkan “memo penyiksaan”. Dan hingga saat ini Cheney belum memberikan tanggapan apaun.

Memo tersebut disahkan pada 2002, berisi izin bagi CIA untuk melakukan teknik interogasi “water-boarding” terhadap para tahanan Guantanamo yang mereka tuduh sebagai teroris.

Pengadilan AS mendakwa mereka dengan tuduhan penyiksaan dan kejahatan perang.
Sementara itu pihak-pihak yang tersangkut kasus tersebut terus bertambah, termasuk mantan Sekretaris Pertahanan AS, Donald Rumsfeld yang terbukti memberikan pelatihan kepada CIA dalam menerapkan teknik penyiksaan “water-boarding”.

“Program pemerintahan Bush yang dijalankan CIA merupakan langkah tepat untuk melindungi negara ini dari teroris,” mantan jubir Bush, Marc Thiessen membela.

Dia berpendapat keputusaan Bush di Irak tak ubahnya keputusan Obama dalam meningkatkan pasukan AS di Afghanistan. Dia juga menambahkan kedua presiden tersebut terus berupaya menghentikan nuklir Korea Utara dan Iran. “Dilihat dari sisi domestik, keduanya tidaklah berbeda.” (al/ust/ptv/smedia)

sumber: www.swaramuslim.net

Jumat, 24 April 2009

Hikmah Qadha


Hikmah Qadha
Oleh: Gilang Ramadhan



Di sebuah hari, Luqmanul Hakim mengajarkan anaknya tentang Qadha. Ia berkata, “Wahai anakku, jika ada sesuatu menimpamu, baik atau tidak, maka yakinlah itu yang terbaik.” Namun, anaknya belum mengerti kata-kata sang ayah. Diajaklah anaknya berkelana.

Setibanya di gurun pasir, perbekalan mereka habis. Keledai mereka semakin lemah. Mereka pun turun dari tunggangan lalu berjalan kaki. Selagi keduanya letih, tiba-tiba Luqman melihat bayangan hitam dan asap mengepul. Ia berkata, “Itu adalah pepohonan dan asap adalah perkampungan.”



Hikmah Qadha
Oleh: Gilang Ramadhan

Di sebuah hari, Luqmanul Hakim mengajarkan anaknya tentang Qadha. Ia berkata, “Wahai anakku, jika ada sesuatu menimpamu, baik atau tidak, maka yakinlah itu yang terbaik.” Namun, anaknya belum mengerti kata-kata sang ayah. Diajaklah anaknya berkelana.

Setibanya di gurun pasir, perbekalan mereka habis. Keledai mereka semakin lemah. Mereka pun turun dari tunggangan lalu berjalan kaki. Selagi keduanya letih, tiba-tiba Luqman melihat bayangan hitam dan asap mengepul. Ia berkata, “Itu adalah pepohonan dan asap adalah perkampungan.”

Tak disangka, anak Lukman menginjak sepotong tulang yang runcing hingga menembus telapak kakinya. Sang anak lalu pingsan. Luqman mencabut tulang tersebut dengan giginya dan membalutnya dengan kain tutup kepala yang disobeknya.

Setelah siuman, keduanya beristirahat sejenak, sampai rasa sakit berkurang. Lalu ia berkata, “Mari kita lanjutkan perjalanan! Kita hampir tiba di perkampungan.”
Namun ketika hendak melanjutkan perjalanan, datanglah seorang pemuda dengan menunggang kuda. Si pemuda berkata, “Aku Jibril, Allah mengutusku menemuimu, memberi kabar, bahwa kota yang kalian tuju adalah tempat yang dijungkir-balikkan beserta seluruh isinya. Maka Allah menahan kalian berdua dengan musibah yang menimpa anakmu. Seandainya Allah tidak menahan kalian, tentu kalian telah lumat bersama lumatnya kota yang kalian tuju.”

Sumber: SABILI edisi. 19 (9 April 2009)



Golput, Skenario Non Islam


Golput, Skenario Non Islam
Oleh: Eman Mulyatman



Untuk Pemilu 2009 ini Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) menyerukan untuk memilih wakil yang memperjuangkan Islam. Menurut ketua DDII, KH Syuhada Bahri dirinya secara pribadi mengaku memilih. Paling tidak, agar menggangu skenario kelompok non Islam.

“Sejujurnya saya akui dengan memilih, kita belum tembus untuk menegakkan syariah Islam. Kalau mau tembus mestinya sudah terjadi sejak dulu, ketika Masyumi berkuasa, mereka kan ikhlas semua,” terang KH Syuhada Bahri.
Syuhada mengungkapkan semasa M Natsir masih hidup, dirinya dipanggil. Lalu Pak Natsir bertanya, “Saya dengar saudara golput?”...




Golput, Skenario Non Islam
Oleh: Eman Mulyatman

Untuk Pemilu 2009 ini Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) menyerukan untuk memilih wakil yang memperjuangkan Islam. Menurut ketua DDII, KH Syuhada Bahri dirinya secara pribadi mengaku memilih. Paling tidak, agar menggangu skenario kelompok non Islam.

“Sejujurnya saya akui dengan memilih, kita belum tembus untuk menegakkan syariah Islam. Kalau mau tembus mestinya sudah terjadi sejak dulu, ketika Masyumi berkuasa, mereka kan ikhlas semua,” terang KH Syuhada Bahri.
Syuhada mengungkapkan semasa M Natsir masih hidup, dirinya dipanggil. Lalu Pak Natsir bertanya, “Saya dengar saudara golput?”

Syuhada menjawab,”Iya.”
Lalu Natsir melanjutkan, “Itu hak saudara, saya menghargai pilihan itu. Hanya saya memperhatikan betapa Golkar dan PDI dijadikan tangga oleh orang kristen.”

Syuhada paham, bila umat Islam tidak memilih, maka posisi umat Islam akan kembali tertindas seperti pada di zaman Orba. Waktu itu, terlalu banyak produk perundang-undangan yang sangat bertentangan dan merugikan aspirasi umat Islam.

Masih hangat dalam memori Syuhada, “Peristiwa Tanjung Priok berdarah, itu hasil dari tidak dekatnya Umat Islam dengan elit politik.”
Meski dirinya tidak memiliki data konkret, “Bau-baunya saya menduga, isu golput itu dihembuskan oleh kelompok non Islam. Kitanya golput, tapi mereka memilih. Akhirnya merekalah yang menguasai.”

Begitulah memang, perjuangan penegakkan syariat Islam di Indonesia sudah ditempuh para pendahulu kita, baik lewat jalur keras oleh Kartosuwiryo dengan Darul Islam-nya. Maupun dengan M Natsir lewat jalur parlemen.

Di atas dan di bawah atau dikuasai dan menguasai adalah faktor giliran semata. “…demikianlah hari-hari kebangkitan dan kejatuhan Kami pergilirkan diantara umat manusia agar mereka mendapat pelajaran…” (Q.S al-Imran/3 : 140)
Oleh karenanya acara golput tidaklah terulang kembali pada pemilihan presiden mendatang, agar negeri kita ini dipimpin oleh pemimpin yang memperjuangkan syariat Islam.

Sumber: SABILI no. 20/ 23 April 2009



Peristiwa Subuh


Peristiwa Subuh
Oleh: Chairul Akhmad



Kumandang panggilan Illahi di Masjid Jabalur Rahmah, Cirendeu, Tangerang Selatan itu belum usai. Waktu menunjukkan angka 04.40 WIB, sang muadzin baru saja melafadzkan “hayya alash shalah”, ketika tanggul Situ Gintung jebol tiba-tiba. Gemuruh air situ, yang tak jauh dari lokasi masjid, menghempas suara adzan dan menebar petaka di pembuka fajar. Saat itu kebanyakan warga masih asyik memagut mimpi dalam kehangatan selimut pagi. Akhirnya, oleh sebagian mereka mimpi itu dibawa menghadap Tuhan. Baik atau buruknya kembang tidur yang diketam tak lagi relevan, karena maut tak pernah permisi. Ia hadir di segala kondisi tanpa memberi kesempatan bersiap diri.....



Peristiwa Subuh
Oleh: Chairul Akhmad

Kumandang panggilan Illahi di Masjid Jabalur Rahmah, Cirendeu, Tangerang Selatan itu belum usai. Waktu menunjukkan angka 04.40 WIB, sang muadzin baru saja melafadzkan “hayya alash shalah”, ketika tanggul Situ Gintung jebol tiba-tiba. Gemuruh air situ, yang tak jauh dari lokasi masjid, menghempas suara adzan dan menebar petaka di pembuka fajar. Saat itu kebanyakan warga masih asyik memagut mimpi dalam kehangatan selimut pagi. Akhirnya, oleh sebagian mereka mimpi itu dibawa menghadap Tuhan. Baik atau buruknya kembang tidur yang diketam tak lagi relevan, karena maut tak pernah permisi. Ia hadir di segala kondisi tanpa memberi kesempatan bersiap diri.

Ketika air bah menghancurkan apapun yang menghalanginya, Sang Maha Besar menunjukkan sebuah “isyarat”. Masjid dan waktu Subuh adalah tempat dan saat ‘terindah’ untuk menemui-Nya. Namun kehangatan selimut membuat manusia kerap berpaling.

Masjid Jabalur Rahmah tetap kokoh terpancak tanah bagai tak tersentuh air. Memberi kesempatan bagi hamba yang hadir untuk bersua dengan Tuhannya. Menjadikan mereka golongan Mukmin yang beruntung karena memelihara shalatnya.

“Barangsiapa yang menunaikan shalat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah...” sabda Rasulullah Saw. (HR. Muslim, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Sayang, nikmat tidur lebih membuai manusia. Namun mereka yang berada di masjid Jabalur Rahmah saat itu, muadzin dan para warga yang telah terbangun yang akan menunaikan shalat Subuh, mereka semua diselamatkan oleh Allah.

Setelah petaka terjadi, kabar duka, bela sungkawa, juga bantuan lalu dihantarkan. Disertai lantunan doa pada Sang Pencipta. Sebentuk harap atas tragedi yang menimpa, pemenuhan “tugas” kemanusiawian terhadap sesama. Itulah cara terbijak menyikapi musibah atau bencana.

Kemudian debat tentang ‘peristiwa Subuh’ mengemuka, antara ujian dan cobaan dari-Nya. Sebagaimana kisah-kisah serupa di tempat dan waktu yang berbeda. Apapun yang orang kata, “isyarat” Subuh itu hendaknya dicerna, sebagai janji dan kemauan untuk berbenah dalam segalanya.
Semoga Allah SWT melapangkan jalan-Nya, menempatkan para korban di tempat yang layak, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta ketabahan.

Sumber: SABILI no. 20/ 23 April 2009



Sabtu, 04 April 2009

Profesor Jeffrey Lang Temukan Hidayah melalui Perantaraan Mahasiswanya

Profesor Jeffrey Lang Temukan Hidayah melalui Perantaraan Mahasiswanya




Hidayatullah.com-Perjalanan setiap orang menuju Islam beraneka ragam caranya dan punya Prof Jeffrey Langkeunikan masing-masing. Seperti Prof Jeffrey Lang, kisah keislamnnya tergolong unik dan menarik. Profesor Matematika ini mendapat hidayah melalui perantaraan mahasiswa bimbingannya di kampus University of San Fransisco, AS. Dia sempat dihadiahi sebuah mushaf Alquran yang diakuinya sebagai kitab suci yang sangat mengagumkan....


Profesor Jeffrey Lang Temukan Hidayah melalui Perantaraan Mahasiswanya

Hidayatullah.com-Perjalanan setiap orang menuju Islam beraneka ragam caranya dan punya Prof Jeffrey Langkeunikan masing-masing. Seperti Prof Jeffrey Lang, kisah keislamnnya tergolong unik dan menarik. Profesor Matematika ini mendapat hidayah melalui perantaraan mahasiswa bimbingannya di kampus University of San Fransisco, AS. Dia sempat dihadiahi sebuah mushaf Alquran yang diakuinya sebagai kitab suci yang sangat mengagumkan. Satu hari, secara tak terduga dia menemukan sebuah ruangan kecil di lantai bawah sebuah gereja dekat kampus. Rupanya ruangan itu dipakai oleh para mahasiswanya yang? Islam untuk shalat lima waktu. Nah, di ruangan kecil itu pula akhirnya dia bersyahadah. Berikut kisah lengkapnya.


Prof. Dr. Jeffrey Lang, nama lengkapnya. Sehari-hari dia bekerja sebagai dosen dan peneliti bidang Matematika di Universitas Kansas, salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat. Gelar master dan doktor matematika diraihnya dari Purdue University tahun 1981. Prof. Jeffrey dilahirkan dalam sebuah keluarga penganut paham Katolik Roma di Bridgeport, Connecticut pada 30 Januari 1954.

Pendidikan dasar hingga menengah dijalani di sekolah berlatar Katolik Roma. “Hampir 18 tahun lamanya kuhabiskan masa kecil di sekolah yang berlatar belakang ajaran Katolik.? Selama itu pula aku menyisakan banyak pertanyaan tak berjawab tentang Tuhan dan filosofi ajaran Kristen,” tutur dia.

Jeffrey, dalam catatan hariannya tentang perjalanannya mencari Islam, menulis:”Seperti kebanyakan anak-anak lain di kisaran tahun 1960-an hingga awal 1970-an kulewati masa kecil yang penuh keceriaan. Bedanya pada masa itu aku sudah mulai banyak bertanya-tanya tentang nilai-nilai kehidupan, baik itu secara politik, sosial dan keagamaan. Aku bahkan sering bertengkar dengan banyak kalangan, termasuk di dalamnya pemuka gereja Katolik.”

Beranjak remaja, di usianya yang ke-18, Prof. Jeffrey mengaku sudah jadi atheis alias tak percaya lagi adanya tuhan. “Jika Tuhan itu ada, dan Dia punya belas kasih dan sayang, lalu kenapa ada begitu banyak penderitaan di atas bumi ini? Kenapa Dia tidak masukkan saja kita semua ke dalam syurga? Kenapa juga dia menciptakan orang-orang di atas bumi ini dengan berbagai penderitaan?” kisah Jeffrey muda tentang kegelisahan hatinya kala itu. Selama bertahun-tahun pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus menggelayuti pikirannya.

Ketemu mahasiswa muslim

Akhirnya Prof. Jeffrey mendapatkan jawaban awal di kota San Francisco. Ceritanya, saat itu dia diangkat sebagai salah seorang asisten dosen di Jurusan Matematika, Universitas San Francisco. Jeffrey menemukan Tuhan itu ada dan nyata dalam kehidupan ini. Tapi bagaimana cara dia menemukannya? Ternyata petunjuk itu didapatnya dari beberapa mahasiswanya yang beragama Islam!

“Saat pertamakali memberi kuliah di Universitas San Francisco, aku ketemu dengan seorang mahasiswa muslim yang mengambil mata kuliah Matematika. Akupun langsung akrab dengan mahasiswa ini, begitu pula dengan keluarganya. Agama, saat itu belum jadi topik perbincangan kami, hingga satu ketika aku diberi hadiah sebuah kitab suci Alquran,” cerita dia.

Mahmoud Qadeel, nama mahasiswa tersebut. Dia berasal dari Arab Saudi. Mahmoud, cerita Prof Jeffrey, telah memberi banyak masukan baginya tentang hal ihwal Islam. Menariknya, semua diskusi mereka menyangkut dengan sains dan teknologi. “Aku pernah diskusi dengan Mahmoud tentang riset kedokteran dan dia menjawab dengan sempurna sekali. Bahasa Inggrisnya juga bukan main. Aku dibuat terpana oleh Mahmoud, yang di negaranya adalah seorang mayor polisi,” lanjut Prof. Jeffrey kagum.

Hadiah Alquran

Satu ketika, berlangsung acara perpisahan. Semua dosen dan mahasiswa turut hadir dalam acara yang diadakan di sebuah tempat di luar kampus itu.”Aku benar-benar terkejut saat Mahmoud memberiku hadiah sebuah mushaf Alquran. Mahmoud juga menghadiahiku beberapa buku Islam,” kata Prof. Jeffrey.

Atas inisiatifnya sendiri, dia pun mempelajari isi Alquran itu. Bahkan buku-buku Islam tersebut dibacanya hingga tuntas. Dia mengaku kagum dengan Alquran.? Dua juz pertama dari Alquran yang sempat dipelajarinya telah membuat dia bagai terhipnotis.

“Tiap malam muncul beraneka macam pertanyaan dalam diriku. Tapi entah kenapa jawabannya segera kutemukan esok harinya. Seakan ada yang membaca pikiranku dan menuliskannya di setiap baris Alquran. Aku seakan menemukan diriku di tiap halaman Alquran…,” tukas Jeffrey lagi.

Bersyahadah di mushallah kampus

“Sekitar tahun 80-an belum banyak pelajar muslim yang studi di Universitas San Francisco. Waktu itu bisa jumpa dengan mahasiswa Islam sangat surprise,” aku Prof. Jeffrey.

Ada cerita menarik tatkala dia sedang menelusuri kampus, secara tak terduga aku menemukan sebuah ruangan kecil di lantai bawah sebuah gereja. “Rupanya ruang itu dipakai oleh beberapa mahasiswa Islam untuk shalat lima waktu,” lanjut dia lagi.

Kepalanya dipenuhi tanda tanya dan rasa ingin tahunya membuncah. Dia pun bersegera masuk ke tempat shalat tersebut.? Waktu itu pas masuk waktu shalat zuhur dan dia pun diajak untuk ikut shalat oleh para mahasiswanya. Dia berdiri persis di belakang salah seorang mahasiswa dan mengikuti setiap gerakannya. Air matanya terlihat menetes.

“Kami berdiskusi tentang masalah agama. Aku utarakan semua bertanyaan yang selama ini tersimpan dalam kepalaku. Dan, sungguh luar biasa, aku benar-benar terkejut sekali dengan cara mereka menjelaskan. Masuk akal dan mudah dicerna. Ternyata jawabannya ada dalam ajaran Islam,” tutur dia. “Tahu tidak, setelah keluar dari mushallah itu, aku telah mengucapkan dua kalimah syahadah!,” tutur Prof Jeffrey.

Kenapa kita shalat, Ayah?

Prof? Jeffrey secara rutin menunaikan shalat lima waktu dan merasakan ketentraman jiwa luar biasa. Shalat subuh, seperti diakuinya, adalah salah satu ritual yang sangat indah dalam Islam dan dia merasakan kesan mendalam dari shalat subuh.

Satu hari Jeffrey ditanya oleh Jameelah, anak perempuannya yang kala itu berumur delapan tahun, selepas dia shalat Zuhur. “Ayah, kenapa kita harus shalat?,” tanya anaknya polos.

“Aku terhenyak dengan pertanyaannya. Aku benar-benar tidak mengira seorang anak berumur delapan tahun akan bertanya seperti itu. Ingin kuceritakan padanya bagaimana kelebihan dan kenikmatan shalat. Tapi apa dia bisa mengerti? Akhirnya? kujawab bahwa kita shalat karena itu perintah Allah,” tukas sang professor.

“Tapi ayah, apa yang bisa kita peroleh dengan shalat?,” tanya sang anak lagi masih penasaran.”Anakku, hal ini masih sulit untuk kamu pahami. Satu hari nanti, jika kamu sudah istiqamah dengan shalat lima waktu, ayah yakin kamu pasti akan dapatkan jawabannya,” pungkas Prof Jeffrey bijak.

“Apakah shalat bisa bikin kita bahagia ayah?.” lanjut Jameelah kecil.

“Sayangku, shalat adalah salah satu obat penenang jiwa. Sekali kita bersentuhan dengan kasih sayang Allah di dalam shalat, maka itulah kenikmatan yang luar biasa. Satu waktu, selepas lelah sehabis kerja, ayah merasakan semua rasa lelah itu hilang saat mengerjakan shalat,” imbuhnya lagi meyakinkan sang anak.

Itulah kisah sang profesor yang juga meraih karir bagus di bidang matematika. Dia mengaku sangat terinspirasi dengan matematika. “Matematika itu logis dan berisi fakta-fakta berupa data real untuk mendapatkan jawaban konkret,” tutur dia.

“Dengan cara seperti itulah aku bekerja. Adakalanya aku frustrasi ketika ingin mencari sesuatu tapi tidak mendapat jawaban yang konkret. Islam, bagiku, semuanya rasional, masuk akal dan mudah dicerna,” tukasnya.

Prof Jeffrey saat ini ditunjuk oleh fakultasnya sebagai pembina organisasi Asosiasi Mahasiswa Islam guna menjembatani para pelajar muslim dengan universitas. Tak hanya itu, dia bahkan ditunjuk untuk memberikan mata kuliah agama Islam oleh pihak rektorat.

Prof Jefrey menikah dengan seorang perempuan Arab Saudi bernama Raika tahun 1994. Mereka dikaruniai tiga buah hati yakni Jameelah, Sarah dan Fattin. Jeffrey juga penulis buku yang handal. Selain ratusan artikel ilmiah bidang matematika, dia juga telah menulis beberapa buku Islam yang menjadi rujukan komunitas muslim Amerika. “Even Angels ask; A Journey to Islam in America” adalah salah satu buku best sellernya. Dalam buku itu dia menulis kisah perjalanan spiritualnya hingga memeluk Islam. [Zulkarnain Jalil/irg/www.hidayatullah.com]

Stephen Schwartz, Jurnalis Amerika yang Bersyahadat di Bosnia

Stephen Schwartz, Jurnalis Amerika yang Bersyahadat di Bosnia


Stephen Schwartz lahir di Columbus, Ohio tahun 1948. Lebih dari separuh hidupnya dihabiskan dengan berkarir sebagaiStephen Schwartz wartawan dan penulis.? Stephen kenal Islam dan bersyahadah ketika bertugas sebagai reporter di Bosnia. Setelah memeluk Islam, mantan wartawan senior San Francisco Chronicle ini kerap mengkritik pemerintahan Bush yang sering mengidentikkan teroris dengan Islam. Artikel-artikel kontroversialnya muncul di sejumlah koran ternama seperti The New York Times, The Wall Street Journal, The Los Angeles Times, dan The Toronto Globe and Mail....


Stephen Schwartz, Jurnalis Amerika yang Bersyahadat di Bosnia

Pria yang lahir di Columbus, Ohio ini dikenal sebagai wartawan dan kerap mengkritik Bush. Kini ia menjalani Islam dan rajin shalat


Hidayatullah.com– Stephen Schwartz lahir di Columbus, Ohio tahun 1948. Lebih dari separuh hidupnya dihabiskan dengan berkarir sebagaiStephen Schwartz wartawan dan penulis.? Stephen kenal Islam dan bersyahadah ketika bertugas sebagai reporter di Bosnia. Setelah memeluk Islam, mantan wartawan senior San Francisco Chronicle ini kerap mengkritik pemerintahan Bush yang sering mengidentikkan teroris dengan Islam. Artikel-artikel kontroversialnya muncul di sejumlah koran ternama seperti The New York Times, The Wall Street Journal, The Los Angeles Times, dan The Toronto Globe and Mail. Stephen juga kontributor tetap untuk The Weekly Standard, The New York Post dan Reforma di Mexico City. Berikut kisah pria yang mengaku tertarik dengan kehidupan sufi dalam Islam dan ketika di Bosnia aktif mengikuti kegiatan tarekat Naqshabandiah. Inilah beritanya.


Stephen Schwartz memeluk Islam di Bosnia pada 1997 atau di usianya yang ke-49. Sebelumnya, lebih dari 30 tahun lamanya, dia melakukan studi dan menimba berbagai pengalaman hidup serta mempelajari sejarah beberapa agama samawi. Bagaimana ceritanya hingga dia terkesan dengan agama Islam?

“Aku tertarik dengan Islam sejak tahun 1990 saat berkunjung ke Bosnia untuk melakukan studi tentang sejarah Yahudi di Balkan. Aku butuh data itu untuk mengisi kolom rutin di jurnal Jewish Forward. Nah dalam penelitian itu, aku sempat menjalin kontak dengan tokoh-tokoh Islam Balkan,” kisah Stephen.

Jika menilik sejarah hidupnya, dia mengaku berasal dari keluarga “agamis”. “Aku dibesarkan dalam lingkungan yang benar-benar ekstrem bagi kebanyakan orang Amerika. Ayahku seorang Yahudi yang taat. Sementara ibuku adalah anak dari seorang tokoh kelompok Protestan fundamentalis. Dia sangat paham dengan Bibel, juga Kitab Perjanjian Lama dan Baru,” kata pria yang menambah Suleiman Ahmad di depan namanya selepas memeluk Islam.

Stephen sendiri mengaku, pertama kali bersentuhan dengan agama adalah tatkala ikut kegiatan gereja Katolik. Walau saat itu belum memutuskan ikut ajaran itu, dia? sempat tertarik dengan sejumlah literatur tentang kebatinan dalam ajaran Katolik. Keingintahuannya membuat dia melakukan sejumlah studi dan riset mendalam hingga ke negeri matador Spanyol.

Riset di Spanyol

Di awal penelitiannya, Stephen mengamati bahwa di balik kejayaan Katolik Spanyol ternyata terdapat pengaruh kuat sejarah Islam kala berkuasa di Spanyol. Dia mengaku takjub dan terinspirasi dengan agama Islam yang masih bertahan dalam sejumlah tradisi di sana.

“Sebagai seorang penulis, aku meneliti fenomena ini selama bertahun-tahun. Mula-mula kupelajari sejarah itu melalui aneka karya sastra masa lampau yang menunjukkan pengaruh Islam di kawasan Iberia itu,” ungkap dia.

Awal 1979, dia mulai mempelajari Kabbalah, sebuah tradisi mistik bangsa Yahudi. “Nah, menariknya di dalam Kabbalah itu juga kudapati adanya pengaruh Islam,” ujar Stephen yang meneliti tentang Kabbalah selama hampir 20 tahun lamanya.

Kenal Islam di Bosnia

Selama meneliti Kabbalah, dia sempat melakukan perjalanan ke Bosnia dalam kapasitasnya sebagai seorang reporter. “Tahun 1990 untuk pertama kalinya aku bersentuhan secara langsung dengan Islam di Bosnia dan untuk pertama kalinya pula aku mengunjungi sebuah mesjid di ibukota Sarajevo,” kata dia.

“Perlahan, aku melihat Islamlah yang mampu menawarkan jalan “terdekat” untuk mendapatkan kasih sayang Allah,” ujar pria yang juga aktif mengikuti tarekat Naqshabandiah kala di Bosnia. Dia bertemu dengan Syekh Hisham, seorang guru tarekat Naqshabandi di sana. Hatinya benar-benar terkesan hingga dalam hitungan minggu diapun bersyahadah di negeri Balkan itu. “Aku bangga jadi orang Islam,” aku dia.

Di Sarajevo, Stephen menemukan banyak hal yang mengesankan hatinya. “Kutemukan sebuah pos terdepan Islam di Eropa, saat mana aku tidak merasa sebagai seorang asing di sana. Saat mana aku secara gampang bisa berjumpa dan bergaul langsung dengan orang-orang Islam yang begitu ramah, demikian pula kalangan terdidiknya. Aku menemukan puisi dan gubahan musik yang begitu indah, yang mengekspresikan nilai-nilai keagungan dan kedamaian dalam Islam,” ungkap dia dipenuhi rasa kagum.

“Aku telah temukan sebuah “taman tua” yang indah,” ujar Stephen mengutip salah satu bait lagu Bosnia yang sangat terkenal yang berkisah tentang masa jaya Kekhalifahan Usmani di Balkan dan kontribusinya terhadap budaya Islam.

Stephen juga membaca beberapa bagian dari Alquran dan mengunjungi monumen-monumen Islam selama kunjungannya di Balkan.

“Aku layaknya kembali ke taman itu dan akhirnya masuk ke dalamnya,” ujar dia memberi ibarat. Ya, akhirnya dia memang memutuskan masuk Islam kala di Bosnia.

Takut timbul konflik

Sejak menerima Islam, Stephen sangat berhati-hati sekali dalam mengirim informasi keislamannya, baik itu kepada keluarga, teman-temannya hingga para tetangga dekatnya.

“Aku tidak mau sembarangan memberikan info ini, takut nanti timbul konflik dan kontroversi.. Aku juga tidak mau pengalaman ini dilihat atau dicap sebagai sesuatu yang bodoh atau picik. Ini bukan menyangkut diriku pribadi, tapi ini berkaitan dengan Allah. Aku ingin proses keislaman ini berada di jalan yang wajar. Hal ini semata-mata untuk kebaikan umat Islam dan juga bagi terbentuknya hubungan persaudaraan Islam di dalam ikatan kalimat la ilaha illallah,” tukas dia.

“Aku amati, adakalanya kalangan nonmuslim melihatku sebagai seorang muallaf baru yang terpengaruh oleh kehidupan di Balkan. Tapi aku segera meluruskan pendapat ini seraya menyebutkan bahwa aku suka Islam bukan karena terlibat politik atau alasan kemanusiaan,? tapi murni semata-mata karena pesan indah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah,” kata dia lagi.

Damai dalam Islam

“Seperti telah kusebutkan di awal, aku menemukan bahwa hal-hal positif dalam agama samawi Yahudi dan Nasrani. Nilai-nilai positif itu terefleksikan dalam ajaran Islam.? Jadi, Islam datang menyempurnakan agama terdahulu,” kata Stephen.

“Aku sangat yakin, tanpa adanya toleransi orang-orang Arab Spanyol dulu, terutama di saat Kekhalifahan Usmani masih berjaya, maka bangsa Yahudi telah lama hilang dari permukaan bumi ini. Halnya agama Yahudi hari ini, sangatlah jauh berbeda dengan ajaran mereka saat masih hidup berdampingan dengan orang-orang Islam dahulu,” tegas Stephen.

“Setelah memeluk Islam, hal yang sangat berkesan bagiku adalah adanya kedamaian hati disertai kehadiran Allah di dalam setiap hal. Muncul perasaan lembut, sopan santun, sederhana dan rasa ikhlas. Hidupku jadi mudah. Bahkan di saat aku ada masalah atau ujian dalam hidup ini,” tutur Stephen yang sangat yakin jika nilai-nilai Islam itu akan mampu menyelesaikan aneka permasalahan di Amerika, terutama perkara krisis moral.

Kritik Bush

Begitulah. Saat ini Stephen Schwartz dipercaya sebagai Direktur Eksekutif Center for Islamic Pluralism yang didirikan pada 25 Maret 2005 dan berpusat di Washington DC. Dia juga penulis buku best seller The Two Faces of Islam: Saudi Fundamentalism and Its Role In Terrorism.

Buku itu telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Dalam buku tersebut dia mengungkapkan rasa tak setujunya dengan cap Islam teroris dan mengkritik secara terbuka pemerintahan Bush yang selalu mengidentikkan teroris dengan Arab. Akibat kritik tajamnya itu Stephen pun lantas dipecat dari posisinya sebagai penulis berita di media bergengsi Voice of America.

Begitupun, dalam beberapa hal, Stephen mengaku sangat sedih kala melihat konflik di Timur Tengah. “Aku sering memimpikan adanya kedamaian dan persahabatan antara Israel dan Arab. Persis sepertimana di saat orang Yahudi bisa hidup damai di masa kepemimpinan orang Islam,” kata pria yang dikala mudanya pernah terlibat dalam kelompok radikal sayap kiri itu. [Zulkarnain Jalil/www.hidayatullah.com]

Luna Cohen, Yahudi Maroko Menemukan Kebenaran Islam

Luna Cohen, Yahudi Maroko Menemukan Kebenaran Islam



Luna Cohen, lahir di kota Tetouan, Maroko dari keluarga Yahudi. Pada usia 16 tahun, ia sudah meninggalkan rumah rumah keluarga di Maroko untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah khusus perempuan Bet Yaakov di Washington Heights, Manhattan, Amerika Serikat. Bet Yaakov adalah sebuah sekolah Yahudi Ortodoks yang dikenal rasis.



Luna Cohen, Yahudi Maroko Menemukan Kebenaran Islam

Luna Cohen, lahir di kota Tetouan, Maroko dari keluarga Yahudi. Pada usia 16 tahun, ia sudah meninggalkan rumah rumah keluarga di Maroko untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah khusus perempuan Bet Yaakov di Washington Heights, Manhattan, Amerika Serikat. Bet Yaakov adalah sebuah sekolah Yahudi Ortodoks yang dikenal rasis.

Usia 18 tahun ia memutuskan menikah lelaki yang sampai saat ini menjadi suaminya. Sejak menikah, Luna dan suaminya sampai tiga kali berpindah tempat tinggal di apartemen yang ada di Brooklyn, New York karena ia dan suaminya merasa tidak pernah bahagia tinggal di lingkungan masyarakat Yahudi di tempat tinggalnya. Pasangan suami isteri itu kemudian memutuskan untuk membangun masa depan di Israel. Luna beserta suami yang ketika itu sudah dikaruniai empat anak, akhirnya pindah ke Israel.

Ketika tiba di Israel, Luna dan keluarganya tinggal pemukiman Yahudi, Gush Qatif di wilayah Jalur Gaza. Luna mengaku menjalani masa-masa yang berat karena melihat “cara hidup” orang-orang Yahudi di tempat tinggalnya itu dan meminta pada suaminya agar mereka pindah saja ke Netivot, yang terletak sekitar 23 kilometer ke arah utara di wilayah pendudukan Israel di Palestina.

Di tempat itu, Luna lagi-lagi menyaksikan kehidupan masyarakat Yahudi Israel yang disebutnya tidak berpendidikan. “Mungkin cuma satu dari sejuta anak yang berperilaku baik,” kata Luna. Ia menyaksikan bagaimana orang-orang Yahudi di Netivot, sama seperti di pemukiman Yahudi Gush Qatif, membenci orang-orang yang bukan Yahudi yaitu orang-orang Arab Palestina.

“Kami melihat tindakan mereka sebagai tindakan mereka yang buruk dan mau menang sendiri. Pada titik ini, saya dan suami tidak sepakat dengan sikap orang-orang Yahudi itu,” ujar Luna.

Hingga suatu hari suami Luna yang juga Yahudi tapi sekuler, pulang ke rumah dan mengatakan bahwa baru saja membaca al-Quran dan memutuskan untuk masuk Islam. Luna tidak tahu, bahwa suaminya selama ini banyak mempelajari Islam lewat dialog yang dilakukannya dengan seorang Muslim asal Uni Emirat Arab yang dijumpainya saat masih tinggal di pemukiman Gush Qatif. Selama dua tahun suami Luna dan kenalan Muslimnya itu berdiskusi tentang Yudaisme dan Islam.

Mendengar pernyataan suaminya ingin masuk Islam, Luna mengaku sangat-sangat syok. “Karena dalam Yudaisme, kami selalu diajarkan untuk membenci agama lain,” kata Luna yang sebenarnya mempertanyakan ajaran yang dinilainya “mau menang sendiri” itu.

Tapi sang suami cukup bijak dan mengatakan bahwa Luna boleh tetap memeluk agama Yahudi jika tidak mau masuk Islam, karena dalam Islam, seorang lelaki Muslim boleh menikah dengan perempuan ahli kitab. Suami Luna pun masuk Islam dan memakai nama Islam Yousef al-Khattab.

Dua minggu setelah suaminya masuk Islam, Luna tertarik untuk membaca al-Quran dan ketika ia membacanya, Luna merasa semua pertanyaan yang mengganjal di kepalanya terjawab semua dalam al-Quran. Luna lalu menyusul suaminya mengucapkan dua kalimah syahadat dan menjadi seorang Muslimah. Luna memilih nama Qamar sebagai nama Islamnya.

Karena situasi yang tidak memungkinan buat mereka untuk tinggal lebih lama wilayah Israel, keluarga mualaf itu lalu memutuskan pindah ke Maroko, negara asal Luna pada tahun 2006. Sampai saat ini, pasangan Yousef dan Qamar al-Khattab hidup bahagia di tengah saudara-saudara Muslim Maroko dan menemukan kehidupan sejati setelah menemukan kebenaran dalam jalan Islam. (ln/jewsforAllah) [eramuslim]

Tiga Nasehat

Tiga Nasehat

Pada suatu hari ada seseorang yang menangkap burung. Burung itu berkata kepadanya, “Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku, nanti kuberi kau tiga nasehat.”

Si burung berjanji akan memberikan nasehat pertama ketika masih berada dalam genggaman orang itu, yang kedua akan diberikannya ketika ia sudah berada di cabang pohon, dan yang ketiga ketika ia sudah mencapai puncak bukit.
Orang itu setuju, dan meminta nasehat pertama.
Kata burung itu,

Tiga Nasehat

Pada suatu hari ada seseorang yang menangkap burung. Burung itu berkata kepadanya, “Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku, nanti kuberi kau tiga nasehat.”

Si burung berjanji akan memberikan nasehat pertama ketika masih berada dalam genggaman orang itu, yang kedua akan diberikannya ketika ia sudah berada di cabang pohon, dan yang ketiga ketika ia sudah mencapai puncak bukit.
Orang itu setuju, dan meminta nasehat pertama.
Kata burung itu,

“Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun kau menghargainya seperti hidupmu sendiri, jangan menyesalinya.”
Orang itupun melepaskannya, dan burung itu sudah berada di cabang pohon,
Disampaikannya nasehat kedua,

“Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti.”
Kemudian burung itu terbang ke puncak bukit,
Dari sana ia berkata,

“Oh manusia malang! diriku terdapat dua permata besar, kalau saja tadi kau membunuhku, kau akan memperolehnya!”

Orang itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya, namun kata orang itu, “Setidaknya, katakan padaku nasehat yang ketiga itu!”
Si burung menjawab,

“Alangkah bodohnya kau, meminta nasehat ketiga sedangkan yang kedua pun belum kau renungkan sama sekali! Sudah kukatakan padamu agar jangan kecewa kalau kehilangan, dan jangan mempercayai hal-hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau malah melakukan keduanya. Kau menyesali kehilanganmu dan mempercayai pada hal yang tak masuk akal. Aku tidak mungkin cukup besar untuk bisa menyimpan dua permata besar!.”

Kau bodoh. Oleh karenanya kau harus tetap berada dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia.

sumber: buku kisah sufi (karya: Idries Shah)

HIKMAH
Kita seharusnya mencerna dahulu nasehat yang baru kita terima, dan kita tidaknya melaksanakan segala sesuatu dengan hawa nafsu, seperti orang tadi, yang terlebih dahulu nafsu untuk mendapatkan permata, dan ia belum sempat merenungkan nasehat yang ia terima dari si burung.


Rabu, 01 April 2009

Mencaci dan Mencela

Mencaci dan Mencela

Mencerca, mencela, dan menggosip orang lain jelas perbuatan tak terpuji, tapi mengapa orang masih suka melakukannya? Simaklah omongan sebagian orang bila lepas kesibukan, tak jarang mereka saling membicarakan keburukan orang lain, bak kata pepatah ''Kuman di seberang lautan kelihatan, tapi gajah di pelupuk mata sendiri tak ketahuan.''

Mencaci dan Mencela

Mencerca, mencela, dan menggosip orang lain jelas perbuatan tak terpuji, tapi mengapa orang masih suka melakukannya? Simaklah omongan sebagian orang bila lepas kesibukan, tak jarang mereka saling membicarakan keburukan orang lain, bak kata pepatah ''Kuman di seberang lautan kelihatan, tapi gajah di pelupuk mata sendiri tak ketahuan.''

Agaknya, membicarakan aib orang lain ini sudah menjadi kecenderungan manusia dari dulu hingga sekarang. Itu sebabnya Allah memperingatkan para pencerca dan tukang gosip itu hingga beberapa kali dalam Alquran (lihat Q.S. 3:111; 5:54; 9:74,79; 12:31,92; 49:11; dan 68:11,30). Allah berfirman, ''Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencerca.'' (Q.S: 104:1).

Rasulullah dalam sebuah hadis populer melukiskan dalam bentuk metafor: Orang Islam yang suka mencerca itu ibarat memakan daging saudaranya sendiri. Dalam riwayat lain, Nabi bersabda bahwa seorang muslim adalah yang menyelamatkan sesama muslim dari lidah dan tangannya.

Di zaman Nabi, pernah ada sekelompok orang yang digerakkan kaum munafik sempat mencerca sahabat Rasul. Baginda Rasulullah lantas bersabda, ''Jangan Anda cerca para sahabatku. Seandainya Anda belanjakan harta sebesar gunung Uhud, niscaya amal Anda tak akan dapat mengalahkan para sahabatku.'' Kemudian dalam kesempatan lain beliau berpesan, ''Jika ada yang mencerca sahabatku katakanlah: laknat Allah atas kejahatanmu.''

Pangkal gosip dan cerca adalah lidah. Diriwayatkan bahwa Lukman al-Hakim, seorang arif yang termasyhur itu pernah disuruh majikannya membeli daging yang baik untuk menjamu para tamu yang bertandang. Lukman membeli hati dan lidah. Sang majikan marah, lalu bertanya, mengapa Lukman membeli hati dan lidah.

''Tidakkah ini daging yang baik seperti Tuan pesan. Hati merupakan sumber amal perbuatan yang baik, sedang lidah dapat menjalin persaudaraan. Dari keduanya orang dapat membangun kebajikan,'' jawab Lukman.

Pada saat yang lain majikan memerintah Lukman membeli daging yang busuk, untuk diketahui, kiranya jenis daging apa yang akan dibeli Lukman. Ia pulang dari pasar membawa hati dan lidah. Tersentaklah majikan tersebut dan bertanya kenapa gerangan Lukman membeli daging yang sama, padahal disuruh membeli yang paling busuk.

''Benar Tuanku, ini daging terbusuk. Hati adalah daging yang paling baik dan sekaligus juga paling busuk. Ia sumber kedengkian dan rasa congkak. Lidah merupakan 'alat' untuk melaknat, mencerca, dan mencaci orang lain.''

Lidah merupakan cerminan gejolak hati. Bila hati bersih, lidah niscaya tidak akan bertutur kecuali yang baik. Sebaliknya bila hati 'tercemar', maka lidah akan mudah berkata-kata yang buruk.

Dan di dalam di surat Al-Qari'ah pencela akan dimasukkan ke neraka Hutamah. Neraka yang disediakan khusus untuk orang yang suka mencela!

sumber: www.republika.co.id

Hukum Islam berlaku di AS

Hukum Islam berlaku di AS

WASHINGTON--Seiring berkembangnya jumlah pemeluk Islam di Amerika Serikat (AS), pengaruh dan penerapan hukum Islam atau syariat dalam kehidupan di negeri Paman Sam juga meningkat.

"Hukum syariat adalah kewajiban seluruh umat Muslim,'' ungkap Abdullahi an-Na'im, seorang guru besar hukum pada Emory University di Atlanta, seperti diberitakan Fox News, Senin (30/3). Menurut dia, syariat yang dipegang teguh umat Islam juga dimiliki umat agama lain. Pemeluk Yahudi memiliki Hukum Talmudic dan Katholik memiliki Canon Law.

Hukum Islam berlaku di AS

WASHINGTON--Seiring berkembangnya jumlah pemeluk Islam di Amerika Serikat (AS), pengaruh dan penerapan hukum Islam atau syariat dalam kehidupan di negeri Paman Sam juga meningkat.

"Hukum syariat adalah kewajiban seluruh umat Muslim,'' ungkap Abdullahi an-Na'im, seorang guru besar hukum pada Emory University di Atlanta, seperti diberitakan Fox News, Senin (30/3). Menurut dia, syariat yang dipegang teguh umat Islam juga dimiliki umat agama lain. Pemeluk Yahudi memiliki Hukum Talmudic dan Katholik memiliki Canon Law.

Menurut an-Na'im, hukum Islam merupakan aturan berperilaku dan bertindak bagi seluruh kaum Muslim. An-Na'im menuturkan, penerapan hukum Islam yang dilakukan setiap umat Muslim di AS dalam kehidupan sehari-hari bukanlah ancaman bagi Amerika. Kekhawatiran itu sempat dilontarkan Frank Gaffney, pendiri dan presiden Center for Security Policy--sebuah tangki pemikir di Washington.

Gaffney sempat memprediksi AS akan menghadapi masalah yang seperti dihadapi negara-negara Eropa. Kata dia, di Eropa nilai-nilai agama yang dianut Muslim imigran kerapkali berbenturan dengan budaya asli yang sekuler. Namun, kekhawatiran itu ditepis Prof an-Na'im. Menurut an-Na'im, hal seperti itu tak akan terjadi di negeri adidaya.

"Sekulerisme masyarakat Amerika yang beragama terbukti lebih menerima peran publik untuk beragama. Selain itu, terbukti pula Amerika lebih kondusif bagi Muslim. Sebagai warga negara, umat Muslim merasa nyaman hidup dengan nilai-nilai agama dan kewarganegaraannya dibandingkan negara-negara Eropa,'' papar an-Na'im.

Sebagai Muslim, kata dia, setiap umat Islam di AS perlu memegang teguh syariat dalam kehidupan sehari-hari. ''Namun, sebagai warga negara, saya adalah warga negara Amerika Serikat,'' kata an-Na'im menegaskan. ''Saya berutang kesetiaan kepada Amerika dan konstitusi negara ini.'' Menurut dia, menjalankan nilai-nila agama dalam perilaku diri tak bertentangan dengan konstitusi dan kesetiaan terhadap Amerika.

Perlahan namun pasti, penerapan syariat mulai berkembang di negeri Paman Sam. Pada 2006 lalu, sopir taksi Muslim telah mulai menolak penumpang yang membawa minuman keras. Seperti, diberitakan Fox News, tahun lalu, Tyson Foods, sebuah pabrik in Shelbyville, Tennessee, mengganti hari libur buruh dengan libur Idul Fitri bagi pekerja Muslim yang kebanyakan adalah imigran asal Somalia.

Tahun 2007, University of Michigan membangun tempat wudhu bagi para mahasiswa Muslim.

Sacramento News juga melaporkan, dengan menerapkan hukum syariat, umat Muslim di negara itu terhindar dari resesi ekonomi. Menurut Sacramento News, Muslim AS tak menjadi korban krisis global karena menghindari segala bentuk riba.

"Jika semua orang menerapkan syariat, tak akan ada resesi,'' tutur Farouk Fakira, seorang imigran asal Yaman yang menjadi moderator sebuah diskusi keuangan Islam di Masjid Annur, Sacramento, akhir pekan lalu.

Fakira (57), seperti Muslim lokal lainnya menyewa sebuah rumah. Ia berupaya untuk menghindari 'bunga' yang hukumnya haram. Menurut Imam Muhammed Abdul Azeez, pemimpin Sacramento Area League of Associated Muslims (SALAM), syariat telah diperkenalkan sejak 1.400 tahun lalu oleh Rasulullah SAW.

Sekitar 20 persen dari 50 ribu Muslim di Sacramento telah menerapkan ekonomi syariah yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

sumber: www.republika.co.id