BAB V
MUNAKAHAT
(PERKAWINAN)
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator
5. Memahami hukum-hukum Islam tentang hukum keluarga.
5.1 Menjelaskan ketentuan hukum perkawinan dalam Islam.
◊ Menjelaskan ketentuan hukum Islam tentang nikah.
◊ Menjelaskan ketentuan hukum Islam tentang talak.
◊ Menjelaskan ketentuan hukum Islam tentang rujuk.
5.2 Menjelaskan hikmah perkawinan
◊ Menjelaskan hikmah nikah.
◊ Menjelaskan hikmah talak.
◊ Menjelaskan hikmah rujuk.
5.3 Menjelaskan ketentuan perkawinan menurut perundang-undangan di Indonesia
◊ Menjelaskan ketentuan perkawinan menurut perundang-undangan tentang perkawinan di Indonesia
◊ Menjelaskan tentang sahnya perkawinan menurut perundang-undangan tentang perkawinan di Indonesia
A. Pengertian Munakahat (Perkawinan)
Munakahat merupakan bagian dari hukum Islam yang mengatur pernikahan, menetapkan syarat-syarat dan rukun nikah dan menyebutkan kewajiban yang perlu ditaati oleh suami maupun istri untuk membentuk suatu keluarga yang bahagia.
Secara etimologi (bahasa) nikah artinya berkumpul, bergaul atau bercampur menjadi satu yang biasa disebut kawin. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “nikah” berarti (1) perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri (dengan resmi); (2) perkawinan.
Prof. Quraisy Syihab mengatakan bahwa : al-Quran menggunakan kata ini (nikah) untuk makna tersebut, disamping secara majazi diartikannya dengan “hubungan seks”. Kata ini dalam berbagai bentuknya ditemukan 23 kali.
Secara terminologi (istilah) nikah adalah suatu akad (ikatan perjanjian) yang disertai dengan ijab qabul dan menyebabkan halalnya pergaulan seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami istri serta timbulnya hak dan kewajiban bagi keduanya.
Banyaknya ayat-ayat atau hadis, yang membicarakan tentang pernikahan, menunjukkan bahwa pernikahan sangat penting dan sakral, kudus dan suci. Dan keturunan yang lahir dari pernikahan itu, juga suci. Dengan adanya pernikahan yang diatur oleh agama maka menjadi jelaslah perbedaan antara manusia dengan hewan.
B. Hukum Nikah
Untuk mencapai keluarga sejahtera yang dikenal dengan, “keluarga sakinah” bukanlah merupakan suatu perkara yang mudah, karena itu agama memberi tuntunan dan menetapkan hukum nikah kedalam lima bagian yaitu :
1. Jaiz atau mubah, artinya boleh, maksudnya seseorang boleh menikah dan boleh tidak menikah, ini merupakan hukum asal nikah.
2. Sunah, yaitu bagi seorang laki-laki yang berkemampuan untuk menikah dan telah sanggup memberi nafkah lahir batin serta dapat menjaga diri, sekalipun tidak segera menikah.
3. Wajib, artinya bagi seorang laki-laki yang mampu memberi nafkah lahir batin, berkeinginan untuk nikah dan takut tergoda atau terjerumus kepada perbuatan maksiat (zina) seandainya tidak segera menikah.
4. Makruh, yaitu bagi orang yang berkeinginan tetapi belum mampu memberi nafkah (belanja) lahir batin atau mengganggu pihak perempuan dalam melakukan kewajiban (menuntut ilmu).
5. Haram, Bagi orang yang berminat menyakiti wanita yang dinikahinya dan untuk balas dendam kepada keluarga wanita.
Sebagian ulama berpendapat bahwa pada prinsipnya nikah itu hukumnya sunah yaitu berupa anjuran bagi yang mampu dan berkehendak. Kita perhatikan hadis Nabi Muhammad Rasulullah saw:
اَلنِّكَاحُ سُنَّتِى فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِى فَليْسَ مِنِّى
Artinya :
“Nikah itu termasuk sunahku, maka barang siapa yang tidak melaksanakan sunahku, bukan termasuk golonganku”. (H.R. Ibnu Majah).
C. Tujuan Nikah
Tujuan nikah yang sejati dalam Islam dengan singkat adalah menuju kemaslahatan dalam rumah tangga, keturunan dan kemaslahatan masyarakat. Untuk mencapai masyarakat yang sejahtera haruslah dimulai dari pembinaan keluarga sejahtera. Jika setiap keluarga sejahtera, maka masyarakatpun akan sejahtera pula.
Adapun yang disebut dengan keluarga sejahtera adalah keluarga yang sehat, kuat rohaninya dan jasmaninya, berbudi pekerti yang luhur serta bertaqwa kepada Allah swt. Kebahagiaan dari kesejahteraan yang sejati hanya terwujud melalui pernikahan yang sah, dengan demikian free sex sangat ditentang dalam agama Islam, begitu pula perzinaan prostitusi dengan segala bentuknya.
Karena pernikahan bukanlah sekedar untuk menyalurkan syahwat birahi, akan tetapi lebih dari itu menciptakan ketenangan, keteraturan dan ketentraman dari situ akan lahir anak-anak saleh yang mengabdi kepada Allah dan berbakti terhadap kedua orang tuanya, bermanfaat bagi masyarakat dan negara. Kasih sayang yang sejati akan membuahkan kesetiaan dan kebahagiaan dalam keluarga. Firman Allah swt. dalam Q.S. ar-Rüm ayat 21 :
•• •
Artinya :
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.( Q.S. ar-Rüm ayat 21)
Ayat tersebut mengandung pengertian bahwa diantara tanda-tanda kehebatan Allah yang diperlihatkan kepada manusia adalah :
1. Allah menciptakan istri (pasangan) dari sesama manusia
2. Dengan menemukan istrinya (pasangan) itu akan membawa ketenangan (sakinah)
3. Dorongan untuk bertemunya pasangan itu adalah dikaruniakannya kedalam hati manusia cinta ( مَوَدَّةًً ) dan kasih ( رَحْمَة )
4. Menyadari hal itu pantaslah manusia beriman dan bersyukur kepadaNya.
Dengan demikian maka tujuan nikah dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Untuk menyalurkan dan memperoleh kasih sayang dari orang lain.
2. Untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah. Kata سَكِيْنَة dari kata سَكَنَ yang berarti diam atau tenang. Dari kata tersebut keluarlah kata سِكِّيْن yang berarti pisau yang berfungsi sebagai alat pendiam atau penenang. Untuk hewan yang tadinya bergejolak dan meronta apabila disembelih dengan pisau maka hewan yang bergejolak dan meronta akan menjadi diam dan tenang selamanya. Dengan makna ini, nikah ibarat pisau yang membuat pelakunya merasa tenang (bahagia) setelah pernikahan itu. Demikianlah yang diuraikan oleh Prof.Quraisy Syihab dalam bukunya Wawasan Al-Quran.
3. Mengikuti dan melaksanakan sunah Rasul. Artinya nikah, dengan ketentuan agama Islam, merupakan tradisi kemanusiaan yang diwarisi oleh para Rasul kepada generasi dan para pengikutnya. Sabda Rasulullah saw:
اَلنِّكَاحُ سُنَّتِى فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِى فَليْسَ مِنِّى (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه)
Artinya :
“Nikah itu termasuk sunahku, maka barang siapa yang tidak melaksanakan sunahku, bukan termasuk golonganku”. (H.R. Ibnu Majah).
4. Mendapatkan keturunan yang sah dan baik-baik. Disebut keturunan itu sah apabila lahir dari suami istri yang menikah menurut ketentuan syariat agama. Misalnya suami istri yang menikah bulan Januari maka secara syariat agama akan lahir kira-kira bulan November atau Desember. Kalau pasangan itu melaksanakan nikah bulan Januari, lalu melahirkan anak bulan Maret pada tahun yang sama, tentu itu bukan anak yang sah menurut syariat Islam.
5. Menghindarkan diri dari perbuatan zina. Dengan pernikahan dorongan birahi dapat tersalurkan secara halal dan sehat ( حَلاَلاً طَيِّبًا ). Dan perbuatan zina dalam syariat Islam termasuk tindakan kotor dan buruk. Firman Allah dalam Q.S. al-Isra (17): 32
Artinya :
Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. al-Isra : 32)
Firman Allah dalam Q.S. an-Nür (24) : 30
•
Artinya :
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".( Q.S. an-Nür : 30)
6. Mempererat hubungan famili.
Dengan pernikahan, diharapkan persaudaraan antara dua keluarga menjadi erat silaturrahim menjadi luas. Karena kuatnya persaudaraan dan silaturrahim menurut Rasulullah menjadi salah satu tanda orang beriman kepada Allah dan hari akhir. Sabda Rasulullah saw :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (رَوَاهُ مُسْلِمْ)
Artinya :
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi.(H.R. Muslim)
D. Ketentuan Nikah
1. Syarat sah Nikah
Sebelum pernikahan dilaksanakan, ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak (calon suami dan calon istri ), yang disebut syarat agar kedua pernikahan itu sesuai dengan tujuannya.
Adapun yang menjadi syarat nikah ialah :
a. Beragama Islam. Artinya, calon suami istri tersebut sebaiknya sesama muslim (Q.S. al-Baqarah (2) ayat 221)
b. Bukan mahramnya (Q.S. an-Nisa (4) ayat 23)
c. Saling mengenal dan suka sama suka (Q.S. an-Nisa (4) ayat 3 dan Q.S. ar-Rüm (30) ayat 21)
d. Ada mahar yang dikeluarkan oleh calon suami (Q.S.an-Nisa (4) ayat 4 dan 25)
e. Tidak dalam ihram
f. Tidak bersuami dan tidak dalam iddah bagi calon istri
2. Rukun Nikah
Pernikahan menjadi sah apabila dipenuhi syarat dan rukunnya. Adapun yang menjadi rukun nikah ada 4 macam, yaitu :
a. Adanya dua calon mempelai
b. Wali (wali mempelai wanita).
Sabda nabi saw.
لاَنِكَاحَ اِلاَّ بِوَلِيِّ (رَوَاهُ أَحْمَد عَنْ اَبِى بَرْدَة)
Artinya :
Tidak sah nikah kecuali dengan (izin) wali (H.R.Ahmad dari Abi Bardah)
c. Ada dua orang saksi
d. Sighat (akad) yang terdiri dari Ijab dan Qabul. Ijab yaitu perkataan dari pihak wali perempuan, seperti kata wali “ Saya nikahkan engkau dengan anak saya bernama si Fulanah dengan mahar … tunai/kredit”,
sedangkan Qabul adalah ucapan/jawaban pihak mempelai laki-laki atas ijab dari wali, seperti ucapannya : “Saya terima nikahnya si Fulanah dengan mahar yang disebutkan, tunai/kredit”. Sabda Rasulullah saw sebagai berikut :
عَنْ عَائِشَة قَالَتْ قَالَ رَسُوْلُ الله ص.م : أَيُّمَا امْرَاَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ اِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ
Artinya :
Barang siapa diantara wanita yang nikah dengan tidak diizinkan oleh walinya, maka perkawinannya batal.(H.R. 4 orang ahli hadis kecuali Nasai)
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله ص.م : لاَتُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ وَلاَتُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا
Artinya :
Janganlah wanita menikahkan wanita, jangan pula seorang wanita menikahkan dirinya sendiri. (H.R. Daruqutni Ibnu Majah).
عَنْ عَائِشَة رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِى ص.م : قَالَ : لاَ نِكَاحَ اِلاَّ بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَي عَدْلٍ (رَوَاهُ أَحْمَد وَبَيْهَقِى)
Artinya :
Tidaklah sah nikah melainkan dengan wali dan dua orang saksi yang adil. (H.R. Ahmad dan Baihaqi)
Adapun susunan wali yang dianggap sah untuk menjadi wali mempelai wanita adalah sebagai berikut :
- Bapak
- Kakek (Bapak dari bapak mempelai wanita)
- Saudara laki-laki seibu-sebapak
- Saudara laki-laki sebapak
- Anak laki-laki dari saudara seibu sebapak
- Anak laki-laki dari saudara sebapak
- Saudara bapak yang laki-laki
- Anak laki-laki dari saudara bapak yang laki-laki
- Hakim
Syarat wali dan dua orang saksi :
- Islam
- Balig
- Berakal
- Merdeka
- Laki-laki
- Adil
3. Mahram (wanita-wanita yang haram dinikahi)
Menurut Islam tidak semua wanita boleh dinikahi karena disebabkan 3 hal :
a. Mahram Nasab yaitu haram dinikahi karena adanya hubungan keturunan, yang termasuk mahram nasab ada 7 orang :
1. Ibu dan seterusnya ke atas
2. Anak, cucu dan seterusnya ke bawah
3. Saudara perempuan seibu sebapak
4. Saudara perempuan ayah
5. Saudara perempuan ibu
6. Anak perempuan dari saudara laki-laki
7. Anak perempuan dari saudara perempuan (perhatikan Q.S. an-Nisa ayat 23)
b. Mahram Mushaharah yaitu haram dinikahi karena adanya hubungan perkawinan yaitu :
1. Ibu dari istri (mertua)
2. Ibu tiri
3. Anak tiri
4. Istri anak (menantu)
5. saudara perempuan istri atau ipar (Q.S. an-Nur ayat 23)
c. Mahram Radha’ah yaitu haram dinikahi karena adanya hubungan sesusuan, yaitu :
1. Ibu yang menyusukan
2. Saudara sesusuan (Q.S. an-Nisa (4) ayat 22-23 )
E. Kewajiban Suami Istri
Dalam perkawinan terdapat hak dan kewajiban yang timbul dari para suami istri . Kewajiban suami sebagai kepala rumah tangga terhadap istrinya dan anak-anaknya, istri sebagai ibu rumah tangga adalah merupakan hak istri terhadap suami dan anak-anaknya. Suami istri jika menjalankan kewajibannya dengan baik dan menggunakan hak dengan wajar, akan menghasilkan rumah tangga yang sakinah.
Adapun kewajiban suami dan istrinya adalah sebagai berikut :
1. Kewajiban suami
a. Memberi nafkah.
Suami wajib memberi nafkah istri dan anak-anaknya seperti, minum, makan, pakaian dan tempat tinggal. Firman Allah dalam Q.S. an-Nisa:34.
Artinya :
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.( Q.S. an-Nisa:34)
b. Memelihara, mendidik dan memimpin istri dan anak-anaknya serta bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan keluarga. Suami harus bertanggung jawab terhadap keluarganya, pendidikan anak-anak, menjaga hubungan yang harmonis dengan istri dan anak-anaknya serta berusaha membimbing keluarga menjadi manusia yang bertaqwa. Firman Allah swt dalam Q.S. at Tahrim :6
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. ( Q.S. at Tahrîm :6)
c. Berlaku sopan
Berlaku sopan berbuat baik dan memberi kesempatan kepada istrinya untuk bersilaturahmi dengan keluarganya. Sabda Nabi saw :
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَِهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَِهْلِى (رَوَاهُ ابْن مَاجَه)
Artinya :
“ Laki-laki (suami) yang baik ialah orang yang terbaik diantara kamu terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang terbaik diantara kamu terhadap keluarganya”.(H.R. Ibnu Majah)
2. Kewajiban Istri
a. Taat kepada suami
b. Menjaga kehormatan diri dan keluarganya
c. Menghargai dan menghormati pemberian suaminya walaupun sedikit.
d. Tidak keluar rumah tanpa izin suami
e. Memelihara dan mendidik anak-anak dan suaminya
f. Mengatur dan menjaga rumah tangganya
g. Memelihara dan menjaga rahasia rumah tangganya.
Allah berfirman dalam Al-Quran Surat an-Nisa ayat 34
Artinya :
Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (Q.S. an Nisa: 34)
F. Talak
1. Pengertian Talak
Talak menurut bahasa bercerai. Sedangkan menurut istilah adalah seorang suami melepaskan ikatan pernikahannya dengan seorang istri, sekiranya dalam pergaulan suami istri tidak dapat mencapai tujuan perkawinan yang sebenarnya. Bahkan jika pergaulan suami istri tidak terdapat lagi kedamaian, tiada lagi saling mencintai, tidak lagi saling tolong-menolong, perceraian adalah jalan satu-satunya yang harus ditempuh.
Sabda Rasulullah saw :
عَنْ أَبِى عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُوْ لُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَبْغَضُ الْحَلاَلِ عِنْدَ اللهِ اَلطَّلاَقُ (رَوَاهُ اَبُوْ دَوُدوَابْنُ مَاجَه)
Artinya :
“ Dari Ibnu Umar katanya, telah berkata Rasulullah saw. perbuatan yang halal yang amat dibenci Allah yaitu talak”. (H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah)
2. Hukum Talak
Ditinjau dari segi kemaslahatan atau kemudharatannya maka hukum talak ada empat, yaitu :
a. Makruh yaitu hukum asal dari pada talak.
b. Sunah apabila suami tidak sanggup lagi memberi nafkah lahir batin dengan cukup.
c. Wajib apabila terjadi perselisihan antara suami dan istri sedangkan hakim memandang perlu supaya keduanya bercerai.
d. Haram dalam dua keadaan :
- Menjatuhkan talak ketika istri dalam keadaan haid.
- Menjatuhkan talak sewaktu dalam keadaan suci dan telah dicampuri dalam keadaan suci tersebut.
3. Lafaz Talak
Lafaz yang digunakan untuk menjatuhkan talak ada dua macam :
a. Sharih yaitu lafaznya jelas berarti talak. Contoh : Saya ceraikan kamu, Saya talak kamu, engkau saya ceraikan, dan sebagainya. Dengan ucapan semacam itu maka jatuhlah talak, walaupun tidak ada niat dihatinya untuk menceraikan istrinya, baik disengaja atau tidak disengaja.
b. Kinayah yaitu dengan kata-kata sindiran. Contoh : Pulanglah kamu ke rumah orang tuamu, engkau sekarang bukan istriku lagi, pergilah dari sini, dan sebagainya. Ucapan seperti ini bisa menjatuhkan talak apabila ada niat dihati suami untuk menceraikannya.
4. Bilangan Talak
Seorang suami bisa menjatuhkan talak kepada istrinya maksimal 3 kali. Pada talak satu dan dua, suami berhak rujuk (kembali) kepada istrinya sebelum habis masa iddahnya atau nikah lagi apabila masa iddahnya sudah habis. Sebab itu talak satu dan dua disebut juga Talak Raj’iyah.
Pada talak tiga, suami tidak boleh rujuk (kembali dan tidak boleh nikah lagi dengan istrinya yang telah diceraikannya itu, kecuali ia telah dinikahi oleh laki-laki lain (muhalil) dan sudah digauli serta telah ditalak oleh suami keduanya itu dan telah habis masa iddahnya. Talak tiga ini disebut juga Talak Bain Kubra. Allah menjelaskan dalam Al-Quran surat al-Baqarah ayat 230
•
Artinya :
Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri ) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. (Q.S. al-Baqarah ayat 230)
Ada lagi jenis talak yang lain, yaitu Talak Bain Shugra, ialah talak satu atau dua yang diminta oleh istri yang disertai dengan uang tebusan (‘iwadh). Pada talak semacam ini suami tidak boleh rujuk lagi, kecuali harus dengan akad nikah yang baru. Talak semacam ini disebut juga Khulu’ (talak tebus).
Selain kata-kata talak yang dapat menyebabkan terjadinya perceraian, namun ada juga kalimat-kalimat yang digunakan oleh suami yang bersifat halus untuk menyembunyikan maksud hatinya. Cara-cara ini merupakan cara adat arab jahiliyah, setelah Islam datang cara tersebut dihapus dengan membatasi masa berlalunya. Cara-cara tersebut sebagai berikut :
a. Zihar artinya punggung yaitu suami berkata kepada istrinya, “Punggungmu seperti punggung ibuku”. Dengan kata lain suaminya mempersamakan istrinya dengan ibunya atau muhrimnya yang lain. Padahal ibunya adalah wanita yang haram dinikahi. Suami yang sudah terlanjur menzihar istrinya sebelum mencampuri wajib membayar kafarat. Adapun kafarat zihar adalah memerdekakan budak, jika tidak mampu harus berpuasa dua bulan berturut-turut, jika tidak kuat berpuasa wajib memberi makan 60 orang fakir miskin. (Perhatikan Q.S. al-Mujadalah (58) : 2-4).
b. Lian artinya sumpah suami yang menuduh istri berzina, maksudnya terjadi perceraian karena suami menuduh istrinya berzina tanpa dapat menghadirkan empat orang saksi. Jika suami tidak sanggup menghadirkan empat orang saksi untuk memperkuat tuduhannya, maka suami wajib bersumpah atas nama Allah sebanyak empat kali, yang mengatakan bahwa istrinya benar-benar berzina. Dan sumpah yang kelima dengan mengatakan bahwa sang suami siap menerima laknat Allah jika ia berdusta. Begitu juga sebaliknya jika istri melakukan sumpah yang sama untuk menolak tuduhan suaminya, dan istri siap menerima murka Allah jika tuduhan suaminya benar, Akibat terjadinya li’an (sama dengan ba’in kubra), maka suami istri tidak boleh merujuk dan tidak boleh menikah lagi untuk selama-lamanya (perhatikan Q.S. an-Nur ayat 6-9).
c. Ilaa artinya menolak mencampuri istri dengan sumpah. Maksudnya suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya selama empat bulan. Dalam empat bulan itu suami wajib kembali kepada istrinya dengan membayar kafarat sumpah, dengan berpuasa tiga hari berturut-turut atau memberi makan sepuluh orang fakir miskin. Jika ia tidak kembali kepada istrinya dalam empat bulan maka telah jatuh talak (Ba’in Sugra) yaitu tidak boleh rujuk. (perhatikan Q.S. al-Baqarah ayat 226-227).
Selain daripada cara tersebut ada lagi cara membatalkan pernikahan yang menjadikan jatuh talak, yaitu :
a. Fasakh. Artinya membatalkan dan melepaskan ikatan pertalian antara suami istri . Fasakh bisa terjadi karena ada syarat-syarat yang tidak terpenuhi pada akad nikah atau karena hal lain hal ini terjadi berdasarkan keputusan hakim atas permintaan wali.
b. Khulu’. Artinya perceraian atas inisiatif (permintaan) istri. Dimana istri mengembalikan mahar yang pernah diberikan oleh suami. Khulu’ disebut juga dengan talak tebus.
G. Iddah
Iddah yaitu masa menunggu yang diwajibkan atas istri yang ditalak baik cerai hidup maupun cerai mati. Gunanya supaya diketahui apa istri sedang hamil atau tidak. Dan juga memberi kesempatan kepada mantan suami untuk menggunakan hak rujuknya terhadap istri yang tertolak satu dan dua. Masa iddah bagi wanita yang dicerai ada lima macam yaitu :
1. Wanita yang tertalak satu atau dua dan masih berhaidh, iddahnya tiga kali suci. Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 228 :
Artinya :
Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru (suci).( Q.S. al-Baqarah ayat 228)
2. Wanita yang tertalak dan tidak haid lagi (telah manopause), masa iddahnya adalah tiga bulan. Firman Allah dalam surat at-ëalaq ayat 4:
Artinya :
Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (manopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan.( Q.S. at-thalaq ayat 4)
3. Wanita yang tertalak dalam keadaan hamil, iddahnya sampai melahirkan anak yang dikandungnya. Firman Allah dalam surat at-Thalaq ayat 4:
Artinya :
Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.(Q.S. at-Thalaq ayat 4)
4. Wanita yang diceraikan, namun belum digauli, tidak ada masa iddahnya.
Firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 49 :
Artinya :
kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya. Maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.(Q.S. al-Ahzab ayat 49)
5. Wanita yang cerai mati (suaminya wafat) iddahnya 4 bulan 10 hari. Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 234:
Artinya :
Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari. (Q.S. al-Baqarah ayat 234)
H. Rujuk
1. Pengertian Rujuk
Rujuk ialah suami kembali kepada istrinya yang telah diceraikan, untuk mewujudkan pernikahan semula sesuai dengan ketentuan agama.
Rujuk artinya kembali, dan yang dimaksud disini adalah kembali kepada ikatan pernikahan. Rujuk tidak memerlukan akad nikah baru karena akad nikahnya belum terputus.
2. Hukum Rujuk
Sama halnya hukum nikah, hukum rujuk pada dasarnya adalah boleh (jaiz). Kemudian bisa menjadi haram, makruh, sunah dan wajib.
a. Haram, apabila diniatkan niat rujuknya hanyalah untuk menyakiti si istri , atau agar si istri lebih menderita.
b. Makruh, bila diketahui bahwa meneruskan perceraian lebih bermanfaat bagi keduanya dibandingkan jika keduanya rujuk.
c. Sunah, jika diketahui bahwa rujuk lebih baik dibandingkan dengan meneruskan perceraian.
d. Wajib, khusus bagi laki-laki yang beristri lebih dari satu jika salah seorang ditolak sebelum gilirannya disempurnakannya.
3. Syarat-syarat suami merujuk istri
a. Dengan kehendak sendiri (tidak dipaksa orang lain).
b. Dengan perkataan, baik secara terang-terangan maupun dengan cara sindiran.
c. Ada dua saksi sesuai dengan firman Allah dalam surat at-Thalaq ayat 2
I. Hikmah Nikah
Mewujudkan keluarga sakinah menurut ajaran Islam dimulai dengan memberi pedoman pemilihan jodoh, Islam telah mengajarkan suatu batasan-batasan sebagai norma dalam mencari calon istri dan sebaliknya juga mencari calon suami. Sabda Nabi saw:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَِرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِنَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَر لِذَان الدِّيْنِ تَرِبَت يَدَاكَ (رَوَاهُ البُخَارِى وَمُسْلِم)
Artinya :
“Kami nikahi wanita itu dengan syarat, karena hartanya, karena keturunannya, karena cantiknya, karena agamanya, maka pilihlah yang terbaik karena agamanya, semoga kamu semua diselamatkan Allah swt”.(H.R.Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud dengan dapat melihat kepada wanita atau laki-laki sebagai calon istri atau calon suaminya, adalah dalam bentuk pertemuan yang ditemani oleh muhrimnya.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak memaksa seseorang dalam membina kehidupan berkeluarga yang berpengaruh kepada keturunan dan masyarakat. Banyak sekali hikmah yang terkandung dalam pernikahan diantaranya :
1. Kesempurnaan ibadah
2. Kelangsungan keturunan
3. Ketenangan batin
4. Meningkatkan ekonomi keluarga
5. Terpelihara dari dosa dan noda (zina)
6. Terjalin ukhuwah satu keluarga, suami istri yang mana pertalian itu akan menjadi satu jalan yang membawa kepada bertolong-tolongan.
J. Sekilas Perkawinan Menurut UU No.1 Tahun 1974
UU no.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan terdiri dari 14 bab dan terbagi dalam 67 pasal.
1. Pengertian dan tujuan perkawinan
Dalam bab I pasal I UU No. 1 tahun 1974 dijelaskan bahwa “Perkawinan ialah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa”.
2. Sahnya perkawinan dan kewajiban pencatatan perkawinan
Bab 1 pasal 2 ayat 1 : Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya.
Bab 1 pasal 2 ayat 2 : Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia ada dua instansi yang bertugas mencatatnya, yaitu KUA bagi yang beragama Islam dan Kantor Catatan Sipil bagi non muslim
3. Peranan peradilan Agama dalam penetapan talak menurut UU No. 1 tahun 1974 dan UU no. 7 tahun 1989.
a. Menurut UU No. 1 tahun 1974 bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
b. Menurut UU No. 7 tahun 1989 menyatakan bahwa seorang suami yang beragama Islam yang akan menceraikan istrinya harus mengajukan permohonan kepada pengadilan untuk mengadakan sidang. Pihak pengadilan mempelajari isi surat tersebut dalam waktu selambatnya 30 hari, kemudian memanggil yang bersangkutan untuk diminta penjelasannya.
Pengadilan memutuskan untuk mengadakan sidang dan menyetujui perceraian apabila terdapat alasan-alasan yang kuat dari kedua belah pihak.
K. Tentang Poligami
Dalam UU No. 1 Tahun 1974 pasal 1 ayat 1, 2 : Menyatakan bahwa pada dasarnya dalam satu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri. Seorang perempuan hanya boleh mempunyai seorang suami.
Seorang suami yang akan beristri lebih dari satu orang (poligami) wajib mengajukan permohonan kepada pengadilan dengan persyaratan:
a. Istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri .
b. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
c. Istri tidak dapat memberi keturunan.
Persyaratan lain adalah :
a. Adanya persetujuan dari istri baik lisan maupun tulisan.
b. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup semua keluarga.
c. Adanya jaminan suami akan berlaku adil kepada semua istri dan anak-anaknya.
L. Tugas
Perorangan
1. Jelaskan pengertian nikah baik secara lughawi maupun istilah !
2. Jelaskan syarat-syarat sahnya nikah !
3. Jelaskan empat macam rukun nikah !
4. Sebutkan sebab-sebab mahram !
5. Sebutkan tujuan nikah !
6. Jelaskan 5 hukum nikah !
7. Jelaskan macam-macam talak !
8. Jelaskan apa yang dimaksud dengan : Khulu’, Lian, Ìihar, Fasakh !
9. Jelaskan syarat sahnya nikah menurut UU No.1/1974 !
10. Jelaskan pendapatmu tentang nikah sirri !
Kelompok
Buatlah secara kelompok tentang sebab-sebab suami istri bercerai di sekitar rumahmu, kemudian presentasikan.
Minggu, 27 Juli 2008
perilaku terpuji
BAB IV
PERILAKU TERPUJI
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator
4. Membiasakan berperilaku terpuji. 4.1. Menjelaskan pengertian adil, ridha, dan amal saleh.
◊ Mampu menjelaskan pengertian adil.
◊ Mampu menjelaskan pengertian ridha.
◊ Mampu menjelaskan pengertian amal saleh.
4.2. Menampilkan contoh-contoh perilaku adil, ridha, dan amal saleh.
◊ Menampilkan contoh perilaku adil.
◊ Menampilkan contoh perilaku ridha.
◊ Menampilkan contoh perilaku amal saleh.
4.3. Membiasakan perilaku adil, ridha, dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.
◊ Menunjukkan berperilaku adil.
◊ Menunjukkan berperilaku ridha.
◊ Menunjukkan berperilaku amal saleh.
A. Adil
Adil adalah memberikan hak kepada orang yang berhak menerimanya tanpa ada pengurangan, dan meletakkan segala urusan pada tempat yang sebenarnya tanpa ada aniaya, dan mengucapkan kalimat yang benar tanpa ada yang ditakuti kecuali terhadap Allah swt saja. Allah swt. berfirman dalam surat an-Nisa ayat 135 :
•
Artinya :
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan (Q.S. an-Nisa : 135)
Islam menyeru untuk berlaku adil sekalipun diantara kita sedang terjadi permusuhan. Allah swt. berfirman dalam surat al-Maidah ayat 8 :
• •
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al-Maidah ayat 8)
Adil disejajarkan dengan perbuatan kebajikan, karena adil sendiri adalah memberikan hak kepada yang punya. Sehingga orang yang diberikan hak merasa senang dan bahagia. Allah swt. berfirman dalam Q.S. an-Nahl (16) ayat 90 :
•
Artinya :
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (Q.S. an-Nahl : 90)
Prof.Quraisy Shihab menguraikan tentang makna keadilan dalam bukunya Wawasan Al-Quran hal. 114-116, paling tidak ada empat pengertian adil yang dikemukakan oleh para ulama, yaitu ;
1. Adil dalam arti “sama”
Dalam arti memperlakukan sama terhadap orang-orang, tidak membedakan hak-haknya. Firman Allah dari Q.S. an-Nisa (4) ayat 58 berikut :
• •• • •
Artinya :
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat. (Q.S. an-Nisa : 58)
Perhatikan contoh keadilan yang dipraktekkan oleh Ali bin Abi Thalib berikut, pernah suatu hari terjadi sengketa diantara Ali bin Abi Thalib dengan seorang Yahudi, yaitu suatu sengketa yang sampai juga ke meja hijau (majlis hukum) dibawah pimpinan Umar bin Khattab guna mendapatkan penyelesaian. Setelah kedua pihak sama-sama datang menghadap Umar, maka berkatalah Umar kepada Ali : “ Ya Abal Hasan, berdirilah berdekatan dengan lawanmu”. Seusai Umar memberikan keputusannya, Umar melihat bahwa diwajah Ali terdapat tanda-tanda kedukaan, maka ujarnya : “ Wahai Ali, mengapa saya lihat anda agak susah ?”. Ali menjawab : “Sebab anda tidak mempersamakan antara saya dan lawan saya, anda memanggil saya dengan sebutan kehormatanku “Abal Hasan “, sedang anda memanggil Yahudi dengan namanya yang biasa”.
Pernahkah anda saksikan suatu tindak keadilan yang mencapai jangkauan setinggi itu ? Apa yang dipraktekkan oleh khalifah Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib itu adalah cermin keadilan didalam Islam. Karena Islam menyeru kepada umatnya untuk berlaku adil, Islam melarang keras untuk berlaku sebaliknya.
Imam Ibnu Taimiyah berkata : “ Bahwasanya Allah akan menolong penguasa atau pemerintah yang adil sekalipun dia pemerintah kafir, dan Allah tidak akan menolong penguasa pemerintah yang zalim kendatipun dia itu Islam “. Allah swt. berfirman dalam surat al-Hud ayat 117 :
Artinya :
Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.(Q.S. al-Hud :117)
2. Adil dalam arti “seimbang”
Keseimbangan sangat diperlukan dalam suatu kelompok yang didalamnya terdapat beragam bagian yang bekerja menuju satu tujuan tertentu. Dengan terhimpunnya bagian-bagian itu, kelompok tersebut dapat berjalan atau bertahan sesuai tujuan kehadirannya. Firman Allah dalam surat al-Infithar (82) ayat 6-7 berikut ;
Artinya :
Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. (Q.S. al Infithar :6-7)
Kata عدل dalam ayat tersebut berarti seimbang. Tubuh manusia akan normal selama bagian-bagian tubuh itu semua bekerja atau berfungsi sesuai tujuan kehadirannya.
Contoh lainnya terdapat dalam firman Allah Q.S. al-Mulk (67) ayat 3 berikut ;
•
Artinya :
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (Q.S. al-Mulk :3)
Alam semesta akan bertahan selama bagian-bagian dari ekosistem yang ditetapkan Allah swt. bekerja dengan seimbang.
3. Adil dalam arti “Perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya”.
Pengertian inilah yang didefinisikan dengan “menempatkan sesuatu pada tempatnya” atau “memberi pihak lain haknya melalui jalan yang terdekat”. Lawannya adalah kezaliman dalam arti melanggar hak-hak pihak lain. Pengertian ini melahirkan keadilan sosial.
4. Adil yang dinisbatkan kepada Ilahi.
Adil disini artinya memelihara kewajaran atas berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk itu”. Keadilan Ilahi merupakan rahmat dan kebaikanNya. Keadilannya mengandung konsekwensi bahwa rahmat Allah swt. tidak tertahan untuk diperoleh, sejauh makhluk itu dapat meraihnya.
B. Ridha
Ridha (رِضَى ) menurut kamus al-Munawwir artinya senang, suka, rela. Dalam kehidupan ini seseorang harus mampu menampilkan sikap ridha minimal dalam empat hal:
a. Ridha terhadap perintah dan larangan Allah
Artinya ridha untuk mentaati Allah dan Rasulnya. Pada hakekatnya seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, dapat diartikan sebagai pernyataan ridha terhadap semua nilai dan syari’ah Islam. Perhatikan firman Allah dalam Q.S. al-Bayyinah (98) ayat 8
•
Artinya :
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Q.S.al-Bayyinah ayat 8 )
Dari ayat tersebut dapat dihayati, jika kita ridha terhadap perintah Allah maka Allah pun ridha terhadap kita.
b. Ridha terhadap taqdir Allah.
Mari kita simak, apa yang dikisahkan berikut ; pada suatu hari Ali bin Abi Thalib r.a. melihat Ady bin Hatim bermuram durja, maka Ali bertanya ; “Mengapa engkau tampak bersedih hati ?”. Ady menjawab ; “Bagaimana aku tidak bersedih hati, dua orang anakku terbunuh dan mataku tercongkel dalam pertempuran”. Ali terdiam haru, kemudian berkata, “Wahai Ady, barang siapa ridha terhadap taqdir Allah swt. maka taqdir itu tetap berlaku atasnya dan dia mendapatkan pahalaNya, dan barang siapa tidak ridha terhadap taqdirNya maka hal itupun tetap berlaku atasnya, dan terhapus amalnya”.
Ada dua sikap utama bagi seseorang ketika dia tertimpa sesuatu yang tidak diinginkan yaitu ridha dan sabar. Ridha merupakan keutamaan yang dianjurkan, sedangkan sabar adalah keharusan dan kemestian yang perlu dilakukan oleh seorang muslim.
Perbedaan antara sabar dan ridha adalah sabar merupakan perilaku menahan nafsu dan mengekangnya dari kebencian, sekalipun menyakitkan dan mengharap akan segera berlalunya musibah. Sedangkan ridha adalah kelapangan jiwa dalam menerima taqdir Allah swt. Dan menjadikan ridha sendiri sebagai penawarnya. Sebab didalam hatinya selalu tertanam sangkaan baik (Husnuzan) terhadap sang Khaliq bagi orang yang ridha ujian adalah pembangkit semangat untuk semakin dekat kepada Allah, dan semakin mengasyikkan dirinya untuk bermusyahadah kepada Allah.
Dalam suatu kisah Abu Darda’, pernah melayat pada sebuah keluarga, yang salah satu anggota keluarganya meninggal dunia. Keluarga itu ridha dan tabah serta memuji Allah swt. Maka Abu Darda’ berkata kepada mereka. “Engkau benar, sesungguhnya Allah swt. apabila memutuskan suatu perkara, maka dia senang jika taqdirnya itu diterima dengan rela atau ridha.
Begitu tingginya keutamaan ridha, hingga ulama salaf mengatakan, tidak akan tampak di akhirat derajat yang tertinggi daripada orang-orang yang senantiasa ridha kepada Allah swt. dalam situasi apapun (Hikmah, Republika, Senin 5 Februari 2007, Nomor: 032/Tahun ke 15)
c. Ridha terhadap perintah orang tua.
Ridha terhadap perintah orang tua merupakan salah satu bentuk ketaatan kita kepada Allah swt. karena keridhaan Allah tergantung pada keridhaan orang tua, perintah Allah dalam Q.S. Luqman (31) ayat 14 ;
•
Artinya :
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Luqman :14)
Bahkan Rasulullah bersabda : “Keridhaan Allah tergantung keridhaan orang tua, dan murka Allah tergantung murka orang tua”. Begitulah tingginya nilai ridha orang tua dalam kehidupan kita, sehingga untuk mendapatkan keridhaan dari Allah, mempersyaratkan adanya keridhaan orang tua. Ingatlah kisah Juraij, walaupun beliau ahli ibadah, ia mendapat murka Allah karena ibunya tersinggung ketika ia tidak menghiraukan panggilan ibunya.
d. Ridha terhadap peraturan dan undang-undang negara
Mentaati peraturan yang belaku merupakan bagian dari ajaran Islam dan merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah swt. karena dengan demikian akan menjamin keteraturan dan ketertiban sosial. Mari kita hayati firman Allah dalam Q.S. an-Nisa (4) ayat 59 berikut :
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.( Q.S. an-Nisa :59)
Ulil Amri artinya orang-orang yang diberi kewenangan, seperti ulama dan umara (Ulama dan pemerintah). Ulama dengan fatwa dan nasehatnya sedangkan umara dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Termasuk dalam ridha terhadap peraturan dan undang-undang negara adalah ridha terhadap peraturan sekolah, karena dengan sikap demikian, berarti membantu diri sendiri, orang tua, guru dan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan demikian mempersiapkan diri menjadi kader bangsa yang tangguh.
C. Amal Saleh
Amal Saleh artinya perbuatan yang baik. Beramal shaleh artinya melakukan hal-hal positif secara kreatif. Amal diartikan sebuah proses. Amal saleh diartikan sebuah proses yang baik sehingga menghasilkan sesuatu yang baik. Memperbanyak amal saleh berarti banyak jalan/cara yang baik (halal) untuk memperoleh sesuatu yang baik. Misalnya si Adnan rajin belajar dengan menciptakan cara-cara (berbagai cara) belajar yang kreatif, hasilnya dia memperoleh nilai maksimal dalam ujiannya. Rajin belajar dengan berbagai cara kreatif adalah amal saleh. Ukuran kesalehan adalah berdasarkan al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. yang prinsipnya antara lain sebagai berikut:
o Niat yang tulus
Dalam Islam, niat adalah salah satu faktor penentu apakah amal sesorang dikatakan shaleh atau bukan. Sebelum seseorang berbuat hendaklah luruskan dulu niat dan tujuannya , yaitu hanya semata-mata mencari ridha Allah. Sebagai contoh, menyapu kelas yang kotor adalah amal shaleh, tetapi jika dilakukan terpaksa atau karena ingin dipuji oleh guru, maka pertbuatan tersebut tidak termasuk amal shaleh karena tidak punya nilai di hadapan Allah.
o Ada manfa’atnya
Artinya perbuatan yang hendak dilakukan benar-benar bermanfa’at baik bagi dirinya maupun bagi orang lain; Baik untuk di dunia ataupun untuk di akhirat. Islam mengajarkan bahwa perbuatan yang tak mengandung manfa’at tidak boleh dilakukan, karena termasuk perbuatan sia-sia (tabzir)
o Prosesnya benar
Perbuatan dipandang benar atau termasuk amal shaleh apabila prosesnya tidak bertentangan dengan norma-norma agama dan akhlaq mulia. Sebagai contoh, seseorang berjualan atau dagang dengan tujuan untuk mencari rizki agar bisa menafkahi keluarganya, tetapi dengan cara-cara yang tidak halal, misalnya dengan cara menipu atau mengurangi timbangan dan sebagainya. Maka perbuatan dagang tersebut menjadi tercela, tidak termasuk amal shaleh.
1. Bentuk-bentuk amal saleh
Saleh secara ilahiyah dan saleh secara sosial. Kesalehan haruslah memiliki dua dimensi sekaligus. Jika dimata Allah dianggap saleh, maka dimata manusiapun haruslah mendapatkan pengakuan yang sama. Karena kesalehan dihadapan Allah haruslah diperoleh manfaatnya oleh masyarakat manusia sekitarnya. Perhatikan hadis berikut yang artinya :
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik-baik, kalau ia tidak sanggup melakukannya, hendaklah ia diam”.
Sabdanya lagi :
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya”.
Sabdanya lagi :
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormat tamunya”.
Sabdanya lagi :
“Iman itu ada 70 cabang, dan malu termasuk cabang iman”.
Dari hadis-hadis tersebut, bahwa buah dari keimanan kepada Allah dan hari akhir adalah kesalehan sosial.
2. Cara memelihara kesalehan, adalah bergaul dengan orang-orang yang saleh
Perhatikan kisah-kisah berikut !
Suatu hari, Syafiq al-Balkhi (seorang dokter ahli jiwa) berkata kepada muridnya Hatim al-Asham.”Apa yang kau pelajari selama tinggal bersamaku (30 tahun). Hatim al-Asham menjawab, ada enam perkara yang dapat kuambil :
Pertama, Aku melihat orang-orang selalu ragu dalam mensikapi masalah ketentuan rizki. Tidak satupun dari mereka kecuali bersikap kikir terhadap harta yang dimilikinya, dan tamak dalam memperolehnya. Namun aku bertawakal kepada Allah karena firmanNya dalam Q.S. Hud (11) ayat 6 : “Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi ini melainkan Allahlah yang menjamin rizkinya”. Oleh karena aku termasuk binatang melata, maka hatiku tidak merisaukan sesuatu yang sudah dijamin Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat”. Sang guru baru berkata, “Bagus”.
Kedua, Aku melihat setiap orang mempunyai teman untuk mencurahkan rahasia dan mengadukan permasalahannya kepadanya, namun teman mereka itu tidak dapat menyimpan rahasia dan tidak mau saling menolong. Maka aku menjadikan amal salehku sebagai teman, supaya dapat menolongku saat hari perhitungan (hisab), meneguhkan diriku dihadapan Allah dan menemaniku saat meniti shirat. Sang guru berkata : “Bagus”.
Ketiga, Aku melihat setiap orang mempunyai musuh dan saat kucermati diriku, ternyata musuhku bukanlah orang yang menggunjingku. Tidak pula orang yang menzalimiku dan menyakitiku, tetapi musuhku adalah orang yang ketika aku sedang taat kepada Allah ia menggodaku dengan perbuatan maksiatnya. Aku melihat bahwa yang berbuat demikian itu adalah iblis, jiwa dunia dan hawa nafsu. Aku menjadikan semua itu sebagai musuh, aku menjaga diri dari mereka dan aku mempersiapkan diri untuk memerangi mereka. Aku tidak akan membiarkan salah satupun dari mereka mendekatiku. Sang guru berkata : “Bagus”.
Keempat, Aku melihat bahwa setiap makhluk hidup senantiasa dibuntuti. Dan yang membuntuti adalah malaikat maut. Maka aku mempersiapkan diriku untuk menemuinya hingga bila dia datang, aku pergi bersamanya tanpa halangan. Sang guru berkata : “Bagus”.
Kelima, Aku melihat orang-orang saling mencinta dan membenci dan aku melihat orang mencintai tidak memiliki sesuatu untuk kekasihnya. Aku merenungkan sebab percintaan dan kebencian mereka, maka aku tahu penyebabnya adalah fisik (jasad). Aku menafikan (sebab fisik) dengan menafikan hubungan-hubungan antar jiwa dan jasadku, yaitu hubungan syahwat. Maka aku mencintai semua orang, aku tidak merelakan sesuatu atas mereka kecuali apa yang aku ridhai untuk diriku. Sang guru berkata : “Bagus”.
Keenam, Aku melihat bahwa setiap orang akan meninggalkan tempat tinggalnya dan nasib setiap orang akan kembali ke liang kubur. Maka aku mempersiapkan semua amal perbuatan yang mampu kulakukan dan yang akan membahagiakanku ditempat yang baru itu, yang tidak ada satupun dibaliknya, kecuali surga dan neraka.
Sang guru Syafiq al-Balkhi menimpali :”cukup dan laksanakanlah enam perkara itu sampai mati”.
Dari kisah tersebut dapat disimpulkan bahwa kesalehan akan terpelihara dengan baik apabila kita bergaul dengan orang-orang saleh juga.
3. Amal saleh dapat menolong saat kesulitan
Amal-amal saleh ternyata dapat menolong si pemiliknya dalam kesulitan, sebagaimana dikisahkan oleh rasulullah berikut !
“Ada tiga orang dari umat sebelum kalian melakukan perjalanan hingga malam menjelang. Merekapun bermalam di sebuah gua. Ketika mereka masuk di bagian dalam, tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari atas bukit dan menyumbat mulut gua. Mereka berkata kepada diri mereka masing-masing. Tidak akan bisa menyelamatkan diri, kecuali bila memohon kepada Allah dengan perbuatan saleh pernah dilakukan”.
Seorang dari mereka berdo’a : “Ya Allah hamba dulu mempunyai bapak dan ibu yang sudah tua renta. Hamba senantiasa memberi minum kedua orang tua hamba sebelum memberi minum keluarga dan anak-anak hamba. Pada suatu hari karena pekerjaan hamba mencari kayu membuat hamba pergi terlampau jauh hingga tidak bisa pulang dan merekapun tertidur menunggu kedatangan hamba. Sampai di rumah hamba langsung memerah susu untuk keduanya, tapi mereka sudah pulas. Hamba merasa segan untuk membangunkan mereka dan hambapun tidak mau memberi minum keluarga dan anak-anak hamba sebelum mereka minum terlebih dahulu. Maka hambapun memutuskan untuk tetap menunggu dengan periuk di tangan hingga fajar mulai menerangi dan anak-anak hamba merintih kelaparan, merajuk di kaki hamba. Tak lama kedua orang tua hamba bangun dan mereka bisa minum minuman yang telah hamba sediakan. “Ya Allah, Jika menurutMu hamba melakukan hal itu demi mendapat keridhaanMu, maka lepaskanlah kami dari musibah batu yang menimpa kami”. Dan tiba-tiba batu penyumbat mulut gua itu bergeser, tetapi belum cukup untuk bisa keluar.
Salah seorang dari mereka memohon lagi : Hamba dulu mempunyai saudara sepupu perempuan dan dia adalah orang yang paling hamba cintai. Hamba terus berusaha membujuknya, namun ia menolak hasrat cinta hamba. Hingga akhirnya datang musim kemarau yang panjang, iapun datang menemui hamba, hamba memberinya 120 dinar dengan syarat ia mau melayani keinginan hamba, maka ia menyanggupinya. Ketika hamba hendak menjamahnya, ia berkata, “takutlah kepada Allah dan janganlah engkau gunakan cincin ini kecuali sesuai haknya”. Mendengar kata-kata itu hambapun pergi meninggalkannya, dan dia tetap orang yang paling hamba cintai. Hamba tinggalkan emas yang telah hamba berikan padanya. Ya Allah jika hamba melakukan perbuatan itu karena mengharap keridhaanMu, maka lepaskanlah kami dari apa yang menimpa kami. Seketika itu batu mulai terkuak lagi namun belum cukup untuk keluar dari gua itu.
Lelaki ketiga ganti memohon, “Ya Allah, hamba dulu sering menyewa pekerja dan senantiasa memberikan mereka upah, kecuali seorang dari mereka pergi, tidak memberitahukan kemana perginya. Hambapun memutuskan untuk menginvestasikan upah orang itu hingga berkembang menjadi banyak. Suatu ketika si pekerja itu datang kepada hamba dan berkata, “Wahai hamba Allah, berikan padaku upah kerjaku”. Hamba berkata kepadanya, “Semua yang kamu lihat, unta, sapi, kambing dan budak-budak ini adalah upah kerjamu. Orang itu berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah bergurau denganku”. Hamba menjawab, “Aku tidak bergurau”. Maka orang itu mengambil semua hartanya dan tidak menyisakan sedikitpun dari harta itu. “Ya Allah, jika hamba melakukan semua itu demi mengharap ridhaMu, maka lepaskanlah kami dari musibah yang menimpa kami”. Maka terbukalah batu yang menyumbat mulut gua itu, dan mereka bertiga keluar dari gua dengan selamat. (H.R.Al-Bukhari dan Muslim)
Melihat kisah tersebut maka perbanyaklah sadaqah dan amal saleh karena sadaqah dan amal saleh bisa menjadi tolak balak dan akan menjadi penolong dari kesulitan dalam kehidupan.
D. Tugas
Diskusikan tema-tema di bawah ini !
1. Tanda-tanda orang yang berbuat adil dan tidak adil
2. Hikmah orang yang berbuat adil dan bahaya ketidakadilan
3. Tanda-tanda orang yang ridha dan yang tidak ridha
4. Hikmah ridha dan bahaya tidak ridha
5. Tanda-tanda orang beramal saleh dan tidak beramal saleh
6. Hikmah beramal saleh dan bahaya tidak beramal saleh
PERILAKU TERPUJI
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator
4. Membiasakan berperilaku terpuji. 4.1. Menjelaskan pengertian adil, ridha, dan amal saleh.
◊ Mampu menjelaskan pengertian adil.
◊ Mampu menjelaskan pengertian ridha.
◊ Mampu menjelaskan pengertian amal saleh.
4.2. Menampilkan contoh-contoh perilaku adil, ridha, dan amal saleh.
◊ Menampilkan contoh perilaku adil.
◊ Menampilkan contoh perilaku ridha.
◊ Menampilkan contoh perilaku amal saleh.
4.3. Membiasakan perilaku adil, ridha, dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.
◊ Menunjukkan berperilaku adil.
◊ Menunjukkan berperilaku ridha.
◊ Menunjukkan berperilaku amal saleh.
A. Adil
Adil adalah memberikan hak kepada orang yang berhak menerimanya tanpa ada pengurangan, dan meletakkan segala urusan pada tempat yang sebenarnya tanpa ada aniaya, dan mengucapkan kalimat yang benar tanpa ada yang ditakuti kecuali terhadap Allah swt saja. Allah swt. berfirman dalam surat an-Nisa ayat 135 :
•
Artinya :
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan (Q.S. an-Nisa : 135)
Islam menyeru untuk berlaku adil sekalipun diantara kita sedang terjadi permusuhan. Allah swt. berfirman dalam surat al-Maidah ayat 8 :
• •
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al-Maidah ayat 8)
Adil disejajarkan dengan perbuatan kebajikan, karena adil sendiri adalah memberikan hak kepada yang punya. Sehingga orang yang diberikan hak merasa senang dan bahagia. Allah swt. berfirman dalam Q.S. an-Nahl (16) ayat 90 :
•
Artinya :
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (Q.S. an-Nahl : 90)
Prof.Quraisy Shihab menguraikan tentang makna keadilan dalam bukunya Wawasan Al-Quran hal. 114-116, paling tidak ada empat pengertian adil yang dikemukakan oleh para ulama, yaitu ;
1. Adil dalam arti “sama”
Dalam arti memperlakukan sama terhadap orang-orang, tidak membedakan hak-haknya. Firman Allah dari Q.S. an-Nisa (4) ayat 58 berikut :
• •• • •
Artinya :
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat. (Q.S. an-Nisa : 58)
Perhatikan contoh keadilan yang dipraktekkan oleh Ali bin Abi Thalib berikut, pernah suatu hari terjadi sengketa diantara Ali bin Abi Thalib dengan seorang Yahudi, yaitu suatu sengketa yang sampai juga ke meja hijau (majlis hukum) dibawah pimpinan Umar bin Khattab guna mendapatkan penyelesaian. Setelah kedua pihak sama-sama datang menghadap Umar, maka berkatalah Umar kepada Ali : “ Ya Abal Hasan, berdirilah berdekatan dengan lawanmu”. Seusai Umar memberikan keputusannya, Umar melihat bahwa diwajah Ali terdapat tanda-tanda kedukaan, maka ujarnya : “ Wahai Ali, mengapa saya lihat anda agak susah ?”. Ali menjawab : “Sebab anda tidak mempersamakan antara saya dan lawan saya, anda memanggil saya dengan sebutan kehormatanku “Abal Hasan “, sedang anda memanggil Yahudi dengan namanya yang biasa”.
Pernahkah anda saksikan suatu tindak keadilan yang mencapai jangkauan setinggi itu ? Apa yang dipraktekkan oleh khalifah Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib itu adalah cermin keadilan didalam Islam. Karena Islam menyeru kepada umatnya untuk berlaku adil, Islam melarang keras untuk berlaku sebaliknya.
Imam Ibnu Taimiyah berkata : “ Bahwasanya Allah akan menolong penguasa atau pemerintah yang adil sekalipun dia pemerintah kafir, dan Allah tidak akan menolong penguasa pemerintah yang zalim kendatipun dia itu Islam “. Allah swt. berfirman dalam surat al-Hud ayat 117 :
Artinya :
Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.(Q.S. al-Hud :117)
2. Adil dalam arti “seimbang”
Keseimbangan sangat diperlukan dalam suatu kelompok yang didalamnya terdapat beragam bagian yang bekerja menuju satu tujuan tertentu. Dengan terhimpunnya bagian-bagian itu, kelompok tersebut dapat berjalan atau bertahan sesuai tujuan kehadirannya. Firman Allah dalam surat al-Infithar (82) ayat 6-7 berikut ;
Artinya :
Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. (Q.S. al Infithar :6-7)
Kata عدل dalam ayat tersebut berarti seimbang. Tubuh manusia akan normal selama bagian-bagian tubuh itu semua bekerja atau berfungsi sesuai tujuan kehadirannya.
Contoh lainnya terdapat dalam firman Allah Q.S. al-Mulk (67) ayat 3 berikut ;
•
Artinya :
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (Q.S. al-Mulk :3)
Alam semesta akan bertahan selama bagian-bagian dari ekosistem yang ditetapkan Allah swt. bekerja dengan seimbang.
3. Adil dalam arti “Perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya”.
Pengertian inilah yang didefinisikan dengan “menempatkan sesuatu pada tempatnya” atau “memberi pihak lain haknya melalui jalan yang terdekat”. Lawannya adalah kezaliman dalam arti melanggar hak-hak pihak lain. Pengertian ini melahirkan keadilan sosial.
4. Adil yang dinisbatkan kepada Ilahi.
Adil disini artinya memelihara kewajaran atas berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk itu”. Keadilan Ilahi merupakan rahmat dan kebaikanNya. Keadilannya mengandung konsekwensi bahwa rahmat Allah swt. tidak tertahan untuk diperoleh, sejauh makhluk itu dapat meraihnya.
B. Ridha
Ridha (رِضَى ) menurut kamus al-Munawwir artinya senang, suka, rela. Dalam kehidupan ini seseorang harus mampu menampilkan sikap ridha minimal dalam empat hal:
a. Ridha terhadap perintah dan larangan Allah
Artinya ridha untuk mentaati Allah dan Rasulnya. Pada hakekatnya seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, dapat diartikan sebagai pernyataan ridha terhadap semua nilai dan syari’ah Islam. Perhatikan firman Allah dalam Q.S. al-Bayyinah (98) ayat 8
•
Artinya :
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Q.S.al-Bayyinah ayat 8 )
Dari ayat tersebut dapat dihayati, jika kita ridha terhadap perintah Allah maka Allah pun ridha terhadap kita.
b. Ridha terhadap taqdir Allah.
Mari kita simak, apa yang dikisahkan berikut ; pada suatu hari Ali bin Abi Thalib r.a. melihat Ady bin Hatim bermuram durja, maka Ali bertanya ; “Mengapa engkau tampak bersedih hati ?”. Ady menjawab ; “Bagaimana aku tidak bersedih hati, dua orang anakku terbunuh dan mataku tercongkel dalam pertempuran”. Ali terdiam haru, kemudian berkata, “Wahai Ady, barang siapa ridha terhadap taqdir Allah swt. maka taqdir itu tetap berlaku atasnya dan dia mendapatkan pahalaNya, dan barang siapa tidak ridha terhadap taqdirNya maka hal itupun tetap berlaku atasnya, dan terhapus amalnya”.
Ada dua sikap utama bagi seseorang ketika dia tertimpa sesuatu yang tidak diinginkan yaitu ridha dan sabar. Ridha merupakan keutamaan yang dianjurkan, sedangkan sabar adalah keharusan dan kemestian yang perlu dilakukan oleh seorang muslim.
Perbedaan antara sabar dan ridha adalah sabar merupakan perilaku menahan nafsu dan mengekangnya dari kebencian, sekalipun menyakitkan dan mengharap akan segera berlalunya musibah. Sedangkan ridha adalah kelapangan jiwa dalam menerima taqdir Allah swt. Dan menjadikan ridha sendiri sebagai penawarnya. Sebab didalam hatinya selalu tertanam sangkaan baik (Husnuzan) terhadap sang Khaliq bagi orang yang ridha ujian adalah pembangkit semangat untuk semakin dekat kepada Allah, dan semakin mengasyikkan dirinya untuk bermusyahadah kepada Allah.
Dalam suatu kisah Abu Darda’, pernah melayat pada sebuah keluarga, yang salah satu anggota keluarganya meninggal dunia. Keluarga itu ridha dan tabah serta memuji Allah swt. Maka Abu Darda’ berkata kepada mereka. “Engkau benar, sesungguhnya Allah swt. apabila memutuskan suatu perkara, maka dia senang jika taqdirnya itu diterima dengan rela atau ridha.
Begitu tingginya keutamaan ridha, hingga ulama salaf mengatakan, tidak akan tampak di akhirat derajat yang tertinggi daripada orang-orang yang senantiasa ridha kepada Allah swt. dalam situasi apapun (Hikmah, Republika, Senin 5 Februari 2007, Nomor: 032/Tahun ke 15)
c. Ridha terhadap perintah orang tua.
Ridha terhadap perintah orang tua merupakan salah satu bentuk ketaatan kita kepada Allah swt. karena keridhaan Allah tergantung pada keridhaan orang tua, perintah Allah dalam Q.S. Luqman (31) ayat 14 ;
•
Artinya :
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Luqman :14)
Bahkan Rasulullah bersabda : “Keridhaan Allah tergantung keridhaan orang tua, dan murka Allah tergantung murka orang tua”. Begitulah tingginya nilai ridha orang tua dalam kehidupan kita, sehingga untuk mendapatkan keridhaan dari Allah, mempersyaratkan adanya keridhaan orang tua. Ingatlah kisah Juraij, walaupun beliau ahli ibadah, ia mendapat murka Allah karena ibunya tersinggung ketika ia tidak menghiraukan panggilan ibunya.
d. Ridha terhadap peraturan dan undang-undang negara
Mentaati peraturan yang belaku merupakan bagian dari ajaran Islam dan merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah swt. karena dengan demikian akan menjamin keteraturan dan ketertiban sosial. Mari kita hayati firman Allah dalam Q.S. an-Nisa (4) ayat 59 berikut :
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.( Q.S. an-Nisa :59)
Ulil Amri artinya orang-orang yang diberi kewenangan, seperti ulama dan umara (Ulama dan pemerintah). Ulama dengan fatwa dan nasehatnya sedangkan umara dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Termasuk dalam ridha terhadap peraturan dan undang-undang negara adalah ridha terhadap peraturan sekolah, karena dengan sikap demikian, berarti membantu diri sendiri, orang tua, guru dan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan demikian mempersiapkan diri menjadi kader bangsa yang tangguh.
C. Amal Saleh
Amal Saleh artinya perbuatan yang baik. Beramal shaleh artinya melakukan hal-hal positif secara kreatif. Amal diartikan sebuah proses. Amal saleh diartikan sebuah proses yang baik sehingga menghasilkan sesuatu yang baik. Memperbanyak amal saleh berarti banyak jalan/cara yang baik (halal) untuk memperoleh sesuatu yang baik. Misalnya si Adnan rajin belajar dengan menciptakan cara-cara (berbagai cara) belajar yang kreatif, hasilnya dia memperoleh nilai maksimal dalam ujiannya. Rajin belajar dengan berbagai cara kreatif adalah amal saleh. Ukuran kesalehan adalah berdasarkan al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. yang prinsipnya antara lain sebagai berikut:
o Niat yang tulus
Dalam Islam, niat adalah salah satu faktor penentu apakah amal sesorang dikatakan shaleh atau bukan. Sebelum seseorang berbuat hendaklah luruskan dulu niat dan tujuannya , yaitu hanya semata-mata mencari ridha Allah. Sebagai contoh, menyapu kelas yang kotor adalah amal shaleh, tetapi jika dilakukan terpaksa atau karena ingin dipuji oleh guru, maka pertbuatan tersebut tidak termasuk amal shaleh karena tidak punya nilai di hadapan Allah.
o Ada manfa’atnya
Artinya perbuatan yang hendak dilakukan benar-benar bermanfa’at baik bagi dirinya maupun bagi orang lain; Baik untuk di dunia ataupun untuk di akhirat. Islam mengajarkan bahwa perbuatan yang tak mengandung manfa’at tidak boleh dilakukan, karena termasuk perbuatan sia-sia (tabzir)
o Prosesnya benar
Perbuatan dipandang benar atau termasuk amal shaleh apabila prosesnya tidak bertentangan dengan norma-norma agama dan akhlaq mulia. Sebagai contoh, seseorang berjualan atau dagang dengan tujuan untuk mencari rizki agar bisa menafkahi keluarganya, tetapi dengan cara-cara yang tidak halal, misalnya dengan cara menipu atau mengurangi timbangan dan sebagainya. Maka perbuatan dagang tersebut menjadi tercela, tidak termasuk amal shaleh.
1. Bentuk-bentuk amal saleh
Saleh secara ilahiyah dan saleh secara sosial. Kesalehan haruslah memiliki dua dimensi sekaligus. Jika dimata Allah dianggap saleh, maka dimata manusiapun haruslah mendapatkan pengakuan yang sama. Karena kesalehan dihadapan Allah haruslah diperoleh manfaatnya oleh masyarakat manusia sekitarnya. Perhatikan hadis berikut yang artinya :
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik-baik, kalau ia tidak sanggup melakukannya, hendaklah ia diam”.
Sabdanya lagi :
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya”.
Sabdanya lagi :
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormat tamunya”.
Sabdanya lagi :
“Iman itu ada 70 cabang, dan malu termasuk cabang iman”.
Dari hadis-hadis tersebut, bahwa buah dari keimanan kepada Allah dan hari akhir adalah kesalehan sosial.
2. Cara memelihara kesalehan, adalah bergaul dengan orang-orang yang saleh
Perhatikan kisah-kisah berikut !
Suatu hari, Syafiq al-Balkhi (seorang dokter ahli jiwa) berkata kepada muridnya Hatim al-Asham.”Apa yang kau pelajari selama tinggal bersamaku (30 tahun). Hatim al-Asham menjawab, ada enam perkara yang dapat kuambil :
Pertama, Aku melihat orang-orang selalu ragu dalam mensikapi masalah ketentuan rizki. Tidak satupun dari mereka kecuali bersikap kikir terhadap harta yang dimilikinya, dan tamak dalam memperolehnya. Namun aku bertawakal kepada Allah karena firmanNya dalam Q.S. Hud (11) ayat 6 : “Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi ini melainkan Allahlah yang menjamin rizkinya”. Oleh karena aku termasuk binatang melata, maka hatiku tidak merisaukan sesuatu yang sudah dijamin Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat”. Sang guru baru berkata, “Bagus”.
Kedua, Aku melihat setiap orang mempunyai teman untuk mencurahkan rahasia dan mengadukan permasalahannya kepadanya, namun teman mereka itu tidak dapat menyimpan rahasia dan tidak mau saling menolong. Maka aku menjadikan amal salehku sebagai teman, supaya dapat menolongku saat hari perhitungan (hisab), meneguhkan diriku dihadapan Allah dan menemaniku saat meniti shirat. Sang guru berkata : “Bagus”.
Ketiga, Aku melihat setiap orang mempunyai musuh dan saat kucermati diriku, ternyata musuhku bukanlah orang yang menggunjingku. Tidak pula orang yang menzalimiku dan menyakitiku, tetapi musuhku adalah orang yang ketika aku sedang taat kepada Allah ia menggodaku dengan perbuatan maksiatnya. Aku melihat bahwa yang berbuat demikian itu adalah iblis, jiwa dunia dan hawa nafsu. Aku menjadikan semua itu sebagai musuh, aku menjaga diri dari mereka dan aku mempersiapkan diri untuk memerangi mereka. Aku tidak akan membiarkan salah satupun dari mereka mendekatiku. Sang guru berkata : “Bagus”.
Keempat, Aku melihat bahwa setiap makhluk hidup senantiasa dibuntuti. Dan yang membuntuti adalah malaikat maut. Maka aku mempersiapkan diriku untuk menemuinya hingga bila dia datang, aku pergi bersamanya tanpa halangan. Sang guru berkata : “Bagus”.
Kelima, Aku melihat orang-orang saling mencinta dan membenci dan aku melihat orang mencintai tidak memiliki sesuatu untuk kekasihnya. Aku merenungkan sebab percintaan dan kebencian mereka, maka aku tahu penyebabnya adalah fisik (jasad). Aku menafikan (sebab fisik) dengan menafikan hubungan-hubungan antar jiwa dan jasadku, yaitu hubungan syahwat. Maka aku mencintai semua orang, aku tidak merelakan sesuatu atas mereka kecuali apa yang aku ridhai untuk diriku. Sang guru berkata : “Bagus”.
Keenam, Aku melihat bahwa setiap orang akan meninggalkan tempat tinggalnya dan nasib setiap orang akan kembali ke liang kubur. Maka aku mempersiapkan semua amal perbuatan yang mampu kulakukan dan yang akan membahagiakanku ditempat yang baru itu, yang tidak ada satupun dibaliknya, kecuali surga dan neraka.
Sang guru Syafiq al-Balkhi menimpali :”cukup dan laksanakanlah enam perkara itu sampai mati”.
Dari kisah tersebut dapat disimpulkan bahwa kesalehan akan terpelihara dengan baik apabila kita bergaul dengan orang-orang saleh juga.
3. Amal saleh dapat menolong saat kesulitan
Amal-amal saleh ternyata dapat menolong si pemiliknya dalam kesulitan, sebagaimana dikisahkan oleh rasulullah berikut !
“Ada tiga orang dari umat sebelum kalian melakukan perjalanan hingga malam menjelang. Merekapun bermalam di sebuah gua. Ketika mereka masuk di bagian dalam, tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari atas bukit dan menyumbat mulut gua. Mereka berkata kepada diri mereka masing-masing. Tidak akan bisa menyelamatkan diri, kecuali bila memohon kepada Allah dengan perbuatan saleh pernah dilakukan”.
Seorang dari mereka berdo’a : “Ya Allah hamba dulu mempunyai bapak dan ibu yang sudah tua renta. Hamba senantiasa memberi minum kedua orang tua hamba sebelum memberi minum keluarga dan anak-anak hamba. Pada suatu hari karena pekerjaan hamba mencari kayu membuat hamba pergi terlampau jauh hingga tidak bisa pulang dan merekapun tertidur menunggu kedatangan hamba. Sampai di rumah hamba langsung memerah susu untuk keduanya, tapi mereka sudah pulas. Hamba merasa segan untuk membangunkan mereka dan hambapun tidak mau memberi minum keluarga dan anak-anak hamba sebelum mereka minum terlebih dahulu. Maka hambapun memutuskan untuk tetap menunggu dengan periuk di tangan hingga fajar mulai menerangi dan anak-anak hamba merintih kelaparan, merajuk di kaki hamba. Tak lama kedua orang tua hamba bangun dan mereka bisa minum minuman yang telah hamba sediakan. “Ya Allah, Jika menurutMu hamba melakukan hal itu demi mendapat keridhaanMu, maka lepaskanlah kami dari musibah batu yang menimpa kami”. Dan tiba-tiba batu penyumbat mulut gua itu bergeser, tetapi belum cukup untuk bisa keluar.
Salah seorang dari mereka memohon lagi : Hamba dulu mempunyai saudara sepupu perempuan dan dia adalah orang yang paling hamba cintai. Hamba terus berusaha membujuknya, namun ia menolak hasrat cinta hamba. Hingga akhirnya datang musim kemarau yang panjang, iapun datang menemui hamba, hamba memberinya 120 dinar dengan syarat ia mau melayani keinginan hamba, maka ia menyanggupinya. Ketika hamba hendak menjamahnya, ia berkata, “takutlah kepada Allah dan janganlah engkau gunakan cincin ini kecuali sesuai haknya”. Mendengar kata-kata itu hambapun pergi meninggalkannya, dan dia tetap orang yang paling hamba cintai. Hamba tinggalkan emas yang telah hamba berikan padanya. Ya Allah jika hamba melakukan perbuatan itu karena mengharap keridhaanMu, maka lepaskanlah kami dari apa yang menimpa kami. Seketika itu batu mulai terkuak lagi namun belum cukup untuk keluar dari gua itu.
Lelaki ketiga ganti memohon, “Ya Allah, hamba dulu sering menyewa pekerja dan senantiasa memberikan mereka upah, kecuali seorang dari mereka pergi, tidak memberitahukan kemana perginya. Hambapun memutuskan untuk menginvestasikan upah orang itu hingga berkembang menjadi banyak. Suatu ketika si pekerja itu datang kepada hamba dan berkata, “Wahai hamba Allah, berikan padaku upah kerjaku”. Hamba berkata kepadanya, “Semua yang kamu lihat, unta, sapi, kambing dan budak-budak ini adalah upah kerjamu. Orang itu berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah bergurau denganku”. Hamba menjawab, “Aku tidak bergurau”. Maka orang itu mengambil semua hartanya dan tidak menyisakan sedikitpun dari harta itu. “Ya Allah, jika hamba melakukan semua itu demi mengharap ridhaMu, maka lepaskanlah kami dari musibah yang menimpa kami”. Maka terbukalah batu yang menyumbat mulut gua itu, dan mereka bertiga keluar dari gua dengan selamat. (H.R.Al-Bukhari dan Muslim)
Melihat kisah tersebut maka perbanyaklah sadaqah dan amal saleh karena sadaqah dan amal saleh bisa menjadi tolak balak dan akan menjadi penolong dari kesulitan dalam kehidupan.
D. Tugas
Diskusikan tema-tema di bawah ini !
1. Tanda-tanda orang yang berbuat adil dan tidak adil
2. Hikmah orang yang berbuat adil dan bahaya ketidakadilan
3. Tanda-tanda orang yang ridha dan yang tidak ridha
4. Hikmah ridha dan bahaya tidak ridha
5. Tanda-tanda orang beramal saleh dan tidak beramal saleh
6. Hikmah beramal saleh dan bahaya tidak beramal saleh
Sabat
pendidikan agama
Etos kerja
BAB II
ETOS KERJA
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator
2. Memahami ayat-ayat Al-Quran tentang etos kerja 2.1. Membaca Q. S. al-Muj ãdalah : 11 dan Q.S. al-Jumu’ah : 9-10
◊ Mampu membaca Q.S. al-Mujãdalah: 11 dan Q.S. al-Jumu’ah: 9-10 dengan baik dan benar
◊ Mampu mengidentifikasi tajwid Q.S. al-Mujãdalah: 11 dan Q.S. al-Jumu’ah: 9-10
2.2. Menjelaskan arti Q. S. al-Mujãdalah : 11 dan Q.S. al-Jumu’ah : 9-10
◊ Mampu mengartikan masing-masing kata yang terdapat pada Q.S. al-Mujãdalah: 11 dan Q.S. al-Jumu’ah: 9-10
◊ Mampu menterjemahkan Q.S. al-Mujãdalah: 11 dan Q.S. al-Jumu’ah: 9-10
2.3. Membiasakan beretos kerja seperti terkandung dalam Q. S. al-Mujãdalah : 11 dan Q.S. al-Jumu’ah : 9-10
◊ Mampu mengidentifikasi perilaku etos kerja sesuai dengan Q.S. al-Mujãdalah: 11 dan Q.S. al-Jumu’ah: 9-10
◊ Mampu mempraktekkan perilaku etos kerja seperti terkandung dalam Q.S. al-Mujãdalah: 11 dan Q.S. al-Jumu’ah: 9-10
A. Surat Al-Mujãdalah Ayat 11
Artinya :
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al-Mujãdalah ayat 11)
1. Identifikasi Tajwid
No Kalimat latin Hukum Tajwid Keterangan
1 Yã’ayyuhã Mad jaiz munfasil Mad asli bertemu hamzah pada kata lain
2 Qîla Mad asli Kasrah bertemu ya sukun
3 Almajãlisi Al qamariyah Al bertemu mim
4 Yarfa’illãhu Tarqiq Lafaz jalalah sebelumnya kasrah
5 Ãmanü Mad badal Hamzah bertemu huruf mad dalam satu kata
6 Khabîr Mad ‘arid lissukun Mad asli yang diwaqafkan
2. Mufradat (kosa kata)
Kata Artinya Kata Artinya
يَا أَيُّهَا Hai انْشُزُوا Berdirilah kamu
الَّذِينَ Orang-orang يَرْفَعِ Akan meninggikan
آمَنُوا Beriman مِنْكُمْ Di antaramu
إِذَا قِيلَ Apabila kamu dikatakan أُوتُوا الْعِلْمَ Orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
تَفَسَّحُوا Berlapang-lapanglah دَرَجَاتٍ Beberapa derajat
فِي الْمَجَالِسِ Dalam majlis بِمَا Apa yang
فَافْسَحُوا Maka lapangkanlah Kamu kerjakan
يَفْسَحِ اللَّهُ Niscaya Allah akan memberi kelapangan خَبِيرٌ Maha mengetahui
لَكُمْ Untukmu
3. Penjelasan ayat
Sebagai orang yang beriman harus memiliki sikap lapang dada dalam kehidupan, yaitu suka memberi tempat dan kesempatan pada orang lain walau dengan mamaksakan diri semata-mata mengharap ridha Ilahi.
Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang memberikan bantuan dan kemudahan kepada orang lain niscaya Allah akan memberikan bantuan dan kemudahan kepadanya.
Sabda Rasulullah yang artinya :
“Allah akan selalu melindungi hambanya selama hamba tersebut mau melindungi saudaranya”.
Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sabda Rasulullah yang artinya :
“Keutamaan orang berilmu dari orang yang tidak berilmu bagaikan keutamaan bulan purnama terhadap semua bintang-bintang”.
Dalam beramal / bekerja harus berazaskan “Iman dan Ilmu” sehingga benar sesuai aturan dan baik berdaya guna dalam kehidupan tanpa berdampak negatif / merugikan baik dirinya maupun orang lain sesuai dengan “Qudrat dan Iradat Allah swt”.
Insan beriman harus bersemangat untuk memperbaiki atau merubah nasib / keadaan hidupnya dengan kerja keras agar meraih kesuksesan yang dapat menghantarkan hidup bahagia selamat dunia dan akhirat. Sesuai firman Allah yang artinya : “ Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya” (Q.S.ar-Ra’d : 11)
4. Pelajaran yang dapat diambil
a. Kita harus memiliki sikap tenggang rasa dan lapang dada terhadap orang lain tanpa membedakan.
b. Dengan memberikan kemudahan kepada orang lain niscaya Allah akan memberi kemudahan kepada kita.
c. Jadilah orang yang beriman dan berilmu, sehingga amal perbuatannya akan bermanfaat dan Allah akan mengangkat derajatnya.
d. Tuntutlah ilmu setinggi-tingginya karena semakin tinggi ilmu dan iman seseorang akan semakin tinggi derajatnya dan kemuliaannya disisi Allah.
B. Surat Al-Jumu’ah (62) : 9-10
Artinya
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (Q.S. al-Jumu’ah : 9-10)
1. Identifikasi Tajwid
No Kalimat latin Hukum Tajwid Keterangan
1 Miyyaumi Idgham bi gunnah Nun sukun bertemu ya
2 Aljumuati Al Qamariyah Al bertemu jim
3 Khairullakum Idgham bila gunnah Dammatain bertemu lam
4 Ingkungtum Ikhfa Nun sukun bertemu kaf dan ta
5 Talamün Mad ‘arid lissukun Mad asli yang diwaqafkan.
6 Wabtagü Iqlab Ba sukun bukan karena waqaf
7 waíkurullãh Tafkhim Lafaì jalalah sebelumnya dammah
8 Fangsyirü Ikhfa Nun sukun bertemu ta
9 Tuflièün Mad ‘arid lissukun Mad asli yang diwaqafkan.
2. Mufradat (kosa kata)
Kata Artinya Kata Artinya
إِذَا نُودِيَ Apabila diseru فَإِذَا قُضِيَتِ Apabila telah ditunaikan
لِلصَّلاةِ Untuk menunaikan sembahyang فَانْتَشِرُوا Maka bertebaranlah kamu
يَوْمِ الْجُمُعَةِ Pada hari Jum`at فِي الأرْضِ Di muka bumi
فَاسْعَوْا Maka bersegeralah وَابْتَغُوا Dan carilah
وَذَرُوا الْبَيْعَ Dan tinggalkanlah jual beli مِنْ فَضْلِ اللَّهِ Karunia Allah
ذَلِكُمْ Yang demikian itu وَاذْكُرُوا اللَّهَ Dan ingatlah Allah
خَيْرٌ لَكُمْ Lebih baik bagimu كَثِيرًا Banyak-banyak
إِنْ كُنْتُمْ Jika kamu لَعَلَّكُمْ Supaya kamu
تَعْلَمُونَ Mengetahui تُفْلِحُونَ Beruntung
3. Penjelasan Ayat
Hendaknya bersegeralah memenuhi panggilan Allah dengan menunaikan ibadah salat jum’at bagi laki-laki walaupun sedang melakukan aktifitas perniagaan yang sangat menarik keuntungan bisnisnya, kecuali berhalangan seperti sakit atau dalam perjalanan jauh. Hal ini menunjukkan bahwa urusan akhirat lebih penting dari pada urusan dunia. Karena akhirat lebih kekal sedangkan dunia sementara.
Namun demikian setelah menunaikan ibadah salat jum’at tidak boleh mengabaikan urusan dunia, bersegeralah bergegas untuk mencari nafkah demi kepentingan hidup diri dan keluarganya dan tidak boleh malas, karena karunia Allah yang terbentang dijagat raya ini diperuntukkan bagi manusia yang harus diusahakan. Ayat ini mengajarkan kita untuk bekerja keras dalam meraih kebahagiaan dunia. Dan Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang tidak hanya memikirkan akhirat saja tapi dunia juga penting. Dunia juga sangat menunjang kehidupan akhirat, karena dengan kelebihan rizki kita bisa bersadaqah dan itu adalah investasi akhirat. Tentang kerja keras dan keseimbangan dunia dan akhirat sesuai sabda Rasulullah saw. :
“Bekerjalah untuk (kebutuhan) duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok pagi” (H.R. Ibnu Asakir)
Pada kesempatan lain Rasulullah sering memotivasi umatnya untuk senantiasa meningkatkan etos kerja sebagaiamana dalam beberapa sabdanya di bawah ini:
” Yang sangat menakutkan atas umatku adalah banyak makan, lama tidur serta malas. Pengangguran hanya akan menjadikan seorang manusia menjuadi keras hati.”
(HR. Al-Syihab)
“Sesungghnya Allah mencintai hamba yang berkarya. Dan barang siapa yang bekerja keras untuk keluarganya maka ia seperti pejuang di jalan Allah azza wajalla.”
(HR. Ahmad)
“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil keterampilan tangannya sendiri.”
(HR. Bukhari)
Untuk tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat kita diperintahkan untuk banyak berzikir dan berdo’a agar sukses dalam meraih cita-cita, ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
4. Pelajaran yang dapat diambil
a. Salat Jum’at hukumnya wajib bagi laki-laki.
b. Kita harus kerja keras untuk kepentingan hidup di dunia, berdo’a dan beribadah dengan sungguh-sungguh untuk kepentingan akhirat.
c. Setiap usaha harus dibarengi dengan do’a dan zikir kepada Allah agar tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat
Hikmah
Suatu ketika ada sahabat yang selalu menyembunyikan tangannya dari pandangan Rasulullah Saw. Rasul heran dan bertanya. Sahabat itu beralasan bahwa ia malu karena ia sebagai penebang kayu tangannya kasar dan tidak halus. Rasulullah memegang tangan orang tersebut lalu menciumnya seraya bersabda bahwa tangan seperti inilah yang tidak akan disentuh api neraka.
(Diolog jum’at, 14 Maret 2008, Tabloid Republika, hal. 4
C. Tugas
I. Perorangan
1. Isilah kolom tajwid di bawah ini !
No Kalimat Hukum Tajwid keterangan
1
2
3
4
5
2. Artikan kosa kata di bawah ini dengan tepat !
No Kata Artinya No Kata Artinya
1 4
2 5
3 6
3. Tulislah surat an-Najm ayat 39-41 dengan artinya ! Diskusikan kandungan maknanya dan laporkan hasilnya !
4. Berikalah harakat ayat di bawah ini dan terjemahkan kemudian jelaskan maksudnya !
فإذا قضيت الصّلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل اللّه واذكروا اللّه كثيرا لعلّكم تفلحون
5. Jelaskan secara singkat kandungan makna Q.S. Al-Jumuah ayat 10
II. Kelompok
Tulislah biografi orang-orang sukses. Setiap kelompok cukup satu orang saja. Diskusikan apa rahasia kesuksesannya, dan dalam bidang apa saja? Jangan lupa apakah kesuksesannya itu dapat berbagi atau memberi manfa’at buat orang lain ?.
ETOS KERJA
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator
2. Memahami ayat-ayat Al-Quran tentang etos kerja 2.1. Membaca Q. S. al-Muj ãdalah : 11 dan Q.S. al-Jumu’ah : 9-10
◊ Mampu membaca Q.S. al-Mujãdalah: 11 dan Q.S. al-Jumu’ah: 9-10 dengan baik dan benar
◊ Mampu mengidentifikasi tajwid Q.S. al-Mujãdalah: 11 dan Q.S. al-Jumu’ah: 9-10
2.2. Menjelaskan arti Q. S. al-Mujãdalah : 11 dan Q.S. al-Jumu’ah : 9-10
◊ Mampu mengartikan masing-masing kata yang terdapat pada Q.S. al-Mujãdalah: 11 dan Q.S. al-Jumu’ah: 9-10
◊ Mampu menterjemahkan Q.S. al-Mujãdalah: 11 dan Q.S. al-Jumu’ah: 9-10
2.3. Membiasakan beretos kerja seperti terkandung dalam Q. S. al-Mujãdalah : 11 dan Q.S. al-Jumu’ah : 9-10
◊ Mampu mengidentifikasi perilaku etos kerja sesuai dengan Q.S. al-Mujãdalah: 11 dan Q.S. al-Jumu’ah: 9-10
◊ Mampu mempraktekkan perilaku etos kerja seperti terkandung dalam Q.S. al-Mujãdalah: 11 dan Q.S. al-Jumu’ah: 9-10
A. Surat Al-Mujãdalah Ayat 11
Artinya :
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al-Mujãdalah ayat 11)
1. Identifikasi Tajwid
No Kalimat latin Hukum Tajwid Keterangan
1 Yã’ayyuhã Mad jaiz munfasil Mad asli bertemu hamzah pada kata lain
2 Qîla Mad asli Kasrah bertemu ya sukun
3 Almajãlisi Al qamariyah Al bertemu mim
4 Yarfa’illãhu Tarqiq Lafaz jalalah sebelumnya kasrah
5 Ãmanü Mad badal Hamzah bertemu huruf mad dalam satu kata
6 Khabîr Mad ‘arid lissukun Mad asli yang diwaqafkan
2. Mufradat (kosa kata)
Kata Artinya Kata Artinya
يَا أَيُّهَا Hai انْشُزُوا Berdirilah kamu
الَّذِينَ Orang-orang يَرْفَعِ Akan meninggikan
آمَنُوا Beriman مِنْكُمْ Di antaramu
إِذَا قِيلَ Apabila kamu dikatakan أُوتُوا الْعِلْمَ Orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
تَفَسَّحُوا Berlapang-lapanglah دَرَجَاتٍ Beberapa derajat
فِي الْمَجَالِسِ Dalam majlis بِمَا Apa yang
فَافْسَحُوا Maka lapangkanlah Kamu kerjakan
يَفْسَحِ اللَّهُ Niscaya Allah akan memberi kelapangan خَبِيرٌ Maha mengetahui
لَكُمْ Untukmu
3. Penjelasan ayat
Sebagai orang yang beriman harus memiliki sikap lapang dada dalam kehidupan, yaitu suka memberi tempat dan kesempatan pada orang lain walau dengan mamaksakan diri semata-mata mengharap ridha Ilahi.
Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang memberikan bantuan dan kemudahan kepada orang lain niscaya Allah akan memberikan bantuan dan kemudahan kepadanya.
Sabda Rasulullah yang artinya :
“Allah akan selalu melindungi hambanya selama hamba tersebut mau melindungi saudaranya”.
Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sabda Rasulullah yang artinya :
“Keutamaan orang berilmu dari orang yang tidak berilmu bagaikan keutamaan bulan purnama terhadap semua bintang-bintang”.
Dalam beramal / bekerja harus berazaskan “Iman dan Ilmu” sehingga benar sesuai aturan dan baik berdaya guna dalam kehidupan tanpa berdampak negatif / merugikan baik dirinya maupun orang lain sesuai dengan “Qudrat dan Iradat Allah swt”.
Insan beriman harus bersemangat untuk memperbaiki atau merubah nasib / keadaan hidupnya dengan kerja keras agar meraih kesuksesan yang dapat menghantarkan hidup bahagia selamat dunia dan akhirat. Sesuai firman Allah yang artinya : “ Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya” (Q.S.ar-Ra’d : 11)
4. Pelajaran yang dapat diambil
a. Kita harus memiliki sikap tenggang rasa dan lapang dada terhadap orang lain tanpa membedakan.
b. Dengan memberikan kemudahan kepada orang lain niscaya Allah akan memberi kemudahan kepada kita.
c. Jadilah orang yang beriman dan berilmu, sehingga amal perbuatannya akan bermanfaat dan Allah akan mengangkat derajatnya.
d. Tuntutlah ilmu setinggi-tingginya karena semakin tinggi ilmu dan iman seseorang akan semakin tinggi derajatnya dan kemuliaannya disisi Allah.
B. Surat Al-Jumu’ah (62) : 9-10
Artinya
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (Q.S. al-Jumu’ah : 9-10)
1. Identifikasi Tajwid
No Kalimat latin Hukum Tajwid Keterangan
1 Miyyaumi Idgham bi gunnah Nun sukun bertemu ya
2 Aljumuati Al Qamariyah Al bertemu jim
3 Khairullakum Idgham bila gunnah Dammatain bertemu lam
4 Ingkungtum Ikhfa Nun sukun bertemu kaf dan ta
5 Talamün Mad ‘arid lissukun Mad asli yang diwaqafkan.
6 Wabtagü Iqlab Ba sukun bukan karena waqaf
7 waíkurullãh Tafkhim Lafaì jalalah sebelumnya dammah
8 Fangsyirü Ikhfa Nun sukun bertemu ta
9 Tuflièün Mad ‘arid lissukun Mad asli yang diwaqafkan.
2. Mufradat (kosa kata)
Kata Artinya Kata Artinya
إِذَا نُودِيَ Apabila diseru فَإِذَا قُضِيَتِ Apabila telah ditunaikan
لِلصَّلاةِ Untuk menunaikan sembahyang فَانْتَشِرُوا Maka bertebaranlah kamu
يَوْمِ الْجُمُعَةِ Pada hari Jum`at فِي الأرْضِ Di muka bumi
فَاسْعَوْا Maka bersegeralah وَابْتَغُوا Dan carilah
وَذَرُوا الْبَيْعَ Dan tinggalkanlah jual beli مِنْ فَضْلِ اللَّهِ Karunia Allah
ذَلِكُمْ Yang demikian itu وَاذْكُرُوا اللَّهَ Dan ingatlah Allah
خَيْرٌ لَكُمْ Lebih baik bagimu كَثِيرًا Banyak-banyak
إِنْ كُنْتُمْ Jika kamu لَعَلَّكُمْ Supaya kamu
تَعْلَمُونَ Mengetahui تُفْلِحُونَ Beruntung
3. Penjelasan Ayat
Hendaknya bersegeralah memenuhi panggilan Allah dengan menunaikan ibadah salat jum’at bagi laki-laki walaupun sedang melakukan aktifitas perniagaan yang sangat menarik keuntungan bisnisnya, kecuali berhalangan seperti sakit atau dalam perjalanan jauh. Hal ini menunjukkan bahwa urusan akhirat lebih penting dari pada urusan dunia. Karena akhirat lebih kekal sedangkan dunia sementara.
Namun demikian setelah menunaikan ibadah salat jum’at tidak boleh mengabaikan urusan dunia, bersegeralah bergegas untuk mencari nafkah demi kepentingan hidup diri dan keluarganya dan tidak boleh malas, karena karunia Allah yang terbentang dijagat raya ini diperuntukkan bagi manusia yang harus diusahakan. Ayat ini mengajarkan kita untuk bekerja keras dalam meraih kebahagiaan dunia. Dan Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang tidak hanya memikirkan akhirat saja tapi dunia juga penting. Dunia juga sangat menunjang kehidupan akhirat, karena dengan kelebihan rizki kita bisa bersadaqah dan itu adalah investasi akhirat. Tentang kerja keras dan keseimbangan dunia dan akhirat sesuai sabda Rasulullah saw. :
“Bekerjalah untuk (kebutuhan) duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok pagi” (H.R. Ibnu Asakir)
Pada kesempatan lain Rasulullah sering memotivasi umatnya untuk senantiasa meningkatkan etos kerja sebagaiamana dalam beberapa sabdanya di bawah ini:
” Yang sangat menakutkan atas umatku adalah banyak makan, lama tidur serta malas. Pengangguran hanya akan menjadikan seorang manusia menjuadi keras hati.”
(HR. Al-Syihab)
“Sesungghnya Allah mencintai hamba yang berkarya. Dan barang siapa yang bekerja keras untuk keluarganya maka ia seperti pejuang di jalan Allah azza wajalla.”
(HR. Ahmad)
“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil keterampilan tangannya sendiri.”
(HR. Bukhari)
Untuk tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat kita diperintahkan untuk banyak berzikir dan berdo’a agar sukses dalam meraih cita-cita, ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
4. Pelajaran yang dapat diambil
a. Salat Jum’at hukumnya wajib bagi laki-laki.
b. Kita harus kerja keras untuk kepentingan hidup di dunia, berdo’a dan beribadah dengan sungguh-sungguh untuk kepentingan akhirat.
c. Setiap usaha harus dibarengi dengan do’a dan zikir kepada Allah agar tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat
Hikmah
Suatu ketika ada sahabat yang selalu menyembunyikan tangannya dari pandangan Rasulullah Saw. Rasul heran dan bertanya. Sahabat itu beralasan bahwa ia malu karena ia sebagai penebang kayu tangannya kasar dan tidak halus. Rasulullah memegang tangan orang tersebut lalu menciumnya seraya bersabda bahwa tangan seperti inilah yang tidak akan disentuh api neraka.
(Diolog jum’at, 14 Maret 2008, Tabloid Republika, hal. 4
C. Tugas
I. Perorangan
1. Isilah kolom tajwid di bawah ini !
No Kalimat Hukum Tajwid keterangan
1
2
3
4
5
2. Artikan kosa kata di bawah ini dengan tepat !
No Kata Artinya No Kata Artinya
1 4
2 5
3 6
3. Tulislah surat an-Najm ayat 39-41 dengan artinya ! Diskusikan kandungan maknanya dan laporkan hasilnya !
4. Berikalah harakat ayat di bawah ini dan terjemahkan kemudian jelaskan maksudnya !
فإذا قضيت الصّلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل اللّه واذكروا اللّه كثيرا لعلّكم تفلحون
5. Jelaskan secara singkat kandungan makna Q.S. Al-Jumuah ayat 10
II. Kelompok
Tulislah biografi orang-orang sukses. Setiap kelompok cukup satu orang saja. Diskusikan apa rahasia kesuksesannya, dan dalam bidang apa saja? Jangan lupa apakah kesuksesannya itu dapat berbagi atau memberi manfa’at buat orang lain ?.
Sabat
pendidikan agama
toleransi beragama
BAB I
TOLERANSI BERAGAMA
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
1. Memahami ayat-ayat Al-Quran tentang anjuran bertoleransi
1.1. Membaca Q.S. al- al-Kãfirün , Q.S. Yünus: 40-41, dan Q.S. al-Kahfi: 29
◊ Mampu membaca Q.S. al-Kãfirün: 1-6, Q.S. Yünus :40-41 dan Q.S. al-kahfi: 29 dengan baik dan benar.
1.2. Menjelaskan arti Q.S. al-Kãfirün, Q.S. Yünus: 40-41, dan Q.S. al-Kahfi: 29
◊ Mampu mengartikan secara mufradat Q.S. al-Kãfirün , Q.S. Yünus : 40-41 dan Q.S. al-Kahfi : 29.
◊ Mampu menterjemahkan Q.S. al-Kãfirün, Q.S. Yünus : 40-41 dan Q.S. al- Kahfi : 29.
1.3. Membiasakan perilaku bertoleransi seperti terkandung dalam Q.S. al-Kãfirün , Q.S. Yünus: 40-41, dan Q.S al-Kahfi: 29
◊ Mampu mengidentifikasi perilaku bertoleransi sesuai dengan Q.S. al- Kãfirün, Q.S. Yünus : 40-41 dan Q.S. al- Kahfi : 29.
◊ Mampu menunjukkan perilaku bertoleransi sesuai dengan Q.S. al-Kãfirün, Q.S. Yünus : 40-41 dan Q.S. al- Kahfi : 29.
A. Surat Al-Kãfirün Ayat 1-6
ö@è% $pkr'¯»t crãÏÿ»x6ø9$# ÇÊÈ Iw ßç6ôãr& $tB tbrßç7÷ès? ÇËÈ Iwur óOçFRr& tbrßÎ7»tã !$tB ßç7ôãr& ÇÌÈ Iwur O$tRr& ÓÎ/%tæ $¨B ÷Lnt6tã ÇÍÈ Iwur óOçFRr& tbrßÎ7»tã !$tB ßç6ôãr&
ÇÎÈ ö/ä3s9 ö/ä3ãYÏ uÍ
Artinya :
Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku".
(Q.S. al-Kãfirün ayat 1-6)
1. Identifikasi Tajwid
No
Kalimat
latin
Hukum Tajwid
Keterangan
1
crãÏÿ»x6ø9$#
Alkãfirün
Al qamariyah
Al bertemu kaf
2
óOçFRr&
Angtum
Ikfa’
Nun mati bertemu ta
3
Iw ßç6ôãr&
Lãa#budu
Mad jaiz munfasil
Mad asli bertemu hamzah
4
ÓÎ/%tæ $¨B
‘Ãbidummã
Idgam bigunnah
Dammatain bertemu mim
5
÷Lnt6tã
‘Ãbattum
Idgam mutajanisain
Dal bertemu ta
2. Mufradat (Kosa Kata)
Kata
Artinya
Kata
Artinya
@è%ْ
Katakanlah
(Lnt6tã
Kamu telah sembah
crãÏÿ»x6ø9$#
Orang-orang yang kafir
ö/ä3s9
Untukmulah
ußç6ôãr&
Aku akan menyembah
ö/ä3ãYÏ
Agamamu
tbrßç7÷ès?
Yang kamu sembah
لِى
Untukkulah
(brßÎ7»tã
Penyembah
ÈûïÏ
Agamaku
3. Penjelasan Ayat
Kita harus tetap berpegang teguh pada aqidah Islam dan jangan mudah terpengaruh oleh bujukan atau ajakan yang menyesatkan dan merusak keimanan, agar aqidah Islamiyah tidak terkontaminasi dengan sikap kemusyrikan dan perbuatan dosa yang menimbulkan kemurkaan Allah swt. Karena itu Islam sangat tegas dalam masalah aqidah. “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah “.
Namun Islam sangat toleran terhadap penganut agama lain “Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. Meskipun adanya perbedaan suku, bangsa, bahasa, adat dan agama, namun Islam tetap menerima perbedaan. Perbedaan adalah suatu keniscayaan, Allah menghendaki dengan perbedaan tersebut agar masing-masing saling mengenal satu sama yang lainnya dan saling kompetisi mana yang paling bertaqwa kepada Allah dan memberi manfaat kepada orang banyak, bukan membuat permusuhan dan peperangan
Kita harus tetap beribadah atau mengabdi hanya kepada Allah dan tidak dibenarkan mengabdi dengan cara-cara menyekutukan dan durhaka kepadaNya. dengan prinsip menjalankan ajaran agamanya masing-masing.
4. Pelajaran yang dapat diambil
1. Harus berpegang teguh pada aqidah Islam sekalipun ada tantangan dan rintangan.
2. Bertoleransi terhadap orang lain, menghargai, menghormatinya sekalipun keyakinannya berbeda, tanpa merusak aqidah masing-masing.
3. Beribadah sesuai dengan ajaran Islam dan jangan mencampuradukkan dengan cara ibadah keyakinan agama lain yang tidak dibenarkan oleh ajaran Islam.
B. Surat Yünus Ayat 40-41
Nåk÷]ÏBur `¨B ß`ÏB÷sã ¾ÏmÎ/ Nåk÷]ÏBur `¨B w ÚÆÏB÷sã ¾ÏmÎ/ 4 y7/uur ÞOn=÷ær& tûïÏÅ¡øÿßJø9$$Î/ ÇÍÉÈ bÎ)ur x8qç/¤x. @à)sù Ík< Í?yJtã öNä3s9ur öNä3è=yJtã ( OçFRr& tbqä«ÿÌt/ !$£JÏB ã@yJôãr& O$tRr&ur ÖäüÌt/ $£JÏiB tbqè=yJ÷ès? ÇÍÊÈ
Artinya :
“Diantara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Quran, dan diantaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan".(Q.S.Yünus:40-41)
1. Identifikasi Tajwid
No
Kalimat
latin
Hukum Tajwid
Keterangan
1
`¨B ß`ÏB÷sã
Mayyu’minu
Idgam bigunnah
Nun sukun bertemu ya
2
`¨B w
Mallã
Idgam bilagunnah
Nun sukun bertemu lam
3
هُمْ مَنْ
Humman
Idgam mimi
Mim sukun bertemu mim
4
bÎ)ur x8qç/¤x.
Ingkaííabüka
Ikhfa’
Nun sukun bertemu kaf
5
w
Lã
Mad asli
Fathah bertemu alif
6
öNä3s9ur öNä3è=yJtã
Walakum ‘Amalukum
Izhar syafawi
Mim sukun bertemu ‘ain
7
OçFRr& tbqä«ÿÌt/
Angtumbarî’üna
Ikhfa’ syafawi
Mim sukun bertemu ba
8
bqä«ÿÌt/
Barî’un
Mad wajib muttasil
Mad asli bertemu hamzah
9
ÖäüÌt/ $£JÏiB
Barî’ummimmã
Idgam bigunnah
Dammatain bertemu mim
10
tbqè=yJ÷ès? ÇÍÊÈ
Ta#malün
Mad ‘arid lissukun
Mad asli diwaqafkan
2. Mufradat (kosa kata)
Kata
Artinya
Kata
Artinya
وَ
Dan
لِي
Bagiku
مِنْهُمْ
Diantara mereka
عَمَلِي
Pekerjaanku
مَنْ
Ada orang
وَلَكُمْ
Dan bagimu
يُؤْمِنُ بِهِ
Yang beriman
عَمَلُكُمْ
Pekerjaanmu
لاَ
Tidak
أَنْتُمْ
Kamu
رَبُّكَ
Tuhanmu
بَرِيئُونَ
Berlepas diri
أَعْلَمُ
Lebih mengetahui
مِمَّا
Terhadap apa yang
بِالْمُفْسِدِينَ
Tentang orang-orang yang berbuat kerusakan
أَعْمَلُ
Aku kerjakan
وَإِنْ
Dan jika
وَأَنَا
Dan akupun
كَذَّبُوكَ
Mereka mendustakan kamu
تَعْمَلُونَ
Yang kamu kerjakan
فَقُلْ
Maka katakanlah
3. Penjelasan Ayat
Ada diantara manusia yang mempercayai al-Quran dengan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan, tetapi ada juga yang tidak mempercayainya dengan latar belakang sebagai berikut:
a. Karena ketidaktahuannya sehingga mengabaikan dan meninggalkan ajaran yang dikandungnya.
b. Mereka mengetahui dan mengimaninya tetapi enggan mengamalkannya kecuali sedikit dan yang menguntungkannya, inilah yang disebut munafiq.
c. Karena lemah imannya sehingga mudah terpengaruh oleh pihak lain yang sengaja untuk mengingkarinya dan berbuat kerusakan.
Al-Quran adalah pedoman hidup bagi manusia, bagi yang membaca dan mengamalkannya akan selamat di dunia dan akhirat. Bagi yang beriman al-Quran akan selalu menjadi penuntun hidupnya, penerang hati dan tempat tinggalnya. Apa kata al-Quran selalu diikuti, karena ia yakin al-Quran adalah kitab suci yang pasti benarnya karena datangnya dari Allah yang Maha Suci.
Dalam ayat ini Allah mengajarkan kita untuk bertoleransi kepada orang yang tidak mau beriman atau yang berbeda keyakinan. Ketika Muhammad Rasulullah menyerukan agar orang-orang musyrik beriman tapi mereka tetap tidak beriman, maka Allah memerintahkan kepada Rasulullah jika mereka tetap tidak beriman maka katakanlah kepada mereka bahwa aku akan mendapat balasan dari perbuatanku dan kamu akan mendapat balasan dari perbuatanmu. Dan tidak ada seorangpun yang menanggung dosa orang lain.
Semua amal perbuatan manusia, masing-masing tidak akan mempengaruhi satu sama lainnya, karena akan dirasakan secara individu akibat baik dan buruknya dengan prinsip “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu”
4. Pelajaran yang dapat diambil
a. Harus beriman kepada al-Quran dengan mengamalkannya dalam kehidupan sehari- hari.
b. Perintah untuk menyeru beriman kepada Allah tidak memaksa untuk beriman.
c. Perbuatan baik buruk akan dipertanggungjawabkan masing-masing.
C. Surat Al-Kahfi Ayat 29
È@è%ur ,ysø9$# `ÏB óOä3În/§ ( `yJsù uä!$x© `ÏB÷sãù=sù ÆtBur uä!$x© öàÿõ3uù=sù 4 !$¯RÎ) $tRôtGôãr& tûüÏJÎ=»©à=Ï9 #·$tR xÞ%tnr& öNÍkÍ5 $ygè%Ï#uß 4 bÎ)ur (#qèVÉótGó¡o (#qèO$tóã &ä!$yJÎ/ È@ôgßJø9$%x. Èqô±o onqã_âqø9$# 4 [ø©Î/ Ü>#u¤³9$# ôNuä!$yur $¸)xÿs?öãB ÇËÒÈ
Artinya:
Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
(Q.S. Al-Kahfi ayat 29)
1. Identifikasi Tajwid
No
Kalimat
latin
Hukum Tajwid
Keterangan
1
`ÏB óOä3În/§
Mirrabbikum
Idgam bila gunnah
Nun sukun bertemu ra
2
`yJsù uä!$x©
Famangsyã’a
Ikhfa
Nun sukun bertemu syin
3
uä!$x©
Syã’a
Mad wajib muttasil
Mad asli bertemu hamzah
4
$tRôtGôãr&
A#tadnã
Qalqalah sugra
Dal sukun bukan karena waqaf
5
#·$tR xÞ%tnr&
Nãran Aèãëa
Izhar
Fathatain bertemu hamzah
6
(#qèVÉótGó¡o bÎ)ur
Waiyyastagîêü
Idgam bi ghunnah
Nun sukun bertemu ya
7
&È@ôgßJø9$%x.ä!$yJÎ/
Bimãing Kalmuhli
Ikhfa
Kasratain bertemu kaf
8
nqã_âqø9$#
Alwujühu
Al qamariyah
Al bertemu wawu
9
Ü>#u¤³9$#
Asyarãbu
Al syamsiyah
Al bertemu syin
10
ôNuä!$yur
Wasã’at
Mad wajib muttasil
Mad asli bertemu hamzah
2. Mufradat (kosa kata)
Kata
Artinya
Kata
Artinya
وَقُلِ الْحَقُّ
Dan katakanlah: "Kebenaran”
أَحَاطَ
Mengepung
مِنْ رَبِّكُمْ
Dari Tuhanmu
سُرَادِقُهَا
Yang gejolaknya
فَمَنْ
Maka barangsiapa
وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا
Dan jika mereka meminta minum
شَاءَ
Yang ingin (beriman)
بِمَاءٍ
Dengan air
فَلْيُؤْمِنْ
Hendaklah ia beriman
كَالْمُهْلِ
Seperti besi yang mendidih
فَلْيَكْفُرْ
Biarlah ia kafir
يَشْوِي
Yang menghanguskan
إِنَّا
Sesungguhnya Kami
بِئْسَ الشَّرَابُ
Minuman yang paling buruk
أَعْتَدْنَا
Kami telah sediakan
وَسَاءَتْ
Yang paling jelek
لِلظَّالِمِينَ
Bagi orang-orang zalim
مُرْتَفَقًا
Tempat istirahat
3. Penjelasan Ayat
Kebenaran bersumber dari Allah, maka siapa yang menjalankannya akan mendapat keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.
Pada ayat ini seolah-olah perintah tapi sebenarnya adalah ancaman dan peringatan terhadap orang-orang yang tidak beriman. Bahwa kebenaran itu telah datang dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) silahkan ia kafir, tapi nanti balasan yang kafir dan zalim sangat pedih yaitu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka.
Hal ini menunjukkan kebebasan masing-masing individu untuk memilih beriman atau kafir setelah datang kepada mereka kebenaran yaitu agama Islam
Kekufuran dan kezaliman akan menghantarkan dirinya masuk ke dalam api neraka, dan akan kehausan, jika minta minuman akan diberi minuman yang panasnya seperti besi yang mencair serta mendidih yang dapat menghancurkan tubuhnya. Itulah minuman di neraka yang merupakan tempat yang paling buruk.
4. Pelajaran yang dapat diambil
a. Perintah untuk menyampaikan kebenaran yang datangnya dari Allah, bagi yang mengikuti akan mendapatkan surga.
b. Kebebasan seseorang untuk beriman atau tidak adalah bukti bahwa Islam adalah agama yang toleran yang tidak memaksa seseorang beriman.
c. Toleransi adalah hal penting dalam kehidupan bermasyarakat karena dapat mengatasi perbedaan dalam kemajemukan, tanpa harus terpecah belah dan kehancuran.
d. Setiap pilihan mempunyai konsekwensi masing-masing, orang beriman balasannya surga sedangkan orang kafir dan dhalim balasannya adalah neraka yang sangat pedih.
Sikap toleransi beragama dalam Islam yang dibolehkan adalah pada masalah-masalah hubungan sosial dan kemanusiaan, bukan masalah-masalah prinsip yang sudah diatur dalam ajaran Islam. Firman Allah Q.S. Luqman ayat 15 di bawah ini :
bÎ)ur #yyg»y_ #n?tã br& Íô±è@ Î1 $tB }§øs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ xsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$¹ur Îû $u÷R9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur @Î6y ô`tB z>$tRr& ¥n<Î) 4 ¢OèO ¥n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ
Artinya :
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(Q.S. Luqman : 15)
Kisah perjalanan hidup sahabat Sa’ad bin Abi Waqas, ia sangat menghargai dan mematuhi orang tuanya sehingga ibunya sangat menyayanginya. Tetapi saat Sa’ad memeluk agama Islam (dalam usia 17 tahun) ibunya sangat kecewa dan marah. Ibunya berusaha keras membujuk Sa’ad untuk kembali / keluar dari Islam, tetapi Sa’ad tetap pada keyakinannya. Maka ibunya menggunakan cara lain, yaitu mogok makan. Ketika berjalan hari kedua kelihatan letih dengan harapan Sa’ad kasihan melihat ibunya semakin payah bahkan sampai hari ketiga lebih payah lagi, sehingga ia mau kembali / meninggalkan agama Islam. Tetapi apa yang terjadi, Sa’ad mendekati ibunya dan berbicara dengan lemah lembut sbb:
Sa’ad
:
Ibu, makanlah agar badannya sehat dan tidak payah seperti ini.
Ibu
:
Aku mau makan dengan syarat engkau kembali ke agama semula atau menyembah berhala (agama nenek moyang kita).
Sa’ad
:
Oh, begitu maksud tujuan ibu tidak mau makan.
Ibu
:
Ya
Sa’ad
:
Maaf Ibu, aku sayang dan menghormati serta berbakti kepadamu dalam kehidupan ini, tetapi kalau masalah agama / keyakinan, sekali lagi mohon maaf. Bahkan saya bersumpah, “Demi Allah”, jika ibu memiliki nyawa / ruh 1000, dan satu persatu keluar dari tubuh ibu sampai habis, niscaya saya tetap teguh dalam keyakinan agama Islam, karena “Islam adalah agama yang diridhai Allah”. Makanya terserah pada ibu mau makan atau tidak. Akhirnya ibunya mau makan.
(Disarikan dari buku Kisah Muslim Terkemuka Oleh : Djamil Achmad).
D. Tugas
1. Isilah kolom tajwid di bawah ini !
No
Kalimat
Hukum Tajwid
keterangan
1
Iw ßç6ôãr&
2
óOçFRr&
3
¾ÏmÎ/
4
Nåk÷]ÏBur
5
$¸)xÿs?öãB ÇËÒÈ
2. Artikan mufradat di bawah ini dengan tepat !
No
Kata
Artinya
No
Kata
Artinya
1
Iwur O$tRr&
4
Ík< Í?yJtã
2
$¨B ÷Lnt6tã
5
`yJsù uä!$x©
3
ö/ä3s9 ö/ä3ãYÏ
6
[ø©Î/ Ü>#u¤³9$#
3. Salinlah ayat-ayat di bawah ini dengan memberi syakal dan terjemahkan kedalam bahasa Indonesia !
- قل ياأيّها الكافرون لا أعبد ما تعبدون ولا أنتم عابدون ما أعبد
- وإن كذّبوك فقل لي عملي ولكم عملكم أنتم بريئون ممّا أعمل وأنا بريء ممّا تعملون
- وقل الحقّ من ربّكم فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر
4. Jelaskan konsep toleransi beragama dalam Islam !
TOLERANSI BERAGAMA
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
1. Memahami ayat-ayat Al-Quran tentang anjuran bertoleransi
1.1. Membaca Q.S. al- al-Kãfirün , Q.S. Yünus: 40-41, dan Q.S. al-Kahfi: 29
◊ Mampu membaca Q.S. al-Kãfirün: 1-6, Q.S. Yünus :40-41 dan Q.S. al-kahfi: 29 dengan baik dan benar.
1.2. Menjelaskan arti Q.S. al-Kãfirün, Q.S. Yünus: 40-41, dan Q.S. al-Kahfi: 29
◊ Mampu mengartikan secara mufradat Q.S. al-Kãfirün , Q.S. Yünus : 40-41 dan Q.S. al-Kahfi : 29.
◊ Mampu menterjemahkan Q.S. al-Kãfirün, Q.S. Yünus : 40-41 dan Q.S. al- Kahfi : 29.
1.3. Membiasakan perilaku bertoleransi seperti terkandung dalam Q.S. al-Kãfirün , Q.S. Yünus: 40-41, dan Q.S al-Kahfi: 29
◊ Mampu mengidentifikasi perilaku bertoleransi sesuai dengan Q.S. al- Kãfirün, Q.S. Yünus : 40-41 dan Q.S. al- Kahfi : 29.
◊ Mampu menunjukkan perilaku bertoleransi sesuai dengan Q.S. al-Kãfirün, Q.S. Yünus : 40-41 dan Q.S. al- Kahfi : 29.
A. Surat Al-Kãfirün Ayat 1-6
ö@è% $pkr'¯»t crãÏÿ»x6ø9$# ÇÊÈ Iw ßç6ôãr& $tB tbrßç7÷ès? ÇËÈ Iwur óOçFRr& tbrßÎ7»tã !$tB ßç7ôãr& ÇÌÈ Iwur O$tRr& ÓÎ/%tæ $¨B ÷Lnt6tã ÇÍÈ Iwur óOçFRr& tbrßÎ7»tã !$tB ßç6ôãr&
ÇÎÈ ö/ä3s9 ö/ä3ãYÏ uÍ
Artinya :
Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku".
(Q.S. al-Kãfirün ayat 1-6)
1. Identifikasi Tajwid
No
Kalimat
latin
Hukum Tajwid
Keterangan
1
crãÏÿ»x6ø9$#
Alkãfirün
Al qamariyah
Al bertemu kaf
2
óOçFRr&
Angtum
Ikfa’
Nun mati bertemu ta
3
Iw ßç6ôãr&
Lãa#budu
Mad jaiz munfasil
Mad asli bertemu hamzah
4
ÓÎ/%tæ $¨B
‘Ãbidummã
Idgam bigunnah
Dammatain bertemu mim
5
÷Lnt6tã
‘Ãbattum
Idgam mutajanisain
Dal bertemu ta
2. Mufradat (Kosa Kata)
Kata
Artinya
Kata
Artinya
@è%ْ
Katakanlah
(Lnt6tã
Kamu telah sembah
crãÏÿ»x6ø9$#
Orang-orang yang kafir
ö/ä3s9
Untukmulah
ußç6ôãr&
Aku akan menyembah
ö/ä3ãYÏ
Agamamu
tbrßç7÷ès?
Yang kamu sembah
لِى
Untukkulah
(brßÎ7»tã
Penyembah
ÈûïÏ
Agamaku
3. Penjelasan Ayat
Kita harus tetap berpegang teguh pada aqidah Islam dan jangan mudah terpengaruh oleh bujukan atau ajakan yang menyesatkan dan merusak keimanan, agar aqidah Islamiyah tidak terkontaminasi dengan sikap kemusyrikan dan perbuatan dosa yang menimbulkan kemurkaan Allah swt. Karena itu Islam sangat tegas dalam masalah aqidah. “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah “.
Namun Islam sangat toleran terhadap penganut agama lain “Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. Meskipun adanya perbedaan suku, bangsa, bahasa, adat dan agama, namun Islam tetap menerima perbedaan. Perbedaan adalah suatu keniscayaan, Allah menghendaki dengan perbedaan tersebut agar masing-masing saling mengenal satu sama yang lainnya dan saling kompetisi mana yang paling bertaqwa kepada Allah dan memberi manfaat kepada orang banyak, bukan membuat permusuhan dan peperangan
Kita harus tetap beribadah atau mengabdi hanya kepada Allah dan tidak dibenarkan mengabdi dengan cara-cara menyekutukan dan durhaka kepadaNya. dengan prinsip menjalankan ajaran agamanya masing-masing.
4. Pelajaran yang dapat diambil
1. Harus berpegang teguh pada aqidah Islam sekalipun ada tantangan dan rintangan.
2. Bertoleransi terhadap orang lain, menghargai, menghormatinya sekalipun keyakinannya berbeda, tanpa merusak aqidah masing-masing.
3. Beribadah sesuai dengan ajaran Islam dan jangan mencampuradukkan dengan cara ibadah keyakinan agama lain yang tidak dibenarkan oleh ajaran Islam.
B. Surat Yünus Ayat 40-41
Nåk÷]ÏBur `¨B ß`ÏB÷sã ¾ÏmÎ/ Nåk÷]ÏBur `¨B w ÚÆÏB÷sã ¾ÏmÎ/ 4 y7/uur ÞOn=÷ær& tûïÏÅ¡øÿßJø9$$Î/ ÇÍÉÈ bÎ)ur x8qç/¤x. @à)sù Ík< Í?yJtã öNä3s9ur öNä3è=yJtã ( OçFRr& tbqä«ÿÌt/ !$£JÏB ã@yJôãr& O$tRr&ur ÖäüÌt/ $£JÏiB tbqè=yJ÷ès? ÇÍÊÈ
Artinya :
“Diantara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Quran, dan diantaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan".(Q.S.Yünus:40-41)
1. Identifikasi Tajwid
No
Kalimat
latin
Hukum Tajwid
Keterangan
1
`¨B ß`ÏB÷sã
Mayyu’minu
Idgam bigunnah
Nun sukun bertemu ya
2
`¨B w
Mallã
Idgam bilagunnah
Nun sukun bertemu lam
3
هُمْ مَنْ
Humman
Idgam mimi
Mim sukun bertemu mim
4
bÎ)ur x8qç/¤x.
Ingkaííabüka
Ikhfa’
Nun sukun bertemu kaf
5
w
Lã
Mad asli
Fathah bertemu alif
6
öNä3s9ur öNä3è=yJtã
Walakum ‘Amalukum
Izhar syafawi
Mim sukun bertemu ‘ain
7
OçFRr& tbqä«ÿÌt/
Angtumbarî’üna
Ikhfa’ syafawi
Mim sukun bertemu ba
8
bqä«ÿÌt/
Barî’un
Mad wajib muttasil
Mad asli bertemu hamzah
9
ÖäüÌt/ $£JÏiB
Barî’ummimmã
Idgam bigunnah
Dammatain bertemu mim
10
tbqè=yJ÷ès? ÇÍÊÈ
Ta#malün
Mad ‘arid lissukun
Mad asli diwaqafkan
2. Mufradat (kosa kata)
Kata
Artinya
Kata
Artinya
وَ
Dan
لِي
Bagiku
مِنْهُمْ
Diantara mereka
عَمَلِي
Pekerjaanku
مَنْ
Ada orang
وَلَكُمْ
Dan bagimu
يُؤْمِنُ بِهِ
Yang beriman
عَمَلُكُمْ
Pekerjaanmu
لاَ
Tidak
أَنْتُمْ
Kamu
رَبُّكَ
Tuhanmu
بَرِيئُونَ
Berlepas diri
أَعْلَمُ
Lebih mengetahui
مِمَّا
Terhadap apa yang
بِالْمُفْسِدِينَ
Tentang orang-orang yang berbuat kerusakan
أَعْمَلُ
Aku kerjakan
وَإِنْ
Dan jika
وَأَنَا
Dan akupun
كَذَّبُوكَ
Mereka mendustakan kamu
تَعْمَلُونَ
Yang kamu kerjakan
فَقُلْ
Maka katakanlah
3. Penjelasan Ayat
Ada diantara manusia yang mempercayai al-Quran dengan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan, tetapi ada juga yang tidak mempercayainya dengan latar belakang sebagai berikut:
a. Karena ketidaktahuannya sehingga mengabaikan dan meninggalkan ajaran yang dikandungnya.
b. Mereka mengetahui dan mengimaninya tetapi enggan mengamalkannya kecuali sedikit dan yang menguntungkannya, inilah yang disebut munafiq.
c. Karena lemah imannya sehingga mudah terpengaruh oleh pihak lain yang sengaja untuk mengingkarinya dan berbuat kerusakan.
Al-Quran adalah pedoman hidup bagi manusia, bagi yang membaca dan mengamalkannya akan selamat di dunia dan akhirat. Bagi yang beriman al-Quran akan selalu menjadi penuntun hidupnya, penerang hati dan tempat tinggalnya. Apa kata al-Quran selalu diikuti, karena ia yakin al-Quran adalah kitab suci yang pasti benarnya karena datangnya dari Allah yang Maha Suci.
Dalam ayat ini Allah mengajarkan kita untuk bertoleransi kepada orang yang tidak mau beriman atau yang berbeda keyakinan. Ketika Muhammad Rasulullah menyerukan agar orang-orang musyrik beriman tapi mereka tetap tidak beriman, maka Allah memerintahkan kepada Rasulullah jika mereka tetap tidak beriman maka katakanlah kepada mereka bahwa aku akan mendapat balasan dari perbuatanku dan kamu akan mendapat balasan dari perbuatanmu. Dan tidak ada seorangpun yang menanggung dosa orang lain.
Semua amal perbuatan manusia, masing-masing tidak akan mempengaruhi satu sama lainnya, karena akan dirasakan secara individu akibat baik dan buruknya dengan prinsip “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu”
4. Pelajaran yang dapat diambil
a. Harus beriman kepada al-Quran dengan mengamalkannya dalam kehidupan sehari- hari.
b. Perintah untuk menyeru beriman kepada Allah tidak memaksa untuk beriman.
c. Perbuatan baik buruk akan dipertanggungjawabkan masing-masing.
C. Surat Al-Kahfi Ayat 29
È@è%ur ,ysø9$# `ÏB óOä3În/§ ( `yJsù uä!$x© `ÏB÷sãù=sù ÆtBur uä!$x© öàÿõ3uù=sù 4 !$¯RÎ) $tRôtGôãr& tûüÏJÎ=»©à=Ï9 #·$tR xÞ%tnr& öNÍkÍ5 $ygè%Ï#uß 4 bÎ)ur (#qèVÉótGó¡o (#qèO$tóã &ä!$yJÎ/ È@ôgßJø9$%x. Èqô±o onqã_âqø9$# 4 [ø©Î/ Ü>#u¤³9$# ôNuä!$yur $¸)xÿs?öãB ÇËÒÈ
Artinya:
Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
(Q.S. Al-Kahfi ayat 29)
1. Identifikasi Tajwid
No
Kalimat
latin
Hukum Tajwid
Keterangan
1
`ÏB óOä3În/§
Mirrabbikum
Idgam bila gunnah
Nun sukun bertemu ra
2
`yJsù uä!$x©
Famangsyã’a
Ikhfa
Nun sukun bertemu syin
3
uä!$x©
Syã’a
Mad wajib muttasil
Mad asli bertemu hamzah
4
$tRôtGôãr&
A#tadnã
Qalqalah sugra
Dal sukun bukan karena waqaf
5
#·$tR xÞ%tnr&
Nãran Aèãëa
Izhar
Fathatain bertemu hamzah
6
(#qèVÉótGó¡o bÎ)ur
Waiyyastagîêü
Idgam bi ghunnah
Nun sukun bertemu ya
7
&È@ôgßJø9$%x.ä!$yJÎ/
Bimãing Kalmuhli
Ikhfa
Kasratain bertemu kaf
8
nqã_âqø9$#
Alwujühu
Al qamariyah
Al bertemu wawu
9
Ü>#u¤³9$#
Asyarãbu
Al syamsiyah
Al bertemu syin
10
ôNuä!$yur
Wasã’at
Mad wajib muttasil
Mad asli bertemu hamzah
2. Mufradat (kosa kata)
Kata
Artinya
Kata
Artinya
وَقُلِ الْحَقُّ
Dan katakanlah: "Kebenaran”
أَحَاطَ
Mengepung
مِنْ رَبِّكُمْ
Dari Tuhanmu
سُرَادِقُهَا
Yang gejolaknya
فَمَنْ
Maka barangsiapa
وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا
Dan jika mereka meminta minum
شَاءَ
Yang ingin (beriman)
بِمَاءٍ
Dengan air
فَلْيُؤْمِنْ
Hendaklah ia beriman
كَالْمُهْلِ
Seperti besi yang mendidih
فَلْيَكْفُرْ
Biarlah ia kafir
يَشْوِي
Yang menghanguskan
إِنَّا
Sesungguhnya Kami
بِئْسَ الشَّرَابُ
Minuman yang paling buruk
أَعْتَدْنَا
Kami telah sediakan
وَسَاءَتْ
Yang paling jelek
لِلظَّالِمِينَ
Bagi orang-orang zalim
مُرْتَفَقًا
Tempat istirahat
3. Penjelasan Ayat
Kebenaran bersumber dari Allah, maka siapa yang menjalankannya akan mendapat keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.
Pada ayat ini seolah-olah perintah tapi sebenarnya adalah ancaman dan peringatan terhadap orang-orang yang tidak beriman. Bahwa kebenaran itu telah datang dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) silahkan ia kafir, tapi nanti balasan yang kafir dan zalim sangat pedih yaitu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka.
Hal ini menunjukkan kebebasan masing-masing individu untuk memilih beriman atau kafir setelah datang kepada mereka kebenaran yaitu agama Islam
Kekufuran dan kezaliman akan menghantarkan dirinya masuk ke dalam api neraka, dan akan kehausan, jika minta minuman akan diberi minuman yang panasnya seperti besi yang mencair serta mendidih yang dapat menghancurkan tubuhnya. Itulah minuman di neraka yang merupakan tempat yang paling buruk.
4. Pelajaran yang dapat diambil
a. Perintah untuk menyampaikan kebenaran yang datangnya dari Allah, bagi yang mengikuti akan mendapatkan surga.
b. Kebebasan seseorang untuk beriman atau tidak adalah bukti bahwa Islam adalah agama yang toleran yang tidak memaksa seseorang beriman.
c. Toleransi adalah hal penting dalam kehidupan bermasyarakat karena dapat mengatasi perbedaan dalam kemajemukan, tanpa harus terpecah belah dan kehancuran.
d. Setiap pilihan mempunyai konsekwensi masing-masing, orang beriman balasannya surga sedangkan orang kafir dan dhalim balasannya adalah neraka yang sangat pedih.
Sikap toleransi beragama dalam Islam yang dibolehkan adalah pada masalah-masalah hubungan sosial dan kemanusiaan, bukan masalah-masalah prinsip yang sudah diatur dalam ajaran Islam. Firman Allah Q.S. Luqman ayat 15 di bawah ini :
bÎ)ur #yyg»y_ #n?tã br& Íô±è@ Î1 $tB }§øs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ xsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$¹ur Îû $u÷R9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur @Î6y ô`tB z>$tRr& ¥n<Î) 4 ¢OèO ¥n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ
Artinya :
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(Q.S. Luqman : 15)
Kisah perjalanan hidup sahabat Sa’ad bin Abi Waqas, ia sangat menghargai dan mematuhi orang tuanya sehingga ibunya sangat menyayanginya. Tetapi saat Sa’ad memeluk agama Islam (dalam usia 17 tahun) ibunya sangat kecewa dan marah. Ibunya berusaha keras membujuk Sa’ad untuk kembali / keluar dari Islam, tetapi Sa’ad tetap pada keyakinannya. Maka ibunya menggunakan cara lain, yaitu mogok makan. Ketika berjalan hari kedua kelihatan letih dengan harapan Sa’ad kasihan melihat ibunya semakin payah bahkan sampai hari ketiga lebih payah lagi, sehingga ia mau kembali / meninggalkan agama Islam. Tetapi apa yang terjadi, Sa’ad mendekati ibunya dan berbicara dengan lemah lembut sbb:
Sa’ad
:
Ibu, makanlah agar badannya sehat dan tidak payah seperti ini.
Ibu
:
Aku mau makan dengan syarat engkau kembali ke agama semula atau menyembah berhala (agama nenek moyang kita).
Sa’ad
:
Oh, begitu maksud tujuan ibu tidak mau makan.
Ibu
:
Ya
Sa’ad
:
Maaf Ibu, aku sayang dan menghormati serta berbakti kepadamu dalam kehidupan ini, tetapi kalau masalah agama / keyakinan, sekali lagi mohon maaf. Bahkan saya bersumpah, “Demi Allah”, jika ibu memiliki nyawa / ruh 1000, dan satu persatu keluar dari tubuh ibu sampai habis, niscaya saya tetap teguh dalam keyakinan agama Islam, karena “Islam adalah agama yang diridhai Allah”. Makanya terserah pada ibu mau makan atau tidak. Akhirnya ibunya mau makan.
(Disarikan dari buku Kisah Muslim Terkemuka Oleh : Djamil Achmad).
D. Tugas
1. Isilah kolom tajwid di bawah ini !
No
Kalimat
Hukum Tajwid
keterangan
1
Iw ßç6ôãr&
2
óOçFRr&
3
¾ÏmÎ/
4
Nåk÷]ÏBur
5
$¸)xÿs?öãB ÇËÒÈ
2. Artikan mufradat di bawah ini dengan tepat !
No
Kata
Artinya
No
Kata
Artinya
1
Iwur O$tRr&
4
Ík< Í?yJtã
2
$¨B ÷Lnt6tã
5
`yJsù uä!$x©
3
ö/ä3s9 ö/ä3ãYÏ
6
[ø©Î/ Ü>#u¤³9$#
3. Salinlah ayat-ayat di bawah ini dengan memberi syakal dan terjemahkan kedalam bahasa Indonesia !
- قل ياأيّها الكافرون لا أعبد ما تعبدون ولا أنتم عابدون ما أعبد
- وإن كذّبوك فقل لي عملي ولكم عملكم أنتم بريئون ممّا أعمل وأنا بريء ممّا تعملون
- وقل الحقّ من ربّكم فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر
4. Jelaskan konsep toleransi beragama dalam Islam !
Sabat
pendidikan agama
Kamis, 03 Juli 2008
Sejarah Islam di Amerika
SEJARAH ISLAM DI AMERIKA
Islam di Amerika Sebelum Columbus
Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai 'The New World' ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492. Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah 'Dunia Baru'. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.
Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus. Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika.
''Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,'' tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.
Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.
Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. "Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara," papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.
Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba.
Fakta lainnya tentang kehadiran Islam di Amerika jauh sebelum Columbus datang juga diungkapkan Dr Barry Fell, seorang arkeolog dan ahli bahasa dari Universitas Harvard. Dalam karyanya berjudul Saga America, Fell menyebutkan bahwa umat Islam tak hanya tiba sebelum Columbus di Amerika. Namun, umat Islam juga telah membangun sebuah peradaban di benua itu.
Fell juga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Menurut dia, bahasa yang digunakan orang Pima di Barat Daya dan bahasa Algonquina, perbendaharaan katanya banyak yang berasal dari bahasa Arab. Arkeolog itu juga menemukan tulisan tua Islami di beberapa tempat seperti di California.
Di Kabupaten Inyo, negara bagian California, Fell juga menemukan tulisan tua lainnya yang berbunyi 'Yasus bin Maria' yang dalam bahasa Arab berarti "Yesus, anak Maria". "Ini bukan frase Kristen,'' cetus Fell. Faktanya, menurut dia, frase itu ditemukan dalam kitab suci Alquran. Tulisan tua itu, papar dia, usianya lebih tua beberapa abad dari Amerika Serikat.
Arkeolog dan ahli bahasa itu juga menemukan teks, diagram, serta peta yang dipahat di batu yang digunakan untuk kepentingan sekolah. Temuan itu bertarikh antara tahun 700 hingga 800 M. Teks serta diagram itu berisi mata pelajaran matematika, sejarah, geografi, astronomi, dan navigasi laut. Bahasa pengajaran yang ditemukan itu menggunakan tulisan Arab Kufi dari Afrika Utara.
Sejarawan seni berkebangsaan Jerman, Alexander Von Wuthenau, juga menemukan bukti dan fakta keberadaan Islam di Amerika pada tahun 800 M hingga 900 M. Wuthenau menemukan ukiran kepala yang menggambarkan seperti bangsa Moor. Itu berarti, Islam telah bersemi di Amerika sekitar separuh milenium sebelum Columbus lahir.
Dia juga menemukan ukiran serupa bertarik 900 M hingga 1500 M. Artifak yang ditemukan itu mirip foto orang tua yang biasa ditemui di Mesir. Youssef Mroueh dalam tulisannya Muslim in The Americas Before Columbus memaparkan penuturan Mahir Abdal-Razzaaq El, orang Amerika asli yang menganut agama Islam. Mahir berasal dari suku Cherokee yang dikenal sebagai Eagle Sun Walker.
Mahir memaparkan, para penjelajah Muslim telah datang ke tahan kelahiran suku Cherokee hampir lebih dari 1.000 tahun lalu. Yang lebih penting lagi dari sekedar pengakuan itu, kehadiran Islam di Amerika, khususnya pada suku Cherokee adalah dengan ditemukannya perundang-undangan, risalah dan resolusi yang menunjukkan fakta bahwa umat Islam di benua itu begitu aktif.
Salah satu fakta yang membuktikan bahwa suku asli Amerika menganut Islam dapat dilacak di Arsip Nasional atu Perpustakaan Kongres. Kesepakatan 1987 atau Treat of 1987 mencantumkan bahwa orang Amerika asli menganut sistem Islam dalam bidang perdagangan, kelautan, dan pemerintahan. Arsip negara bagian Carolina menerapkan perundang-undangan seperti yang diterapkan bangsa Moor.
Menurut Youssef, pemimpin suku Cherokee pata tahun 1866 M adalah seorang pria bernama Ramadhan Bin Wati. Pakaian yang biasa dikenakan suku itu hingga tahun 1832 M adalah busana Muslim. ''Di Amerika Utara sekurangnya terdapat 565 nama suku, perkampungan, kota, dan pegunungan yang akar katanya berasal dari bahasa Arab,'' papar Youssef.
Fakta-fakta itu membuktikan bahwa Islam telah hadir di tanah Amerika, ketika kekhalifahan Islam menggenggam kejayaannya. Hingga kini, agama Islam kian berkembang pesat di Amerika - apalagi setelah peristiwa 11 September. Masyarakat Amerika kini semakin tertarik dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar. heri ruslan
( )
Pengaruh Islam di Benua Amerika
Sekali-kali cobalah Anda membuka peta Amerika. Telitilah nama tempat yang ada di Negeri Paman Sam itu. Sebagai umat Islam, pastilah Anda akan dibuat terkejut.
Apa pasal? Ternyata begitu banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata yang berakar dan berasal dari bahasa umat Islam, yakni bahasa Arab.
Tak percaya? Cobalah wilayah Los Angeles. Di daerah itu ternyata terdapat nama-nama kawasan yang berasal dari pengaruh umat Islam. Sebut saja, ada kawasan bernama Alhambra. Bukankah Alhambra adalah nama istana yang dibangun peradaban Islam di Cordoba?
Selain itu juga ada nama teluk yang dinamai El Morro serta Alamitos. Tak cuma itu, ada pula nama tempat seperti; Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.
Setelah itu, mari kita bergeser ke bagian tengah Amerika. Mulai dari selatan hingga Illinois juga terdapat nama-nama kota yang bernuansa Islami seperti; Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Malah, di negara bagian Washington terdapat nama kota Salem.
Pengaruh Islam lainnya pada penamaan tempat atau wilayah di Amerika juga sangat kental terasa pada penamaan Karibia (berasal dari bahasa Arab). Di kawasan Amerika Tengah, misalnya, terdapat nama wilayah Jamaika dan Kuba. Muncul pertanyaan, apakah nama Kuba itu berawal dan berakar dari kata Quba - masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid Quba. Negara Kuba beribu kota La Habana (Havana).
Di benua Amerika pun terdapat sederet nama pula yang berakar dari bahasa Peradaban Islam seperti pulau Grenada, Barbados, Bahama, serta Nassau. Di kawasan Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Ada pula nama pegunungan Absarooka yang terletak di pantai barat.
Menurut Dr A Zahoor, nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya. Sedangkan Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah. Sedangkan Tennesse dari kata Tanasuh. Selain itu, ada pula nama tempat di Amerika yang menggunakan nama-nama kota suci Islam, seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, serta Medina di Texas. Begitulah peradaban Islam turut mewarnai di benua Amerika. hri
( )
Senin, 16 Juni 2008Fakta Eksistensi Islam di Amerika
T ahun 999 M: Sejarawan Muslim Abu Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan pada masa kekuasaan Khalifah Muslm Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator Muslim bernama Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya. Ibnu Farrukh mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah Muslim itu memberi nama dua pulau yakni Capraria dan Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999 M.
Tahun 1178 M: Sebuah dokumen Cina yang bernama Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu-Lan-Pi (Amerika). Tahun 1310 M: Abu Bakari seorang raja Muslim dari Kerajaan Mali melakukan serangkaian perjalanan ke negara baru. Tahun 1312 M: Seorang Muslim dari Afrika (Mandiga) tiba di Teluk Meksiko untuk mengeksplorasi Amerika menggunakan Sungai Mississipi sebagai jalur utama perjalanannya.
Tahun 1530 M: Budak dari Afrika tiba di Amerika. Selama masa perbudakan lebih dari 10 juta orang Afrika dijual ke Amerika. Kebanyakan budak itu berasal dari Fulas, Fula Jallon, Fula Toro, dan Massiona - kawasan Asia Barat. 30 persen dari jumlah budak dari Afrika itu beragama Islam.
Tahun 1539 M: Estevanico of Azamor, seorang Muslim dari Maroko, mendarat di tanah Florida. Tak kurang dari dua negara bagian yakni Arizona dan New Mexico berutang pada Muslim dari Maroko ini. Tahun 1732 M: Ayyub bin Sulaiman Jallon, seorang budak Muslim di Maryland, dibebaskan oleh James Oglethorpe, pendiri Georgia. Tahun 1790 M: Bangsa Moor dari Spanyol dilaporkan sudah tinggal di South Carolina dan Florida. hri
( )
Dari: Republika Online 16 Juni 2008
Islam di Amerika Sebelum Columbus
Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai 'The New World' ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492. Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah 'Dunia Baru'. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.
Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus. Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika.
''Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,'' tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.
Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.
Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. "Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara," papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.
Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba.
Fakta lainnya tentang kehadiran Islam di Amerika jauh sebelum Columbus datang juga diungkapkan Dr Barry Fell, seorang arkeolog dan ahli bahasa dari Universitas Harvard. Dalam karyanya berjudul Saga America, Fell menyebutkan bahwa umat Islam tak hanya tiba sebelum Columbus di Amerika. Namun, umat Islam juga telah membangun sebuah peradaban di benua itu.
Fell juga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Menurut dia, bahasa yang digunakan orang Pima di Barat Daya dan bahasa Algonquina, perbendaharaan katanya banyak yang berasal dari bahasa Arab. Arkeolog itu juga menemukan tulisan tua Islami di beberapa tempat seperti di California.
Di Kabupaten Inyo, negara bagian California, Fell juga menemukan tulisan tua lainnya yang berbunyi 'Yasus bin Maria' yang dalam bahasa Arab berarti "Yesus, anak Maria". "Ini bukan frase Kristen,'' cetus Fell. Faktanya, menurut dia, frase itu ditemukan dalam kitab suci Alquran. Tulisan tua itu, papar dia, usianya lebih tua beberapa abad dari Amerika Serikat.
Arkeolog dan ahli bahasa itu juga menemukan teks, diagram, serta peta yang dipahat di batu yang digunakan untuk kepentingan sekolah. Temuan itu bertarikh antara tahun 700 hingga 800 M. Teks serta diagram itu berisi mata pelajaran matematika, sejarah, geografi, astronomi, dan navigasi laut. Bahasa pengajaran yang ditemukan itu menggunakan tulisan Arab Kufi dari Afrika Utara.
Sejarawan seni berkebangsaan Jerman, Alexander Von Wuthenau, juga menemukan bukti dan fakta keberadaan Islam di Amerika pada tahun 800 M hingga 900 M. Wuthenau menemukan ukiran kepala yang menggambarkan seperti bangsa Moor. Itu berarti, Islam telah bersemi di Amerika sekitar separuh milenium sebelum Columbus lahir.
Dia juga menemukan ukiran serupa bertarik 900 M hingga 1500 M. Artifak yang ditemukan itu mirip foto orang tua yang biasa ditemui di Mesir. Youssef Mroueh dalam tulisannya Muslim in The Americas Before Columbus memaparkan penuturan Mahir Abdal-Razzaaq El, orang Amerika asli yang menganut agama Islam. Mahir berasal dari suku Cherokee yang dikenal sebagai Eagle Sun Walker.
Mahir memaparkan, para penjelajah Muslim telah datang ke tahan kelahiran suku Cherokee hampir lebih dari 1.000 tahun lalu. Yang lebih penting lagi dari sekedar pengakuan itu, kehadiran Islam di Amerika, khususnya pada suku Cherokee adalah dengan ditemukannya perundang-undangan, risalah dan resolusi yang menunjukkan fakta bahwa umat Islam di benua itu begitu aktif.
Salah satu fakta yang membuktikan bahwa suku asli Amerika menganut Islam dapat dilacak di Arsip Nasional atu Perpustakaan Kongres. Kesepakatan 1987 atau Treat of 1987 mencantumkan bahwa orang Amerika asli menganut sistem Islam dalam bidang perdagangan, kelautan, dan pemerintahan. Arsip negara bagian Carolina menerapkan perundang-undangan seperti yang diterapkan bangsa Moor.
Menurut Youssef, pemimpin suku Cherokee pata tahun 1866 M adalah seorang pria bernama Ramadhan Bin Wati. Pakaian yang biasa dikenakan suku itu hingga tahun 1832 M adalah busana Muslim. ''Di Amerika Utara sekurangnya terdapat 565 nama suku, perkampungan, kota, dan pegunungan yang akar katanya berasal dari bahasa Arab,'' papar Youssef.
Fakta-fakta itu membuktikan bahwa Islam telah hadir di tanah Amerika, ketika kekhalifahan Islam menggenggam kejayaannya. Hingga kini, agama Islam kian berkembang pesat di Amerika - apalagi setelah peristiwa 11 September. Masyarakat Amerika kini semakin tertarik dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar. heri ruslan
( )
Pengaruh Islam di Benua Amerika
Sekali-kali cobalah Anda membuka peta Amerika. Telitilah nama tempat yang ada di Negeri Paman Sam itu. Sebagai umat Islam, pastilah Anda akan dibuat terkejut.
Apa pasal? Ternyata begitu banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata yang berakar dan berasal dari bahasa umat Islam, yakni bahasa Arab.
Tak percaya? Cobalah wilayah Los Angeles. Di daerah itu ternyata terdapat nama-nama kawasan yang berasal dari pengaruh umat Islam. Sebut saja, ada kawasan bernama Alhambra. Bukankah Alhambra adalah nama istana yang dibangun peradaban Islam di Cordoba?
Selain itu juga ada nama teluk yang dinamai El Morro serta Alamitos. Tak cuma itu, ada pula nama tempat seperti; Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.
Setelah itu, mari kita bergeser ke bagian tengah Amerika. Mulai dari selatan hingga Illinois juga terdapat nama-nama kota yang bernuansa Islami seperti; Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Malah, di negara bagian Washington terdapat nama kota Salem.
Pengaruh Islam lainnya pada penamaan tempat atau wilayah di Amerika juga sangat kental terasa pada penamaan Karibia (berasal dari bahasa Arab). Di kawasan Amerika Tengah, misalnya, terdapat nama wilayah Jamaika dan Kuba. Muncul pertanyaan, apakah nama Kuba itu berawal dan berakar dari kata Quba - masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid Quba. Negara Kuba beribu kota La Habana (Havana).
Di benua Amerika pun terdapat sederet nama pula yang berakar dari bahasa Peradaban Islam seperti pulau Grenada, Barbados, Bahama, serta Nassau. Di kawasan Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Ada pula nama pegunungan Absarooka yang terletak di pantai barat.
Menurut Dr A Zahoor, nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya. Sedangkan Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah. Sedangkan Tennesse dari kata Tanasuh. Selain itu, ada pula nama tempat di Amerika yang menggunakan nama-nama kota suci Islam, seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, serta Medina di Texas. Begitulah peradaban Islam turut mewarnai di benua Amerika. hri
( )
Senin, 16 Juni 2008Fakta Eksistensi Islam di Amerika
T ahun 999 M: Sejarawan Muslim Abu Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan pada masa kekuasaan Khalifah Muslm Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator Muslim bernama Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya. Ibnu Farrukh mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah Muslim itu memberi nama dua pulau yakni Capraria dan Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999 M.
Tahun 1178 M: Sebuah dokumen Cina yang bernama Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu-Lan-Pi (Amerika). Tahun 1310 M: Abu Bakari seorang raja Muslim dari Kerajaan Mali melakukan serangkaian perjalanan ke negara baru. Tahun 1312 M: Seorang Muslim dari Afrika (Mandiga) tiba di Teluk Meksiko untuk mengeksplorasi Amerika menggunakan Sungai Mississipi sebagai jalur utama perjalanannya.
Tahun 1530 M: Budak dari Afrika tiba di Amerika. Selama masa perbudakan lebih dari 10 juta orang Afrika dijual ke Amerika. Kebanyakan budak itu berasal dari Fulas, Fula Jallon, Fula Toro, dan Massiona - kawasan Asia Barat. 30 persen dari jumlah budak dari Afrika itu beragama Islam.
Tahun 1539 M: Estevanico of Azamor, seorang Muslim dari Maroko, mendarat di tanah Florida. Tak kurang dari dua negara bagian yakni Arizona dan New Mexico berutang pada Muslim dari Maroko ini. Tahun 1732 M: Ayyub bin Sulaiman Jallon, seorang budak Muslim di Maryland, dibebaskan oleh James Oglethorpe, pendiri Georgia. Tahun 1790 M: Bangsa Moor dari Spanyol dilaporkan sudah tinggal di South Carolina dan Florida. hri
( )
Dari: Republika Online 16 Juni 2008
Sabat
sejarah islam
Langganan:
Postingan (Atom)