Sabtu, 12 Desember 2009

Yahudi Gilas Mahasiswa Palestina dengan Mobil Berulang Kali

Yahudi Gilas Mahasiswa Palestina dengan Mobil Berulang Kali


Rabu lalu (02/12/2009) TV 2 Israel menayangkan potongan rekaman aksi biadab seorang pemukim Yahudi yang menggilas seorang pemuda Palestina dengan mobil berulang kali, sebelum akhirnya mobil tersebut berhenti tepat di atas pemuda tersebut. Teriakan kesakitan pemuda Palestina itu membuat rekaman itu semakin mengiris hati yang melihatnya. Aksi keji ini terjadi di Hebron, sebelah selatan Tepi Barat, Palestina.

Kejadian ini terjadi di depan mata pihak kepolisian Israel, para aktivis Bintang David Merah yang mengurus ambulan, dan para hadirin lainnya. Situs infopalestina berbahasa Arab melansir, bahwa salah seorang di antara mereka meneriakkan kalimat dengan bahasa Ibrani yang artinya, "Lindaslah dia!" Sedangkan sebagian yang lain berusaha untuk menjauhkan kamera yang ada untuk menutupi aksi keji ini dari media...





Mahasiswa yang teraniaya tersebut bernama Wasim Usamah Maswadah (21). Ia seorang mahasiswa Universitas Yornania, spesialisasi menajemen. Kepolisian Israel menuduhnya telah melakukan serangan terhadap dua orang Yahudi di pemukiman Kiryat Arba di Hebron.

Walau status Wasim masih tertuduh, polisi Israel telah menembaknya 6 kali; 4 peluru bersarang di perutnya dan 2 lagi di paha kanannya. Setelah itu, pemukim Yahudi yang memiliki hubungan dengan dua orang pemukim Yahudi yang diserang tersebut, menggilas Wasim dengan mobil berulang kali.

Situs Aljazeera.net dan sumber lainnya menginformasikan, bahwa setelah kejadian itu Wasim Usmah dalam keadaan yang sangat kritis dengan luka yang sangat parah. Namun ia masih hidup.

Setelah kejadian itu, Wasim meringkuk di rumah sakit Hadasa Ain Karim, di kota Al-Quds. Ia dijaga ketat oleh tentara penjajah. Sedangkan keluarganya sama sekali tidak diberi izin untuk menjenguk.

Di pihak lain, pemukim yang melindas Wasim hanya diinterogasi sejenak oleh pihak kepolisian, dan kemudian ia dibebaskan. Saat ini pelaku tinggal nyaman bersama keluarga dan anak-anaknya. Sedangkan otoritas penjajah Zionis belum mengambil sikap, apakah akan menghakiminya, atau akan memposisikan kasus ini sebagai aksi "membela diri."

Kriminalitas Berulang yang Disokong Pemerintah Zionis

Ketua Badan Islam Kristen untuk Menyelamatkan Al-Quds dan Kesucian Syekh Taisir Rajab Al-Tamimi mengecam aksi keji ini. Beliau mengatakan, "Ini adalah kriminalitas biadab yang jarang terjadi dalam sejarah. Ini tidak mungkin terjadi kebetulan, tapi kekejian demi kekejian itu terjadi secara terencana, sebagai aplikasi setiap kata dari fatwa pendeta Yahudi radikal, yang menyeru untuk membunuh setiap warga Palestina dan orang Arab."

Syekh Taisir juga mengisyaratkan, bahwa telah terjadi lebih dari 600 kali tindak kriminal pembunuhan yang dilakukan pemukim Yahudi terhadap orang-orang Palestina. Kasus-kasus itu tidak dibawa kemahkamah kecuali 20 kasus pembunuhan. Hukuman terberat yang dijatuhkan kepada para kriminal itu hanya 6 bulan penjara, itupun eksekusinya tidak dilaksanakan!

Peristiwa Lama Berita Baru

Peristiwa keji ini sebenarnya telah terjadi pada 25 Oktober 2009. Namun baru hari Rabu sore lalu ditayangkan di TV 2 Israel. Awalnya, otoritas penjajah Israel melarang penyebaran rekaman vidio ini.

Koresponden Aljazeera di Al-Quds, Ilyas Kiram, mengatakan, "Ditayangkannya vidio ini oleh TV 2 Israel bisa jadi karena dua motif, pertama, adanya persaingan media antara TV 2 dan TV 10 Israel. Kedua, Israel berusaha menciptakan penyeimbangan berita aksi keji memalukan yang terjadi di depan kepolisian dan awak ambulan."

Upaya Menuntut Hak

Kepada koresponden Aljazeera, Ayah dari Wasim yang bernama Usamah mengatakan, bahwa ia tidak akan berhenti untuk menuntut hak anaknya. Ia akan mengajukan kasus ini ke mahkamah manapun dengan cara apapun.

Usamah sempat mengatakan, bahwa ia tidak mampu mengungkapkan apa yang terjadi pada anaknya, tidak diwakili oleh kata biadab dan keji. Ia tidak mampu mengungkapkannya, karena yang terjadi sangatlah menyakitkan. Hingga kini, ia tidak tahu bagaimana keadaan anaknya.

Hari Kamis lalu (03/12) Menteri Informasi Palestina di Gaza mengatakan, "Kejadian ini merupakan kejahatan perang baru, yang menambah panjangnya silsilah kejahatan perang dan penjajahan yang dilakukan Israel."

Di hari yang sama, Menteri Kebudayaan Palestina di Gaza meminta seluruh media menginformasikan kejahatan ini, untuk menguak silsilah kebiadaban penjajah Zionis Israel.

Perhitungan Umur Umat Islam dan Tahun Kedatangan IMAM MAHDI

PERHITUNGAN UMUR UMAT ISLAM dan TAHUN KEDATANGAN IMAM MAHDI

Wallahu Alam....
Segala pemujaan dan pujian hanyalah bagi ALLAH yang Maha Suci dan Maha Agung. Satu-satunya Tuhan yang harus disembah. Tidak ada sekutu bagi ALLAH sang penguasa alam ghaib, DIA pemilik segala rahasia dan ditangan ALLAH langit dan bumi. Salam dan selawat senantiasa tercurah kepada insan utama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pemimpin kaum mukmin.

Presentasi ini membahas perkara perhitungan umur umat Islam, yang belum pernah dipublish secara berantai lewat mailing list, insya ALLAH hanya di milis Cinta-Rasul. Perkara ini sangatlah besar dan menurut sebagian manusia dianggap sebagai khurafat dan bidaah, tetapi bagi kita kaum Ahlus Sunnah (Sunni) adalah lebih baik mengambilnya sebagai iktibar agar kita senantiasa bersiap diri menghadap ALLAH subhanahu wa ta’ala. Kita tahu bahwa urusan kiamat adalah hak mutlak milik ALLAH saja, bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak mengetahuinya, namun beliau mengisyaratkan tanda-tandanya. Dan adalah kita berusaha untuk memahaminya.

Ingat! Kita adalah kaum ahlus sunnah, tujuan presentasi kita ini hanya menyeru kepada manusia agar senantiasa mengingat ALLAH agar berbakti kepada-NYA dengan bersegera mengerjakan perintah-NYA dan menjauhi larangan-NYA. Time is running away. Janganlah kita mati dengan membawa kebodohan dan kedunguan kita yang tidak mempergunakan mata, telinga, otak, akal dan hati yang telah diberikan ALLAH subhanahu wa ta’ala untuk melihat tanda-tanda kekuasaan-NYA Yang Maha Besar.
Pada file ini kita hanya mengambil 3 pendapat dari ulama-ulama yang terkenal dalam ajaran Ahlussunnah wal Jamaah yaitu dari:....



1. Al Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dari Mazhab Syafi’i
2. Jalaluddin As Suyuthi (Imam Suyuthi)
3. Imam Ibnu Rajab al Hanbali
Kita menganggap pendapat mereka bertiga sangat rasional, sehingga sebagaimana tujuan para Imam itu menyeru kepada manusia agar senantiasa bersiap diri dan mengerjakan amal ibadah yang banyak, maka demikian pula halnya dengan kita yang berharap agar manusia yang tertidur kembali terjaga, agar manusia yang lalai dalam agamanya menjadi kembali kepada sunnah Rasulnya, dan agar kita mati dan menghadap ALLAH subhanahu wa ta’ala dalam keadaan ridha dan diridhai.

abillahit taufiq wal hidayah.

AL HAFIDZ IBNU HAJAR

Menurut pendapat Ibnu Hajar:
Umur umat Yahudi adalah umur umat Nasrani ditambah dengan umur umat Islam.

Para ahli sejarah mengatakan bahwa Umur umat Yahudi yang dihitung dari diutusnya Nabi Musa alaihis salam hingga diutusnya Nabi Isa alaihis salam adalah 1500 tahun.

Kemudian dengan adanya hadis:

Dari Salman Al Farisi ia bercerita bahwa “Masa-masa antara Isa dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah selama 600 tahun”. [HR. Bukhari]

Sehingga umur umat Nasrani yang dihitung dari sejak diutusnya Nabi Isa (Yesus) alaihis salam hingga diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah 600 tahun.

Sehingga akan didapat:

Umur Yahudi = Umur Nasrani + Umur Islam

1500 tahun = 600 tahun + 900 tahun

Kemudian Ibnu Hajar dalam Kitabnya mengatakan adanya tambahan 500 tahun sesuai hadis marfu yaitu:

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Sesungguhnya saya berharap agar umatku tidak akan lemah di depan Tuhan mereka dengan mengundurkan (mengulurkan) umur mereka selama setengah hari”. Kemudian Sa’ad ditanyai orang: Berapakah lamanya setengah hari itu? Ia (Sa’ad) menjawab: “Lima ratus tahun”.

[hadis shahih riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al Hakim, Abu Nu’aim dan disahihkan oleh Al Albani]

Jadi total umur Islam menurut Ibnu Hajar adalah 900 + 500 tahun = 1400 tahun lebih, belum termasuk tambahan (karena tidak mungkin umur itu bernilai genap)

Sekarang kita berada di tahun 1429 Hijriah (2008 Masehi), berarti sudah melewati lebih dari 1400 tahun itu. Sedangkan tambahan yang dimaksud itu mungkin adalah umur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Islam adalah agama yang dibawa oleh beliau. Juga ditambah dengan 13 tahun karena awal penulisan tahun Hijriah dimulai pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Dan 13 tahun adalah ketika beliau di Makkah.

Sehingga umur Islam adalah:

1400 + 63 (umur Nabi) + 13 (tahun sebelum hijrah) = 1476 tahun

Jika dikurangi dengan masa kita hidup ini yaitu 2008 Masehi atau 1429 Hijirah, berarti 1476 – 1429 = 47 tahun.

“47 tahun adalah sisa umur umat Islam dari hari ini.”

Apakah pada tahun 2055 Masehi Islam sudah hilang dari muka bumi???

Hanya ALLAH yang mengetahuinya. Maka sebagai manusia yang berakal dan beriman, sudah sepantasnya kita bersiap dan berbenah diri dengan mempersiapkan dan memperbaiki segala amal ibadah.


IMAM IBNU RAJAB AL HANBALI

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: Sesungguhnya masa menetap kamu dibandingkan dengan umat-umat yang telah berlalu adalah seperti jarak waktu antara salat Ashar hingga terbenamnya matahari.

Hadis diatas diriwayatkan dari Ibnu Umar oleh Imam Bukhari. Dan menurut penafsiran Ibnu Rajab, “umat-umat yang telah berlalu” itu adalah umat Nabi Musa (yahudi) dan umat Nabi Isa (nasrani) karena ada hadis sahih lain yang berbunyi seperti itu yang intinya membandingkan Islam dengan Ahli Kitab.

Beliau telah meletakkan keseluruhan masa dunia adalah seperti satu hari penuh dengan siang dan malamnya. Beliau menjadikan waktu yang telah berlalu dari umat-umat terdahulu dari masa Nabi Adam hingga Nabi Musa seperti waktu satu malam dari hari tersebut, dan waktu itu adalah 3000 tahun. Kemudian beliau menjadikan masa umat-umat yahudi, nasrani dan Islam adalah seperti waktu siang dari hari tersebut, maka berarti waktu itu juga 3000 tahun.

Kemudian beliau menafsirkan hadis Bukhari lainnya bahwa masa-masa amaliah umat Bani Israil (umat Nabi Musa) hingga datangnya Nabi Isa seperti setengah hari pertama, dan masa amaliah umat Isa adalah seperti waktu salat Zuhur hingga salat Ashar, dan masa amaliah umat Islam adalah seperti sesudah salat Ashar hingga terbenamnya matahari.

Jadi perhitungan menurut Ibnu Rajab itu sebagai berikut:

• Masa umat-umat Adam hingga Musa = satu malam penuh = 3000 tahun

• Masa umat-umat (yahudi – nasrani – Islam) = satu siang penuh = 3000 tahun

• Umur Yahudi = setengah hari dari siang tersebut = ½ dari 3000 = 1500 tahun

• Umur Nasrani = mengikuti hadis Muslim dari Salman al Farisi yaitu = 600 tahun


Maka umur umat Islam adalah 1500 – 600 = 900 tahun. Kemudian 900 tahun ini ditambahkan lagi 500 tahun (setengah hari akhirat) sebagaimana hadis dari Saad bin Abu Waqash riwayat Abu Dawud, Ahmad (yang ada dihalaman terdahulu).

Sehingga umur Islam menurut Ibnu Rajab adalah 900 + 500 = 1400 tahun, belum termasuk tambahan tahun. Namun beliau tidak menyebut berapa tahun tambahannya.

Perhitungan ini sama dengan metode yang digunakan oleh Ibnu Hajar.

APA YANG TERJADI JIKA UMUR UMAT ISLAM SUDAH BERAKHIR???

Setelah umur umat Islam berakhir (ditandai dengan wafatnya Nabi Isa Al-Masih), maka setelah itu kita orang Islam masih hidup. Ada yang mengatakan selama 40 tahun lagi. Namun selama itu tidak ada lagi mualaf (orang yang masuk Islam) dan syahadat yang diterima [artinya tidak ada lagi orang yang diterima masuk Islam], tidak ada lagi tobat yang diterima, karena pada akhir Umur Umat Islam itu matahari akan terbit dari arah Barat. Kemudian manusia akan kembali kepada kekafiran dan kemunafikannya, bahkan lebih merajalela lagi.

sumber: www.myquran.org

Jumat, 27 November 2009

Momentum Berkurban

Momentum Berkurban
oleh Fivy Miftahiyah

Selamat merayakan 'Idul Qurban 1430 H!!!

Merayakan? Mungkin tepatnya adalah memaknai 'Idul Qurban. Berawal dari begitu tulusnya seorang ayah yang rela mengorbankan harta teramat berharga yang menjadi miliknya. Seorang anak yang cakap, menjelang remaja dengan performa yang begitu menyejukkan mata dan hati Sang Ayah. Bahkan kehadirannya pun telah terlalu lama dinantikan. Berpuluh tahun mendambakan kehadiran seorang penerus generasi. Melalui banyaknya perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatkannya, akhirnya Allah SWT mengamanahkan seorang anak yang sholih dan mendekati sempurna. Bukankah ini adalah harta yang amat mahal?...





Namun, apalah artinya harta dan kesenangan dibandingkan dengan keridhoan dari Sang Pencipta. Barangkali terlalu banyak hamba yang mudah mengucapkan cinta kepada-Nya melebihi cinta kepada harta duniawi. Hingga bila telah datang ujian-Nya, nyata kan terbukti apakah kata yang diucapkan 'kan mampu untuk dijalani.

Kala itu, Ismail menjelang remaja. Dalam usia yang masih belia, ia memiliki pola fikir dan kematangan yang lebih dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Ismail begitu dewasa dan sangat cepat menerima, memahami, sekaligus mengamalkan segala nilai-nilai ketuhanan yang dibawa dan diajarkan oleh ayahnya, Ibrahim AS.

Ketika Ibrahim bermimpi menerima perintah untuk menyembelih Ismail, Ibrahim AS mampu membuktikan cintanya kepada Sang Kholiq melebihi segalanya. Ismail yang begitu tampan dan selama ini menghiasi indah hari-harinya, mesti dikurbankan.... Ibrahim yakin, bahwa dibalik perintah Allah SWT yang begitu mengaduk-aduk perasaannya, tersimpan hikmah yang lebih besar lagi. Dengan sangat hati-hati beliau menceritakan kepada anak kesayangannya tersebut.

"Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah, bagaimana pendapatmu?" Ibrahim menunggu pendapat buah hatinya dengan berdebar.

Ternyata jawaban yang didapatkannya, jauh dari yang dibayangkan. Ibrahim mengira sang buah hati akan mengajukan dulu beberapa pertanyaan. Ternyata pemahaman Ismail akan risalah yang dibawa ayahnya telah jauh lebih tinggi dari yang sewajarnya. Ismail faham betul, bahwa mimpi dari seorang nabi seperti ayahnya, bukanlah sembarang mimpi. Mimpi seorang nabi adalah wahyu, dan perintah Allah SWT tersebut mengandung hikmah tentunya.

" Wahai ayahku..., lakukanlah apa yang diperintahkan-Nya kepada ayah. Insya Allah... engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."

Dengan mata terpejam dan hati yang pasrah, Ibrahim AS melaksanakan kurban, menyembelih putera kesayangannya. Dan benar saja ketika hikmah yang diyakini mereka seketika terwujud. Cinta Allah SWT kepada Ibrahim dan Ismail tentu saja melebihi cinta mereka berdua kepada-Nya. Ibrahim yang telah membuktikan bakti cintanya kepada Allah SWT, dianugerahi ni'mat berupa ketentraman dan kebahagiaan yang luar biasa, ketika menemukan putera yang sedianya dikurbankan, diganti oleh Sang Maha Berkehendak dengan seekor kambing qibas. Subhanallah...

Dan Kami abadikan untuk Ibrahim pujian di kalangan orang-orang yang datang kemudian, "Selamat sejahtera bagi Ibrahim" (QS As-shoffat 108-109)

Barangkali kita sebagai ummat penerus para nabi, tak 'kan sanggup menyamai kecintaan mereka kepada Sang Kholiq. Meski demikian, momentum peringatan 'Idul Adha hendaknya mampu memompa semangat kita untuk tetap berusaha meneladani dan mengikuti kecintaan mereka, seoptimal kemampuan yang ada.

Berkurban...tak kan teruji hanya dengan menyisihkan milik kita, untuk diberikan bagi sesama dalam pandangan mata. Mempersembahkan hewan kurban di setiap tahun, juga belum menjamin makna pengorbanan sejati. Berkorban sejati, baru bisa dibuktikan ketika ada keselarasan dzohir berupa amaliah dengan hati dan fikiran. Hati yang senantiasa ridho mempersembahkan amalan terbaik dalam setiap aktivitas. Fikir yang terus menerus menjelajah untuk menemukan terobosan baru bagi kebenaran. Dan amaliah yang 'kan mewujudkan segala 'azam sebelumnya...

Melalui momentum 'Idul Adha kali ini, saya berhenti sejenak untuk meneliti kembali perjalanan yang telah dilalui. Sejauh ini, sudahkah saya berkorban? Allahu a'lam.

http://fivym.multiply.com

Minggu, 08 November 2009

Milyuner AS Yang Juga Pengacara Michael Jackson Masuk Islam

Milyuner AS Yang Juga Pengacara Michael Jackson Masuk Islam


Seorang miliyuner Amerika, Mark Shaffer mendeklarasikan keislamannya di Saudi Arabia pada hari Sabtu 17 Oktober 2009 yang lalu. Saat itu Mark sedang berwisata ke Saudi Arabia untuk mengunjungi beberapa kota terkenal seperti Riyadh, Abha dan Jeddah selama 10 hari.

Mark adalah seorang miliyuner terkenal dan pengacara kawakan di Los Angeles Amerika Serikat khususnya terkait hukum perdata. Kasus besar terakhir yang ditanganinya ialah terkait dengan penyanyi pop terkenal Amerika Michel Jackson sepekan sebelum ia meninggal.

Seorang guide wisata yang menemani Mark selama 10 hari di Saudi, Dhawi Ben Nashir menceritakan : Sejak menginjakkan kakinya pertama kali di Saudi Mark mulai bertanya tentang Islam dan shalat....


Milyuner AS Yang Juga Pengacara Michael Jackson Masuk Islam



Seorang miliyuner Amerika, Mark Shaffer mendeklarasikan keislamannya di Saudi Arabia pada hari Sabtu 17 Oktober 2009 yang lalu. Saat itu Mark sedang berwisata ke Saudi Arabia untuk mengunjungi beberapa kota terkenal seperti Riyadh, Abha dan Jeddah selama 10 hari.

Mark adalah seorang miliyuner terkenal dan pengacara kawakan di Los Angeles Amerika Serikat khususnya terkait hukum perdata. Kasus besar terakhir yang ditanganinya ialah terkait dengan penyanyi pop terkenal Amerika Michel Jackson sepekan sebelum ia meninggal.

Seorang guide wisata yang menemani Mark selama 10 hari di Saudi, Dhawi Ben Nashir menceritakan : Sejak menginjakkan kakinya pertama kali di Saudi Mark mulai bertanya tentang Islam dan shalat. Sesampai di Saudi, Mark menginap di kota Riyadh selama dua hari. Selama di Riyadh Mark sangat concern pada Islam. Setelah itu kami pindah ke kota Najran, terus ke Abha dan Al-Ula. Di sana terlihat sekali ketertarikannya pada Islam, Khususnya saat kami keluar berwisata ke padang pasir. Mark kaget saat meilahat tiga pemuda Saudi yang mendampingi kami di Al-Ula, karena mereka shalat di atas bentangan padang pasir yang amat luas. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan.

Setelah dua hari di Al-Ula, kami pergi ke Al-Juf. Sesampai di Al-Juf, Mark minta dicarikan buku-buku tentang Islam. Lalu saya berikan beberapa buku tentang Islam. Semua buku tersebut dibaca habis oleh Mark. Esok paginya, dia minta saya mengajarkannya shalat. Sayapun mengajarkannya shalat dan bagaimana cara berwudhuk. Lalu dia ikut shalat di samping saya.

Setelah shalat, Mark bercerita bahwa dia sekarang sangat tentram jiwanya. Sore Kamisnya, kami meninggalkan Al-Ula menuju kota Jeddah. Selama di perjalanan dia terlihat serius sekali membaca buku-buku tentag Islam. Pagi hari Jumatnya, kami mengunjungi kota tua Jeddah. Sebelum waktu sahalat Jumat masuk, kami kembali ke hotel dan saya minta izin padanya untuk shalat Jumat. Saat itu Mark berkata pada saya : Saya ingin ikut Anda shalat Jumat agar saya menyaksikannya seperti apa shalat Jumat itu. Lalu saya jawab : welcome…

Kamipun pergi ke sebuah masjid yang tidak jauh dari hotel tempat kami menginap di Jeddah. Karena agak terlambat, saya dan sebagian jamaah shalat di luar masjid karena jamaahnya yang mebludak. Terlihat Mark mengamati jamaah apalagi setelah selesai shalat Jumat, mereka salaing bersalam-salaman dengan wajah yang cerah dan gembira. Mark semakin kagung dengan pemandangan tersebut.

Setelah kami pulang ke hotel, tiba-tiba Marka menyampaikan kepada saya keinginannya untuk masuk Islam. Lalu sya katakan padanya : Silahakan Anda mandi terlebih dulu. Seteah dia mandi saya bimbing Mark mengucapkan dua kalimat syahadat kemudain dia shalata sunnah dua rakaat. Setelah itu, Mark mengungkapakan keinginannya untuk mengunjungi Masjid Haram di Makkah dan shalat di sana sebelum dia meninggalkan Saudi Arabia.

Untuk dapat mewujudkan keinginan beliau, kami pergi ke kantor Dakwah dan Irsyad di kawasan Al-Hamro’ Jeddah untuk mengambil bukti formal keislamannya agar dapat memasuki kota Mekkah dan Masjid Haram. Lalu Mark diberi sertifikat sementara masuk Islam. Karena beberapa anggota grup yang mengikuti kunjungan Mark ke Saudi Arabia sudah harus kembali ke Amerika sore Sabtunya, Al-Hamdullah, Ustadz Muhammad Turkistani bersedia mengantarkan Mark Ke tanah haram Mekkah pagi itu juga.

Terkait kunjungan Mark ke Masjid Haram, Ustazd Muhammad Turkistani menceritakan : setelah Mark medapatkan sertifikat Islam sementara kamipun langsung berangkat menuju Masjid Haram yang mulia. Ketiak dia menyaksikan Masjid Haram, tampak sekali wajahnya sangat cerah dan memancarkan kegembiraan yang luar biasa. Ketika kami masuk ke dalam Masjid Haram dan menyaksikan langsung Ka’bah, kegembiraannya semakin bertambah. Demi Allah saya tidak bisa mengungkapkannya dengan lisan akan pemandangan tersebut. Setelah beliu tawaf mengelilingi Ka’bah yang mulia, kami shalat sunnah dan kemudian keluar dari Masjid Haram. Saya lihat Mark sngat berat untuk berpisah dengan Masjid Haram.

Setelah Mark Mengumumkan keislamannya, dia sempat mengungkapkan kebahagiaanya pada Koran Al-Riyadh sambil berkata : Saya tidak sanggup mengungkapkan perasaan saya saat ini. Akan tetapi, sekarang saya baru dilahirkan kembali dan kehidupan saya baru dimulai…Lalu dia menambahkan : Saya sangat bahagia. Kebahagiaan yang saya rasakan tidak sanggup saya ungkapkan pada Anda saat saya berkunjung ke Masjid Haram dan Ka’bah yang mulia.

Terkait pertanyaan langkah ke depan setelah ia masuk Islam, Mark menjelaskan : saya akan belajar lebih banyak tentag Islam, akan mendalami agama Allah ini (Islam) dan akan kembali lagi ke Saudi Arabia untuk menunaikan ibadah Haji.

Terkait faktor pendoring masuk Islam, Mark menjelaskan : Sebelumnya saya sudah memiliki informasi tentang Islam, tapi sangat sedikit. Ketika saya berkunjung ke Saudi dan menyaksikan langsung kaum Muslimin di Saudi dan saya saksikan mereka menunaikan shalat, saya merasakan sebuah dorongan yang kuat untuk mengenal lebih banyak lagi tentang Islam. Ketika saya membca informasi yang benar tentang Islam, sayapun yakin bahwa Islam adalah agama yang haq (benar).




Pagi Ahad 18 Okteber 2009, Mark meninggalkan Bandara King Abdul Aziz Jeddah menuju Amerika. Sebelum meninggalkan Jeddah, saat mengisi fomulir imigrasi, Mark mencantumkan agamanya adalah ISLAM.

Selamat jalan Mark… Semoga Allah memberkahi Anda dan menjadikan Anda seorang Muslim yang taat dan Da’i yang akan mengajak masyarakat Amerika untuk menikmati kebahagiaan Islam sebagaimana yang Anda rasakan, agar mereka, khusunya pemerintah Amerika tidak takut kepada Islam. Karena hanya Islamlah yang mampu menyelamatakan umat manusia di dunia dan di akhirat kelak...Amin…
sumber: www.eramuslim.com


I'tibar di Balik Mati Lampu



I'tibar di Balik Mati Lampu
Oleh: Abdul Mutaqin


Menjengkelkan. Begitulah seringkali muncul perasaan apabila lampu padam. Sebuah sikap spontan di tepi sabar yang seolah terkikis oleh hilangnya cahaya. Ekspresi jengkel pun membuntuti dengan polah yang beragam. Dari yang wajar sampai kepada yang berlebihan.

Setiap saat hasil budaya dan teknologi melaju dengan cepat. Tetapi kesiapan mental untuk menghadapinya hampir-hampir berjalan merangkak. Sebelum lampu listrik menerangi rumah-rumah kita, kita jarang mengeluh bila malam tiba. Gelap yang merayap perlahan menjumpai Maghrib sampai Isya hingga menjelang Shubuh, kita sikapi dengan amat bersahaja. Kita masih rela pergi ke Surau dan Masjid untuk berdiri dalam shaf-shaf jamaah lalu mengaji meskipun hanya diterangi cahaya bulan atau lampu minyak. Lampu petromak sungguh sangat mewah kala itu.


I'tibar di Balik Mati Lampu
Oleh: Abdul Mutaqin


Menjengkelkan. Begitulah seringkali muncul perasaan apabila lampu padam. Sebuah sikap spontan di tepi sabar yang seolah terkikis oleh hilangnya cahaya. Ekspresi jengkel pun membuntuti dengan polah yang beragam. Dari yang wajar sampai kepada yang berlebihan.

“Mamaaa, takuuut. Huuuu. Aku ga bisa lihat apa-apa. Mama di manaa ...”.

”Masya Allah, mati lampu. Padahal cuaca bagus. Mungkin ada gangguan”.

“Yah, mati lagi. Ga siang ga malam. PLN sial. Iuran aja ga boleh telat. Pelayanan ga pernah meningkat. Ngakunya rugi melulu. Dikorup tuh!”.

Setiap saat hasil budaya dan teknologi melaju dengan cepat. Tetapi kesiapan mental untuk menghadapinya hampir-hampir berjalan merangkak. Sebelum lampu listrik menerangi rumah-rumah kita, kita jarang mengeluh bila malam tiba. Gelap yang merayap perlahan menjumpai Maghrib sampai Isya hingga menjelang Shubuh, kita sikapi dengan amat bersahaja. Kita masih rela pergi ke Surau dan Masjid untuk berdiri dalam shaf-shaf jamaah lalu mengaji meskipun hanya diterangi cahaya bulan atau lampu minyak. Lampu petromak sungguh sangat mewah kala itu. Jarang sekali yang emosional berhadapan dengan gelap, meskipun lampu harus mati karena kehabisan minyak. Tetapi jama’ah tetap gemuk. Orang mengaji tetap semarak. Masjid menjadi tempat yang amat hidup di antara Maghrib dan Isya, kemudian semarak lagi pada saat shalat Fajar di pagi buta.

Semenjak Neon dan Bohlam menggantung di langit-langit rumah, di Masjid-Masjid atau di Surau-Surau, manusia seolah enggan menikmati suasana malam. Bahkan pobia gelap. Ada kemunduran sikap mental setelah teknologi berhasil menggubah “habis gelap terbitlah terang”. Perubahan itu, amat mencolok.

Saat aliran listrik menjalar lancar dan cahaya lampu memenuhi setiap sudut rumah menjelang Maghrib, anak-anak lebih memilih bersila di depan televisi atau layar facebooknya. Sinetron, gossip, badut pengocok perut, musik, berita, sepak bola, sulap, ramalan atau debat kusir telah menggantikan “imam” Masjid dan Surau. Atau paling minim bergegas meninggalkan wirid dan ba’diyah agar tidak ketinggalan setiap episode acara pavoritnya. Masjid dan Surau jarang lagi terdengar gaung lantunan orang mengaji. Hanya cahaya lampu gantungnya yang mewah menyirami Masjid dengan aneka warna kristalnya yang kelap-kelip. Masjid dan Surau seolah ”mati” dalam terang.

Tapi tentu, dan harapan kita, ini hanyalah kenyataan pukul rata. Masih ada keluarga muslim yang tidak terjebak emosional karena teknologi. Mereka masih seperti dulu, setia dengan panggilan ketaatan saat kumandang adzan menggema. Masih setia membunyikan rangkaian huruf-huruf Hijaiyyah selepas Maghrib menjelang Isya. Begitu juga masih ada banyak Masjid dan Surau yang tetap semarak. Sebagai ”Baitullah” dan pusat pusaran yang menarik bagai magnet setiap hati yang selalu bergantung pada-Nya. Bahkan ketika listrik padam, spiritnya tetap menyala.

Gelap karena sebab apapun sebenarnya adalah satu tanda dari ayat-ayat keagungan Allah. Dan manusia beriman tidaklah gagap dalam menghadapi penomena gelap. Pertama, karena orang beriman amat menyadari bahwa pengalaman hidupnya justru dilewati dari kegelapan. Di alam kegelapan itulah tubuhnya dibentuk dan ruhnya ditiupkan. Manusia merasakan rasa aman, nyaman dan hangat di tempat yang kokoh; rahim. Masa itu dilewatinya selama lebih kurang sembilan bulan. Masa itu adalah masa gelap yang paling istimewa dalam kandungan ibu.

Kedua, gelap adalah instrumen untuk mengukur kadar kebajikan. Apakah ia akan tetap cukup memiliki cahaya ketika akan masuk ke dalam ruang gelap liang lahad sehingga alam barzakh itu akan tetap terang, nyaman, luas dan hangat seperti kandungan ibu karena kebajikan dan imannya menjadi suluh baginya. Di sinilah hati yang penuh iman akan selalu tergerak untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya sumber cahaya sebagai teman yang akan menemaninya terbaring kaku di perut bumi nanti sampai waktunya ia dibangkitkan. Begitu nikmatnya ia di komplek pekuburan, sampai-sampai ia merasakan betapa cepatnya kiamat terjadi. Bagaikan orang yang terjaga dari tidur sekejap saja seraya berujar, ” Ah, cepat sekali waktu berlalu. Rasanya baru beberapa jam saja aku terlelap”. Padahal bisa jadi, ia telah terbaring ribuan tahun yang lalu terhitung sejak nafasnya berhenti.

Hati yang penuh iman selalu beramal saleh agar kuburnya tidak menjadi kegelapan kedua tetapi menyengsarakan. Layaknya ruang bawah tanah tanpa ada secuilpun lubang cahaya, ditambah lagi dengan siksanya yang pedih dan seperti tak berkesudahan. Sehingga sering mereka memohon untuk dikembalikan ke dunia untuk menjadi mushalli, atau berinfak atau menjadi orang soleh dan berharap kapan kiamat segera datang.

Kegelapan inilah yang membuat telinganya selalu menangkap dengung pesan Nabi. ”Berhati-hatilah kalian pada perbuatan zalim. Sebab kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat”.

Ketiga, kegelapan fisik dengan segala manifestasinya hanyalah sinyal untuk kembali menangkap pesan Tuhan, bahwa manusia tidak bisa menyandarkan keselamatan hidupnya hanya dengan kekuatan fisik sebab ia sangat terbatas. Mata barulah berfungsi apabila ada cahaya yang memantul ke retina dan menangkap bayangan di depannya. Tetapi, apabila cahaya itu hilang, hilang pulalah fungsi mata itu. Maka gelaplah sepanjang jarak pandang yang buta. Di sini menjadi terang, mengapa banyak orang yang histeris ketika lampu mati.

Lalu mengapa banyak orang yang melek tetapi hakikatnya buta? Yaitu mereka yang tidak sanggup menangkap atau enggan menangkap kebesaran Allah melalui penglihatannya. Penglihatannya tak pernah sejuruspun mengarah ke Ka’bah, tetapi dihabiskan untuk hal-hal yang mengundang nafsu birahi dan kepuasan sesaat. Maka alangkah ruginya bola mata itu jika hanya mengikuti nafsu. Dan sungguh amatlah beruntung orang yang buta bola matanya, tetapi memiliki ketajaman menangkap cahaya iman. Manusia mulia seperti Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu ’anhu amatlah beruntung. Orang seperti ini adalah sesabar-sabarnya mahluk di saat lampu mati dan tidak pernah bergantung kecuali pada cahaya imannya.

Akhirnya, gelap memang mengundang sejuta respon. Ada yang enggan. Ada yang biasa saja. Ada juga yang sengaja ingin “gelap-gelapan”. Yang pasti semuanya ingin tetap terang sampai liang kubur dan pada hari di mana manusia mempertanggungjawabkan amalnya sendiri-sendiri.

Semoga kita adalah orang yang bermandi cahaya sepenuh hidup yang fana’ sampai yang baqa’. Allahu a’lam.



Ciputat, Nopember 2009.

Menjelang Ashar

abdul_mutaqin@yahoo.com

Sabtu, 17 Oktober 2009

Mari Berwakaf Uang!


Mari Berwakaf Uang



Wakaf bukanlah istilah baru bagi umat Islam di Indonesia. Sejak dulu, umat Islam yang kaya, biasa mewakafkan tanah dan bangunan yang mereka miliki untuk digunakan di jalan Allah. Mungkinkah setiap muslim bisa berwakaf tanpa menunggu menjadi kaya?

Jawabannya, bisa. Sejak tahun 2002, para ulama di Indonesia mulai mengenalkan wakaf uang yang memungkinkan setiap muslim untuk mewakafkan uangnya. Lalu sejak kapan wakaf uang dikenal dalam Islam? Sejatinya, wakaf uang belum dikenal di zaman Rasulullah SAW. Wakaf uang ini (cash waqf) baru dipraktikkan pada abad kedua hijriyah. Imam Al-Zuhri (wafat 124 H) merupakan salah seorang ulama terkemuka dan peletak dasar tadwin al-hadits memfatwakan, dianjurkan waqaf dinar dan dirham untuk pembangunan sarana dakwah, sosial dan pendidikan umat Islam.



Mari Berwakaf Uang

Wakaf bukanlah istilah baru bagi umat Islam di Indonesia. Sejak dulu, umat Islam yang kaya, biasa mewakafkan tanah dan bangunan yang mereka miliki untuk digunakan di jalan Allah. Mungkinkah setiap muslim bisa berwakaf tanpa menunggu menjadi kaya?

Jawabannya, bisa. Sejak tahun 2002, para ulama di Indonesia mulai mengenalkan wakaf uang yang memungkinkan setiap muslim untuk mewakafkan uangnya. Lalu sejak kapan wakaf uang dikenal dalam Islam? Sejatinya, wakaf uang belum dikenal di zaman Rasulullah SAW. Wakaf uang ini (cash waqf) baru dipraktikkan pada abad kedua hijriyah. Imam Al-Zuhri (wafat 124 H) merupakan salah seorang ulama terkemuka dan peletak dasar tadwin al-hadits memfatwakan, dianjurkan waqaf dinar dan dirham untuk pembangunan sarana dakwah, sosial dan pendidikan umat Islam.

Ketua Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI), Prof. KH. Tholhah Hasan, mengungkapkan bahwa dalam sejarah perwakafan di negara-negara Islam, pada zaman kepemimpinan Salahudin al-Ayyubi, di Mesir sudah berkembang wakaf uang. Hasilnya digunakan untuk membiayai pembangunan negara serta pembangunan masjid, sekolah, rumah sakit serta tempat-tempat penginapan.

“Sebelumnya juga, Nuruddin az-Zanki yang berkuasa di Suriah juga menggunakan wakaf uang untuk pemberdayaan umat,” ungkap Kiai Tholhah. Wakaf uang semakin populer pada era kekuasaan Kekhalifahan Turki Usmani. Pada zaman itu, wakaf uang telah menjadi bagian dari kehidupan umat Islam. Bersumber dari dana wakaf uang itulah, pemerintah Turki Usmani mendirikan rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah dan lain sebagainya. “Di Indonesia, wakaf uang memang kurang populer, karena sebagian besar umat Islam Indonesia bermadzhab Syafi’i,” tuturnya.

Pada April 2002, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan, fatwa yang membolehkan wakaf uang. Ketua MUI, KH. Ma’ruf Amin mengatakan, ‘wakaf uang adalah sesuatu yang memiliki nilai untuk diwakafkan untuk kepentingan masyarakat’. “Dulu, wakaf uang diperdebatkan, tapi kini tidak lagi. Yang penting ‘ain-nya [benda]-nya tidak berkurang dan nilainya tetap, bisa dipertahankan,” ungkapnya. Menurut tokoh Nahdlatul Ulama ini, uang yang diwakafkan, terlepas kepemilikannya dari pemiliknya. Artinya, uang itu sudah menjadi milik Allah SWT dan masyarakat. Sehingga, ahli warisnya tidak berhak lagi menguasai uang tersebut.

Lantas siapa saja yang bisa mewakafkan uang? Menurut dia siapa saja bisa mewakafkan uangnya. Dengan catatan uang tersebut adalah miliknya sendiri, bukan milik orang lain. “Uang yang diwakafkan haruslah uang yang didapat dari cara yang halal. Jangan hasil mencuri atau korupsi,” ujarnya menegaskan. Kiai Ma’ruf menambahkan, tak ada batas minimal atau maksimal besaran wakaf uang. Yang terpenting, papar Kiai Ma’ruf, uang itu miliknya sendiri dan didapat dengan cara yang halal. Wakaf uang di Indonesia juga telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf.
Guna mengatur masalah wakaf, Indonesia juga telah memiliki Badan Wakaf Indonesia (BWI). Lembaga independen ini dibentuk untuk memajukan dan mengembangkan perwakafan nasional. BWI telah mengatur tata cara mewakafkan uang, dengan bekerja sama dengan lima bank syariah sebagai Penerima Wakaf Uang (PWI). Kelima bank syariah tersebut itu antara lain; Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, Bank Muamalat, Bank DKI Syariah, dan Bank Mega Syariah. Menurut Kiai Ma’ruf, selain bisa membayarkan wakaf uang kepada lembaga yang dikelola BWI, umat Islam pun bisa mewakafkan uangnya kepada lembaga-lembaga yang siap dan mampu mengelola wakaf.

“Tidak ada masalah seseorang mewakafkan uangnya kepada lembaga pendidikan, asal wakaf uang tersebut dapat dikelola dengan baik dan nilainya tidak berkurang. Lebih menarik, seteleh penyerahan wakaf uang, kepada wakif diserahkan sertifikat sebagai tanda bukti wakaf uang,” ungkapnya.

Dirjen Bimas Islam Departemen Agama, Prof. Nasaruddin Umar, mengakuir bahwa wakaf uang relatif baru dalam dunia Islam. “Memang ini (wakaf uang) relatif baru di dunia perbendaharaan fikih di Indonesia, karena mayoritas mazhab yang berlaku adalah Mazhab Syafi’i,” ujar Rektor PTIQ itu. Dalam Mazhab Syafi’i, kata dia, tidak ditemukan qaul (pendapat) yang memberikan pembenaran terhadap wakaf uang. Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah itu menambahkan, satu-satunya qaul yang bisa ditemukan dalam kitab fikih ialah qaul Abu Hanifah yang menganggap wakaf uang itu dimungkinkan.

“Organisasi Konferensi Islam (OKI) beberapa waktu lalu di Saudi Arabia sepakat memberi legitimasi wakaf uang. Ternyata, kesepakatan ini disambut negara-negara Islam dengan sangat positif,” jelasnya. Wakaf uang, menurutnya, memungkinkan setiap Muslim untuk berwakaf. “Potensi wakaf uang di Indonesia sangat besar, bisa melebihi dari potensi zakat yang nilainya mencapai Rp.19,3 Triliun. Karena seseorang bisa mewakafkan uangnya, tanah kebun atau sawahnya,” imbuh Prof. Nasaruddin.

Untuk itu, sudah saatnya semua pihak bekerja sama membangun kesadaran umat Islam untuk gemar berwakaf baik dalam bentuk uang, tanah maupun benda lainnya. Karena, wakaf itu sifatnya permanen, tidak seperti zakat yang harus habis dibagikan kepada mustahiknya. “Wakaf justru harus tetap pokoknya dan bahkan kalau bisa bertambah. Yang dapat dimanfaatkan adalah hasil pengelolaan wakaf,” paparnya.

Sumber: Dialog Jumat Republika, 09 Oktober 2009








Sabtu, 03 Oktober 2009

Kisah Korban Gempa Sumbar : Teriakan minta Tolong Itu Terngiang


Kisah Korban Gempa Sumbar : Teriakan minta Tolong Itu Terngiang


Razali masih terlihat lemah saat datang di kamar mayat RS M Djamil, Padang, Kamis (1/10). Kepalanya yang bocor dibungkus kain putih. Punggungnya juga terluka.

“Alhamdulillah atas pertolongan Allah saya bisa selamat, meski kepala bocor dan mendapatkan lima jahitan serta punggung luka,” ujarnya kepada Tribun di intalasi kamar mayat itu.

Razali mencari kawannya, sesama peserta bimbingan teknis pengelolaan tambak tinggi yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumbar di Hotel Ambacang, Jalan Bundo Kanduang, Padang.

Dengan kalimat yang terputus karena mengingat kembali detik-detik gempa yang meluluhlantakkan hotel itu, Razali yang berasal dari Kabupaten Limapuluh Kota ini bercerita. “Saya selamat berkat pertolongan Allah,” ujarnya.

Sesaat setelah gempa kedua, ia berlari keluar ruangan acara itu. Ia melihat puluhan orang di hotel sudah panik dan berteriak. Ia terus berlari dan memutuskan meloncat dari lantai dua ke basement hotel tersebut. Ia selamat meski kepala dan punggungnya terluka akibat terkena reruntuhan gempa.

Kisah Korban Gempa Sumbar : Teriakan minta Tolong Itu Terngiang

Razali masih terlihat lemah saat datang di kamar mayat RS M Djamil, Padang, Kamis (1/10). Kepalanya yang bocor dibungkus kain putih. Punggungnya juga terluka.

“Alhamdulillah atas pertolongan Allah saya bisa selamat, meski kepala bocor dan mendapatkan lima jahitan serta punggung luka,” ujarnya kepada Tribun di intalasi kamar mayat itu.

Razali mencari kawannya, sesama peserta bimbingan teknis pengelolaan tambak tinggi yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumbar di Hotel Ambacang, Jalan Bundo Kanduang, Padang.

Dengan kalimat yang terputus karena mengingat kembali detik-detik gempa yang meluluhlantakkan hotel itu, Razali yang berasal dari Kabupaten Limapuluh Kota ini bercerita. “Saya selamat berkat pertolongan Allah,” ujarnya.

Sesaat setelah gempa kedua, ia berlari keluar ruangan acara itu. Ia melihat puluhan orang di hotel sudah panik dan berteriak. Ia terus berlari dan memutuskan meloncat dari lantai dua ke basement hotel tersebut. Ia selamat meski kepala dan punggungnya terluka akibat terkena reruntuhan gempa.

Namun, Razali tetap terpukul karena rekan satu kabupaten dengannya tidak selamat. Andi, nama kawannya, itu baru bisa dievakuasi, Kamis pagi, dalam keadaan sudah tidak bernyawa. ”Saya tak dapat selamatkan Andi. Padahal di saat pelatihan maupun lari ketika gempa terjadi selalu berada di belakang saya,” ujarnya.

Dalam keadaan sangat mencekam, usai ditimpa reruntuhan. Ia merangkak keluar dari reruntuhan. Di saat merangkak itulah, ia melihat beberapa tangan melambai meminta pertolongan. Ia juga mendengar suara memelas. “Teriakan minta tolong dari tamu hotel itu juga sayup saya dengar. Sampai saat ini masih terngiang di telinga saya, tapi saya tak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, Yosmeri, mengatakan peserta pelatihan bintek di Ambacang itu berasal dari 19 kabupaten dan kota se-Sumbar. Jumlahnya ada 25 orang ditambah narasumber dan panitia menjadi 30 orang.

“Selamat dari reruntuhan hotel akibat gempa baru lima orang sedangkan yang berhasil dievakuasi sampai Kamis sore baru lima orang juga,” kata Yosmeri.

Termasuk Andi, kawan Razali, yang menurut rencana malam ini juga ia bawa dengan ambulans ke Limapuluh Kota. “Keluarga korban sudah menunggu di kampung,” ujar Razali.

Kisah warga yang selamat meski tertimbun belasan jam juga dialami Ivan (25), pekerja rumah biliar di Kota Padang. Ia selamat dari maut setelah lebih dari 12 jam terhimpit puing-puing bangunan lantai tiga tempatnya bekerja di Jalan Thamrin, Padang, itu.

Saat gempa, Ivan tengah berada di lantai tiga dan terus berupaya lari ke lantai satu untuk menyelamatkan diri. Saat akan keluar bangunan, kaki Ivan tersandung dan dia jatuh ke lantai dan pada saat yang sama bangunan tiga lantai itu roboh.Tubuh Ivan dari pinggang ke kaki ditimpa balok beton, sedangkan dari badan ke kepala terlindung di antara tulang beton-beton yang melintang.

Sejak Rabu sore itu Ivan tidak bisa bergerak dan terpaku karena tubuhnya terhimpit. Warga yang ada di lokasi tidak bisa memberikan pertolongan karena beton-beton yang berat menindih tubuh Ivan. Warga hanya dapat memberikan minuman dan meminta Ivan bertahan sampai datang tim evakuasi.

Malam itu Ivan terperangkap dan bisa bergerak di tengah guyuran hujan lebat yang dingin. Subuh hari, tim evakuasi dengan satu alat berat datang dan berhasil membantu mengeluarkan Ivan dari himpitan beton-beton. Nyama Ivan selamat namun tubuhnya dari pangkal paha ke kaki luka-luka berat. Ivan langsung dibawa ke RSUP M Djamil Padang untuk mendapat pertolongan. Sungguh, Ini adalah salah satu tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.
(adt)kompas dan http://udinmduro.wordpress.com

Kamis, 17 September 2009

Idul Fitri Dan Zakat Fitrah


Idul Fitri Dan Zakat Fitrah
Oleh : Arwani Syaerozi, Lc *



Dalam Islam kita mengenal beberapa hari kebesaran, dalam satu minggu kita akan bertemu dengan hari Jum`at, sebuah hari raya dalam tarf mingguan. Untuk level tahunan kita pun mengenal Idul fitri dan Idul adha, merupakan dua hari kebesaran level tahunan bagi komunitas muslim se-dunia.

Idul fitri yang dirayakan pada setiap tanggal 1 Syawal, eksistensinya terasa lebih sakral jika dibandingkan dengan Idul adha yang terjadi pada tanggal 10 Dzulhijjah, sebab jatuhnya Idul fitri tepat setelah satu bulan penuh kita melaksanakan ibadah puasa. Sehingga dengan tibanya tanggal 1 Syawal kita seakan-akan merasakan sebuah kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu.


Idul Fitri Dan Zakat Fitrah
Oleh : Arwani Syaerozi, Lc *


Dalam Islam kita mengenal beberapa hari kebesaran, dalam satu minggu kita akan bertemu dengan hari Jum`at, sebuah hari raya dalam tarf mingguan. Untuk level tahunan kita pun mengenal Idul fitri dan Idul adha, merupakan dua hari kebesaran level tahunan bagi komunitas muslim se-dunia.

Idul fitri yang dirayakan pada setiap tanggal 1 Syawal, eksistensinya terasa lebih sakral jika dibandingkan dengan Idul adha yang terjadi pada tanggal 10 Dzulhijjah, sebab jatuhnya Idul fitri tepat setelah satu bulan penuh kita melaksanakan ibadah puasa. Sehingga dengan tibanya tanggal 1 Syawal kita seakan-akan merasakan sebuah kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu.

Ibadah lain yang turut mewarnai setiap datangnya hari raya Idul fitri adalah zakat fitrah, kewajiban yang bersifat individual ini ikut menghiasi hari raya sebagai bentuk riil dari asas kebahagiaan bersama dalam ideologi Islam. Zakat yang secara umum bisa kita artikan sebagai proses pemerataan kepemilikan ini, pelaksanaannya tidak lain merupakan perpindahan harta yang dimiliki oleh kalangan orang-orang kaya ke tangan orang-orang yang tidak berdaya, tentunya dengan beberapa syarat dan catatan yang dikupas secara detail dalam kajian fiqh. Diantara hikmah disyari`atkannya zakat fitrah menjelang datangnya hari Idul fitri adalah agar dapat berbagi kebahagiaan antara sesama muslim dari kalangan mampu dan non mampu. Bagaimana tidak, sebab seorang muslim yang memiliki kecukupan makanan pada hari itu diharuskan atasnya mengeluarkan zakat fitrah baik berupa bahan makanan pokok maupun berupa uang.

Dari sini penulis merasa perlu untuk me-reaktualisasi makna penyambutan datangnya hari raya Idul fitri itu sendiri, yang terkadang tanpa disadari maknanya telah dicupetkan oleh sebagian kalangan dan atau bahkan disalah artikan. Saya yakin bahwa essensi Idul fitri itu sendiri bukan hanya sekedar media penumpahan rasa bahagia bersama anak cucu, kerabat, atau teman-teman dekat dengan melaksanakan shalat Ied berjamaah di sebuah masjid atau lapangan, berjabat tangan (ramah tamah), menyantap ketupat serta aneka macam makanan dan minuman lainnya. Akan tetapi lebih dari itu, rasa kepekaan sosial semestinya harus lebih dititik beratkan, atau dengan kata lain perhatian kita pada realisasi zakat fitrah dan proses penyalurannya harus lebih ditonjolkan Sebab pengurangan penderitaan komunitas miskin akan dapat menghapus penyakit-penyakit antisosial di antara mereka dan meningkatkan motivasi kerja, efisiensi, dan juga mereduksi waktu terbuang (kekosongan) akibat dari konflik.

Di belahan bumi ini masih banyak kita temukan saudara-saudara se-iman yang hidup di bawah garis kemiskinan. Baik itu disebabkan oleh ketidak stabilan politik dan perekonomian, maupun dikarenakan faktor minimnya sumberdaya manusia. Tengoklah misalnya di negara Afganisthan, Irak, dan Bosnia yang sampai saat ini rakyatnya terus dirundung ketidak jelasan nasib dan keburaman sosial yang diakibatkan tidak stabilnya kondisi politik dan ekonomi negara.

Di berbagai media massa akan banyak kita temukan gambaran kesengsaraan mereka, kondisi jauh dari kesejahteraan menjadi topik utama dalam mengisi harian surat kabar dan layar televisi rumah kita. Realitas buruk ini tidak cukup dengan membiarkan mereka untuk membangun kembali keterpurukan politik dan ekonomi negaranya yang selama ini menjadi sumber utama kesengsaraan, sementara kita yang menjadi saudara se-imannya hanya sibuk dengan urusan pribadi bahkan dengan kebahagiaan nisbi dalam perayaan-perayaan. Justru adanya langkah nyata dari kita lah yang akan membantu mengeluarkan mereka dari belenggu kesengsaraan, tentunya dengan bantuan baik berupa moril maupun materil. Dan zakat fitrah adalah salah satu dari bentuk bantuan materil yang bisa kita salurkan kepada mereka. Apalah artinya kalau kita berbahagia bersama anak cucu, karabat, dan teman-teman dekat kalau mereka yang notebene saudara se-iman justru merasakan suasana kebalikannnya. Akankah fenomena kesengsaraan dan kematian akibat kelaparan yang setiap saat menghantui mereka menjadi sesuatu yang lumrah mengisi hari-hari kita, hingga sama sekali tidak membangkitan rasa peduli kita ? atau bahkan kita akan menganggapnya sebagai sebuah konsekuensi dari sikap dan perbuatan mereka dalam menjalani kehidupan berbangsa ? Sungguh sangat naif kalau dalam diri kita tersimpan sikap-sikap di atas. Bukankah Rasul saw pernah mengingatkan umatnya akan efek dari sebuah kemiskinan, â€Å“ bahwa kemiskinan akan menjerumuskan seseorang ke dalam kekufuran â€Å“. Apakah kita rela kekufuran akan mengganti intisari keimanan mereka ? Bukankah Rasul Saw juga pernah bersabda bahwa â€Å“ orang yang tidak peduli dengan kondisi umat Islam maka dia tidak termasuk darinya â€Å“. Dari hadist ini saja sebenarnya dianggap cukup untuk mencambuk kepasifan kita dalam melihat realitas ketimpangan sosial dan kondisi tidak meratanya kesejahteraan dalam komunitas kaum muslim.

Di sisi lain komitmen Islam yang mendalam terhadap pesaudaraan dan keadilan menyebabkan konsep kesejahteraan bagi semua umat manusia sebagai suatu tujuan pokok Islam.

Para fuqaha (pakar hukum Islam) secara aklamasi telah menyepakati bahwa adalah fardlu kifayah (kewajiban kolektif) hukumnya bagi masyarakat muslim untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan pokok orang miskin Kalau demikian adanya, mengapa pada kesempatan Idul fitri kali ini nurani kita tidak tergugah untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi saudara-saudara se-iman yang hidup dalam belenggu kesengsaraan.

Sekali lagi, makna Idul fitri bukan hanya â€Å“perayaanâ€‌ sepihak, hari raya ini bukan milik segelintir orang saja akan tetapi kebahagiaan tersebut harus dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat muslim di seluruh penjuru dunia lintas profesi dan tingkat strata sosial.

Wallahu A`lam

* Penulis adalah Mahasiswa Program Pasca Sarjana Syari`ah Islamiyah Spesifik Ushul Fiqh Universitas Ezzitouna Tunis, Peminat masalah-masalah sosial dan keagamaan

Sumber: Pesantrenvirtual.com

Jumat, 11 September 2009

Cara Jitu Memburu Lailatur Qadar


Cara Jitu Memburu Lailatur Qadar



Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah satu malam yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia, Lailatul Qadar.

Banyak ayat didalam Al-Quran yang menceritakan tentang barakahnya malam ini, dimana pada malam ini diturunkan Al-Quran. Banyak diantara orang menunggu kedatangan Lailatur Qadar dalam sepuluh hari terakhir.

Sebagaian orang menunggu kedatangan malam itu dengan berlama-lama di masjid sambil membaca Al-Quran. Ada yang menunggunya dihadapan rumah agar dapat melihat turunnya malaikat pada malam Qadar, dan tidak kurang juga yg menyambutnya dengan sinaran-sinaran lampu-lampu minyak agar kawasan mereka diterangi. Mereka begitu yakin dengan beberapa tanda-tanda yang banyak diceritakan dalam berbagai cerita sejarah.

Ada suatu hal yang masih tersimpan dalam benak hati kita semua. Sebuah pertanyaan terdalam. Pernahkah Nabi SWA melihat langsung Lailatul Qadar? Adakah sahabat-sahabat juga pernah melihatnya? Kita pernah mendengar banyak hadis-hadis yang menceritakan tanda-tanda malam tersebut, adakah kita bisa melihatnya dengan mata kepala kita sendiri.

Cara yang paling bijak bagi kita menjawab persoalan ini marilah kita lihat tafsiran beberapa ahli tafsir termasuk melihat tanda-tanda tersembunyi yang sering diceritakan itu....

Cara Jitu Memburu Lailatur Qadar

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah satu malam yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia, Lailatul Qadar.

Banyak ayat didalam Al-Quran yang menceritakan tentang barakahnya malam ini, dimana pada malam ini diturunkan Al-Quran. Banyak diantara orang menunggu kedatangan Lailatur Qadar dalam sepuluh hari terakhir.

Sebagaian orang menunggu kedatangan malam itu dengan berlama-lama di masjid sambil membaca Al-Quran. Ada yang menunggunya dihadapan rumah agar dapat melihat turunnya malaikat pada malam Qadar, dan tidak kurang juga yg menyambutnya dengan sinaran-sinaran lampu-lampu minyak agar kawasan mereka diterangi. Mereka begitu yakin dengan beberapa tanda-tanda yang banyak diceritakan dalam berbagai cerita sejarah.

Ada suatu hal yang masih tersimpan dalam benak hati kita semua. Sebuah pertanyaan terdalam. Pernahkah Nabi SWA melihat langsung Lailatul Qadar? Adakah sahabat-sahabat juga pernah melihatnya? Kita pernah mendengar banyak hadis-hadis yang menceritakan tanda-tanda malam tersebut, adakah kita bisa melihatnya dengan mata kepala kita sendiri.

Cara yang paling bijak bagi kita menjawab persoalan ini marilah kita lihat tafsiran beberapa ahli tafsir termasuk melihat tanda-tanda tersembunyi yang sering diceritakan itu.

Tafsir Surat Al-Qadar

Satu surat yang begitu signifikan menceritakan mengenai peristiwa malam tersebut ialah surah Al-Qadar yang berisi 5 ayat. Surat Al-Qadar adalah surat ke 97 menurut susunannya didalam Mushaf. Ada diantara ulama-ulama mengatakan bahwa surat Al-Qadar ini turun selepas penghijrahan Nabi saw ke Madinah.

Didalam membicarakan pentafsiran ayat, amatlah bijak jika kita mengambil penafsiran yang diambil dari Tafsir Jalalain:

Kesimpulannya bahwa malam Al-Qadar itu secara sejarahnya di turunkan Al-Quran dari Lauhul Mahfuz kelangit dunia. Kemuliaan malam tersebut telah dikhabarkan kepada Rasulullah SAW. Bulan itu dikatakan satu bulan dengan barakah seperti 1000 bulan. Dimalam tersebut para malaikat-malaikat dan Jibril turun ke bumi dan memohon Allah mengkabulkan doa'-do'a hambanya. Kemuliaan malam tersebut berakhir dengan terbitnya fajar.

Pentafsiran yang lebih terperinci sedikit mengenai ayat pertama surah Al-Qadar ini dapat kita lihat dari Tafsir Ibnu Kathir:

Allah SWT telah mengkhabarkan sesungguhnya Ia telah menurunkan Al-Quran pada malam Lailatul Qadar. Dimana Allah berfirman, "Sesungguhnya kami turunkannya di malam yg barakah". Inilah yang kemudian dikenal sebagai malam Al-Qadar yg berada didalam bulan Ramadan sebagaimana firmannya, "Pada bulan Ramadan yang diturunkan didalamnya Al-Quran".

Berkata Ibnu Abbas bahwa Allah SWT telah menurunkan Al-Quran keseluruhannya (secara total) dari Lauhul Mahfuz ke Baitul 'Izzah dari langit dunia kemudian ia diturunkan secara berpisah dan berperingkat selama 23 tahun keatas Nabi SAW, kemudian firman Allah beliau memuliakan Lailatul Qadar dimana Allah SWT telah mengizinkan penurunan Al-Quran.

Keistimewaan Lailatul Qadar

Sheikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi merujuk kepada surah Al-Qadar didalam membicarakan persoalan keistimewaan Lailatul Qadar, katanya :

"Allah telah memuliakan Al-Quran dimalam ini, dan ditambahnya dengan maqam yang mulia, yaitu kedudukan dan kemuliaannya yang sangat banyak dari kebaikan dan kelebihan dari 1000 bulan. Apa-apa ketaatan dan ibadah didalamnya menyerupai 1000 bulan yang bukan Lailatul Qadar. 1000 bulan ini menyamai 83 tahun 4 bulan. Hanya di satu malam ini lebih baik dari umur seseorang yang menghampiri 100 tahun, jika tambah berapa tahun beliau baligh dan dipertanggung jawabkan".

Dan pada malam itu turunnya malaikat-malaikat dengan rahmat Allah dengan kesejahteraan dan barakahnya. Dan kesejahteraanya melimpah sehingga ke terbit fajar. Didalam As-sunnah, banyak hadist-hadist yang menyebutkan mengenai keutamaan Lailatul Qadar ini. Yang banyak dianjurkan untuk mencarinya pada 10 malam terakhir. Dalam Sahih Bukhari dari Hadis Abu Hurarirah, "Barangsiapa yang berqiam dimalam Al-Qadar dengan penuh keimanan dan bersungguh-sungguh maka telah diampunkannya apa yang telah lalu dari dosanya". (Riwayat Bukhari didalam Kitab Al-Saum).

Rasulullah SAW telah memberi penjelasan kepada siapa yang lalai dan tidak memperhatikan malam tersebut, yaitu sama seperti menghalang diirinya dari menerima kebaikannya dan ganjarannya. Berkata para sahabat yang telah dinaungi mereka bulan Ramadan, "Sesungguhnya bulan ini telah hadir kepada kamu didalamnya mengandung malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Siapa yang memuliakannya maka beliau akan dimuliakan kebaikan semua perkara. Dan siapa yang tidak memuliakannya maka kebaikannya akan dihalang". (Riwayat Ibnu Majah dari Hadis Anas, isnad Hassan sebagaimana didalam Sahih Jaami' Al-Saghir).

Sheikh Ibnu Taimiyyah (Majmu' fatawa - Jilid-25/286) didalam membicarakan soalan yang mana satu lebih afdal, diantara Malam Isra' Nabi saw atau Lailatul qadar? Kata: "Sesungguhnya Malam Isra' lebih afdal dan Malam Al-Qadar lebih afdal bila dinisbahkan kepada umat...". Manakah yang lebih afdal 10 Zulhijjah atau 10 malam terakhir Ramadan?. Kata Ibnu Taimiyyah, "Hari 10 Zulhijjah lebih afdal dari hari 10 dari bulan Ramadan. Dan malam-malam 10 akhir Ramadan lebih afdal malam 10 Zulhijjah". Jelas menunjukkan bahwa para ulama menyatakan bahwa malam lailatul Qadar ini sangat istimewa kepada umat Muhammad.

Dapatkah Lailatul Qadar dilihat dengan mata?

Dua tokoh ulama' Arab Saudi, Sheikh Abdul Aziz bin Baaz dan Sheikh Salleh Munajjid berkata: "Malam Qadar boleh dilihat dengan mata kepada siapa yang diberi taufiq oleh Allah SWT dan dengan menggunakan tanda-tandanya. Para sahabat r.h. mencarinya berdasarkan tanda-tandanya tetapi tiada laporan yang mengatakan mereka telah melihatnya. Akan tetapi tidak ada larangan mencari hasil fadilah bagi siapa yang beriman dan bersungguh-sungguh", kata beliau.

Sheikh Al-Sya'rawi mengatakan: "Satu pun diantara makluk Allah tidak melihat Lailatul Qadar melainkan Rasulullah SAW. Ani adalah satu keistimewaan yang diberikan kepada Rasulnya. Selain itu, ada beberapa orang yang dilaporkan pernah melihatnya. Mereka yang melihatnya berkata-kata kepada Rasulullah yang melihat beliau pandangan di dalam tidur mereka, seolah-olah berkata: "Aku melihat sebagaimana aku sujud di dalam air yang melimpah, kemudian menjadi pagi hari 23, mereka melihat masjid-masjid di sepanjang malam tersebut. Langit seolah-olah ingin hujan, Rasulullah sujud sehingga kelihatan dahi di atas tangannya dan kami mengetahui bahwa di sini adalah Lailatul Qadar didalam tahun dan malam itu".

Haruskah mencari Lailatul Qadar?

Ada beberapa hadis yang menunjukkan betapa ruginya seseorang yang tidak pernah berusaha mencari Lailatul Qadar. Menurut Sheikh Abdul Aziz bin Baaz dan Sheikh Salleh Munajjid beliau berkata; "Seorang Islam haruslah mencari malam 10 terakhir Ramadan sebagaimana Rasulullah SAW mengarahkan umatnya menuntut ganjaran dan pahala di mana seseorang yang mendirikannya dan iman dan azam malam tersebut, dia akan menerima ganjarannya dan jika tidak bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: "Barangsiapa yang berqiam di malam Qadar dengan keimanannya maka Allah akan mengampunkan dosanya yang telah lalu". Dalam riwayat lain, "Barangsiapa yg berqiam dan mencarinya kemudian ia akan diampunkan dosa yang sebelumnya dan yang terakhir."

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Menurut Sheikh Abdul Khaliq Al-Sharrif bahwa tanda-tanda Lailatul Qadar akan ditunjukkan pada pagi harinya matahari akan memancar dan cuacanya yang agak sejuk. Sheikh Saleh Munajjid mengatakan bahwa matahari yang keluar itu tidak memancarkan cahaya. Sheikh Dr Yusuf Qaradhawi mengatakan terdapat juga berbagai tanda, seperti cahayanya merah kelemah-lemahan dan pada malam itu hujan dan angin sepoi-poi, tiada bau dan tiada sejuk sebagaimana yang disebut oleh Al-Hafiz didalam Fathul Bari'.

Kata Al-Qaradhawi:

"Semua tanda ini tidak memberi kepastian mengenainya. Tidak mungkin ia berulang-ulang, karena malam Al-Qadar selalu berbeda-beda cuacanya dalam berbagai negara, berbeda pula waktunya. Ia mungkin dijumpai di sebuah negara Islam yang tidak putus hujannya, dan kemungkinan di negara lain yang keluarganya bersholat istiqo' yang berdepan dengan kemarau, dan negara-negara berbeda dari segi kepanasan dan kesejukannya, naik matahari dan turunnya, kuat atau lemah pancarannya, maka mustahil untuk mendapat titik pertemuan ini. Kajian ulama' mengatakan: boleh di ambil malam-malam yang tertentu Lailatul Qadar itu dari sebahgian manusia. Ia hanya kelihatan kepada dia seorang saja yang melihatnya. Atau menerima mimpi didalam tidur, atau berlaku (karamah) keajaiban yang luar biasa. Atau Ia terjadi kepada keseluruhan umat Islam agar ia menerima ganjaran kepada siapa saja yang berpeluang melakunya. Dan Ia tidak nampak apa-apa yang berlaku. Kebanyakkan ulama' mengambil pandangan yang awal tadi.

Amalan saat Lailatul Qadar

Kemuliaan malam tersebut dan seruan-seruan dari hadist-hadist yang menyuruh umat Islam mencari malam tersebut mungkin akan menimbulkan sedikit pertanyaan. Apakah malam itu khusus bagi mereka-mereka yang alim saja atau bisa berlaku bagi masyakat umum. Yusuf Qaradawi mengatakan bahwa malam itu datang untuk semua orang yang benar-benar menginginkannya. Kata Qaradhawi:

"Maka Malam al-Qadar ialah malam umum untuk semua yang menuntutnya. Yang menginginkan kebaikan dan ganjarannya, dan apa yang disisi Allah di dalamnya, itu lah malam ibadah dan malam ta'at, dan bersolat, bertilawah, berdo'a, bersedekah, menjalinkan perhubungan, beramal sholeh, dan melakukan kebaikan-kebaikan".

"Yang harus dilakukan oleh orang Islam pada malam ialah; Bersholat Isya' secara berjamaah, sholat subuh berjamaah dan pada malamnya mendirikan qiamullail. Di dalam hadist Sahih diriwayatkan Nabi bersabda, "Barangsiapa yang bersholat Isya' berjamaah, seolah-olah ia berqiam di separuh malam, dan barangsiapa yang bersolat subuh berjamaah, seolah-olah ia bersholat disepanjang malam tersebut. (Riwayat Ahmad, Muslim).

Sheikh Atiyah Saqr menganjurkan:

Hidupkannya dengan bersholat, membaca Al-Quran, berzikir, beristigfar dan berdo'a dari terbenam matahari sehingga terbit fajar. Dan hidupkan ramadhan dengan bersolat terawikh di dalamnya. Sebuah riwayat yang mengatakan, "Barangsiapa yang bersholat magrib dan Isya' di hari akhir yaitu di malam Al-Qadar secara berjamaah, ia telah diberi keuntungan dari Lailatul Qadar". Berkata A'isyah r.h "Ya Rasulullah di waktu Lailatul Qadar, apakah yang harus aku katakan". "Katakalah, "Ya Allah sesungguhnya kamu pengampun dan suka kepada pengampunan, maka ampunkanlah ku".(ANN/cha)

Sumber: Hidayatullah.com

Jumat, 04 September 2009

Ramadhan Bulan Penuh Solusi


Ramadhan Bulan Penuh Solusi


Tidak terasa 11 bulan begitu cepat berlalu. Bulan suci Ramadhan 1430 H yang penuh berkah telah datang. Kedatangan bulan keberkahan ini hendaknya disambut oleh umat dengan penuh suka dan cita layaknya menyambut tamu agung.

Memang, ada realitas pahit terkait dengan persoalan harga bahan bakar minyak (BBM) yang bagaimanapun, harus dijalani, suka atau tidak suka. Kini, dapatkah bulan Ramadhan menghadirkan alternatif solusi, keluar dari berbagai kesulitan dan himpitan yang menyertai hidup rakyat dewasa ini?

Ramadhan, supertrainer


Bulan suci Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran yang datang sebagai petunjuk, penjelas, dan pembeda bagi manusia (Al-Baqarah:185). Ia merupakan bulan di mana pintu-pintu ibadah, amal, dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Ilahi terbuka lebar, sehingga ruang gerak setan menjadi terbatas. Ramadhan merupakan bulan diwajibkannya berpuasa bagi umat Muslim yang menurut hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim adalah tonggak tegaknya agama ini....


Ramadhan Bulan Penuh Solusi


Tidak terasa 11 bulan begitu cepat berlalu. Bulan suci Ramadhan 1430 H yang penuh berkah telah datang. Kedatangan bulan keberkahan ini hendaknya disambut oleh umat dengan penuh suka dan cita layaknya menyambut tamu agung.

Memang, ada realitas pahit terkait dengan persoalan harga bahan bakar minyak (BBM) yang bagaimanapun, harus dijalani, suka atau tidak suka. Kini, dapatkah bulan Ramadhan menghadirkan alternatif solusi, keluar dari berbagai kesulitan dan himpitan yang menyertai hidup rakyat dewasa ini?

Ramadhan, supertrainer

Bulan suci Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran yang datang sebagai petunjuk, penjelas, dan pembeda bagi manusia (Al-Baqarah:185). Ia merupakan bulan di mana pintu-pintu ibadah, amal, dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Ilahi terbuka lebar, sehingga ruang gerak setan menjadi terbatas. Ramadhan merupakan bulan diwajibkannya berpuasa bagi umat Muslim yang menurut hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim adalah tonggak tegaknya agama ini.

Kendati demikian, terdapat beberapa klasifikasi Muslim pada bulan ini. Pertama, orang yang menanti kehadiran Ramadhan dengan suka cita, bekerja keras menyempurnakan ibadah-ibadah wajib dan sunah dengan meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW). Kedua, orang yang memasuki bulan Ramadhan dan keluar darinya dengan tanpa perubahan dan tidak bertambah darinya kebajikan apa pun. Ketiga, orang yang tidak mengenal Allah kecuali pada bulan ini. Ia dengan khusyu melakukan ibadah dan beramal saleh. Namun bila Ramadhan usai, ia akan kembali kepada ‘habitat’-nya semula.

Keempat, orang yang di bulan ini hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun tetap melakukan kemaksiatan. Kelima, orang yang menjadikan siang hari Ramadhan bagai malam dengan tidur sepanjang hari dan mengisi malamnya dengan lahwu (kegiatan yang melalaikan). Dan keenam, golongan manusia yang tidak mengenal Allah baik di bulan Ramadhan atau di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun meskipun ia mengaku sebagai seorang Muslim.

Bila dihayati secara mendalam, bulan Ramadhan bak madrasatun mada al-hayah (madrasah sepanjang hayat) yang berkelanjutan mendidik dan mengedukasi generasi demi generasi setiap tahun. Ramadhan memuat makna-makna iman pada jiwa manusia, mengilhami mereka arti agama yang hanif, dan memantapkan kepribadian Muslim yang hakiki. Ramadhan merupakan sarana yang sangat efektif menghadirkan internalisasi nilai kebajikan guna menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah masyarakat.

Untuk itu, setiap Muslim hendaknya mengantisipasi kehadiran bulan bertaburan berkah ini dengan mempersiapkan diri, mengoptimalkan daya dan upaya meraih hari esok yang lebih baik (Al-Hasyr:18). Jika training kaum profesional dewasa ini hanya dilakukan dalam empat hari dan menghasilkan perubahan positif yang luar biasa, maka Ramadhan satu bulan penuh, Muslim di-training oleh SuperTrainer-nya, yaitu Allah SWT, Dzat yang Maha segala-galanya. Tentu hasilnya akan juga luar biasa, bila itu dilakukan dengan penuh keseriusan dan mendamba ridha Allah.
Bulan solusi

Kesempatan Ramadhan yang di dalamnya dijanjikan rahmat (karunia), maghfirah (ampunan), dan itqun min al-nar (pembebasan dari api neraka), sesungguhnya momentum ideal menemukan solusi banyak hal bagi umat. Pertama, puasa yang benar dapat membangunkan hati Mukmin yang ‘tertidur’ sehingga merasakan muraqabatullah (perasaan diawasi Allah). Ketika seorang yang berpuasa men-tadabbur sebagian siangnya sehingga merasakan haus dan lapar, ia akan menahan diri tidak makan dan tidak melakukan kemunkaran hanya karena perintah Allah. Kondisi ini membuat seseorang merasakan kehadiran Ilahi yang memantau gerak geriknya.

Kedua, bulan Ramadhan yang merupakan satu bulan dari 12 bulan dalam setahun, dimuati dengan ketaatan dan taqarrub kepada Allah yang dapat memanifestasikan makna ubudiyah kepada-Nya yang paling tinggi. Hal ini tidak mungkin dapat terwujud bila hanya ‘kerja keras’ di depan meja makan saat berbuka dan sahur.

Ketiga, perut kenyang dalam kehidupan Muslim dapat memandulkan perasaan sehingga hati menjadi keras, menyuburkan sikap liar, dan maksiat kepada Allah dan sesama manusia. Dan ini bertentangan dengan karakter Muslim sesungguhnya. Keempat, sesungguhnya bagian dari fundamen-fundamen penting yang menyokong kebangkitan umat Islam adalah kasih sayang resiprokal dan solidaritas sosial di antara sesama Muslim.

Para the haves akan sulit menyayang orang fakir dengan kasih sayang yang jujur tanpa melewati dan menjalani keperihan dan derita kefakiran serta pahitnya kelaparan itu sendiri. Manfaat yang paling berharga yang dipetik oleh orang kaya adalah kesempatan menjadi ‘orang fakir dan miskin’ tersebut, karena ia mengalami hidup seperti itu secara riil.

Ketika solusi muraqabatullah, ketaatan, taqarrub, kasih sayang, solidaritas, dan kepedulian sosial dapat dikapitalisasi di bulan Ramadhan dan direalisasi di luar bulan ini, sesungguhnya banyak persoalan negeri dan bangsa ini dapat diselesaikan. Di antaranya, persoalan korupsi, pembunuhan, perampokan, kenaikan BBM yang disusul dengan peristiwa terkutuk pemboman Bali jilid II dan banyak lagi penyakit-penyakit sosial lain yang terjadi di tengah masyarakat karena terkikisnya nilai-nilai tersebut.

Kendati demikian, bulan Ramadhan bila dimanfaatkan secara optimal oleh semua unsur– dapat menjadi ajang menumbuhkan empati dan kepedulian sosial yang lenyap tersebut, sehingga yang diutamakan bukan hitungan rasional-matematis saja, tetapi ikut ‘merasakan’ derita dan jeritan hati rakyat. Hal ini bisa dilakukan dengan menunda atau menekan persentase kenaikan seminimal mungkin.

Karena itu perlu bagi umat untuk kembali merenungkan ungkapan terakhir dari surat Al-Baqarah:183, bahwa yang mewajibkan puasa adalah la’allakum tattaqun dalam kata kerja mudhari yang hendaknya dimaknai agar dapat merealisasikan nilai-nilai muraqabatullah, ketaatan, dan kasih sayang secara terus-menerus, tidak hanya di saat bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan, sekali lagi, sebagai wahana memupuk solidaritas tinggi antarumat manusia yang disempurnakan pada akhir bulan dengan kewajiban membayar zakat fitrah sebagai manifestasi puncak solidaritas sosial tersebut. Sikap dan kepribadian positif, produktif, empatik, dan menghadirkan keputusan win-win solution adalah sosok pribadi yang lulus secara gemilang dari madrasah Ramadhan yang penuh solusi. Wallahu a’lam



Sumber: hidayatnurwahid.blogdetik.com dan Republika


Meraih Berkah Ramadhan

Meraih Berkah Ramadhan
Ditulis oleh : Ummu Nabhan


Para salaf, pendahulu umat ini sangat memahami betapa berartinya Ramadhan. Segala kebaikan, keutamaan serta berkah berkumpul di dalamnya. Sehingga mereka yang tahu sifat dan keutamaan Ramadhan akan bersiap menyambut dengan berbagai amal kebajikan, agar memperoleh keberuntungan yang besar. Dan mereka tak akan berpisah dengan Ramadhan, kecuali ia telah menyucikan ruh dan jiwanya.

Sebagaimana firman Allah,

“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.” (Asy-Syam: 9)

Sungguh sangat merugilah orang yang tak peduli pada Ramadhan, menyia-nyiakan kehadirannya, padahal antara waktu siang dan malamnya dipenuhi kebaikan dan keberkahan.

KEUTAMAAN RAMADHAN

Telah disinggung di atas bahwa bulan Ramadhan memiliki banyak keutamaan. Di antaranya dalam Ramadhan terdapat tiga macam ibadah yang sangat agung, yaitu puasa, zakat dan qiyam (berdiri untuk shalat). Namun selain tiga ibadah tersebut, masih banyak amalan-amalan lain yang bisa pula kita lakukan selama Ramadhan.

Banyak ayat dalam al-Quran yang menganjurkan orang berpuasa. Sebagaimana firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

“Dan berpuasa itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Al Baqarah: 184)

“Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kamu mukminin dan mukminat, orang-orang yang taat laki-laki dan perempuan, orang-orang yang jujur laki-laki dan perempuan, orang-orang yang sabar laki-laki dan perempuan, orang-orang yang suka bersedekah laki-laki dan perempuan, orang-orang yang suka berpuasa laki-laki dan perempuan, orang-orang yang memelihara kehormatannya laki-laki dan perempuan, orang-orang yang suka menyebut-nyebut nama Allah banyak sekali, laki-laki dan perempuan, maka Allah menyiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahdzab: 35)

Membayar zakat merupakan kesempurnaan bagi puasa seseorang dan merupakan kewajiban dalam Islam, juga keuntungan. Sebagaimana firman Allah,

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap butir seratur biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 261)
....


Meraih Berkah Ramadhan
Ditulis oleh : Ummu Nabhan

Para salaf, pendahulu umat ini sangat memahami betapa berartinya Ramadhan. Segala kebaikan, keutamaan serta berkah berkumpul di dalamnya. Sehingga mereka yang tahu sifat dan keutamaan Ramadhan akan bersiap menyambut dengan berbagai amal kebajikan, agar memperoleh keberuntungan yang besar. Dan mereka tak akan berpisah dengan Ramadhan, kecuali ia telah menyucikan ruh dan jiwanya.

Sebagaimana firman Allah,

“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.” (Asy-Syam: 9)

Sungguh sangat merugilah orang yang tak peduli pada Ramadhan, menyia-nyiakan kehadirannya, padahal antara waktu siang dan malamnya dipenuhi kebaikan dan keberkahan.

KEUTAMAAN RAMADHAN

Telah disinggung di atas bahwa bulan Ramadhan memiliki banyak keutamaan. Di antaranya dalam Ramadhan terdapat tiga macam ibadah yang sangat agung, yaitu puasa, zakat dan qiyam (berdiri untuk shalat). Namun selain tiga ibadah tersebut, masih banyak amalan-amalan lain yang bisa pula kita lakukan selama Ramadhan.

Banyak ayat dalam al-Quran yang menganjurkan orang berpuasa. Sebagaimana firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

“Dan berpuasa itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Al Baqarah: 184)

“Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kamu mukminin dan mukminat, orang-orang yang taat laki-laki dan perempuan, orang-orang yang jujur laki-laki dan perempuan, orang-orang yang sabar laki-laki dan perempuan, orang-orang yang suka bersedekah laki-laki dan perempuan, orang-orang yang suka berpuasa laki-laki dan perempuan, orang-orang yang memelihara kehormatannya laki-laki dan perempuan, orang-orang yang suka menyebut-nyebut nama Allah banyak sekali, laki-laki dan perempuan, maka Allah menyiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahdzab: 35)

Membayar zakat merupakan kesempurnaan bagi puasa seseorang dan merupakan kewajiban dalam Islam, juga keuntungan. Sebagaimana firman Allah,

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap butir seratur biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 261)

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka adalah superti kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat. Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis pun (telah cukup baginya). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah: 265)

Mengingat besarnya pahala dan manfaat zakat, hendaknya kita melakukan dengan penuh keikhlasan. Selain untuk membersihkan harta, juga menjauhkan dari sikap bakhil dan rakus. Zakat juga merupakan wujud kepedulian kita kepada orang lain yang membutuhkan, serta membebaskan kita dari tanggungan dan ancaman dasyat, seperti firman Allah,

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil terhadap harta-harta yang Allah berikan kepada mereka sebagai karunia-Nya itu menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sesungguhnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala urusan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali Imran: 180)

Rasulullah banyak memberi contoh amalan selama Ramadhan, termasuk mengisi waktu dengan qiyam (berdiri untuk shalat) baik itu wajib ataupun sunnah. Adapun shalat sunnah itu meliputi shalat tarawih ataupun shalat malam sebagaimana sabda Nabi,

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam bulan Ramadhan karena iman dan mengharap balasan, maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat.”

Rasulullah selalu menghidupkan hampir seluruh malamnya untuk beribadah, juga membangunkan keluarganya untuk qiyamul lail. Terlebih di bulan Ramadhan. Bahkan disebutkan dalam Shahih Muslim dari Aisyah ra, dia berkata,

“Yang aku ketahui beliau shalat semalaman sampai menjelang pagi.”

Selain 3 amalan utama di atas, Rasulullah juga mengisi Ramadhan dengan amalan-amalan shalih lainnya. Tak ada waktu yang beliau lewatkan sia-sia. Terlebih di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Beliau juga melakukan i’tikaf karena mengharap lailatul qadar, kita menyibukkan diri dengan ibadah, bermunajat dan memperbanyak dzikir pada Allah.

Demikian pulalah seharusnya kita dalam mengisi Ramadhan, menyibukkan hati dengan apa saja yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya, sehingga tidak ada yang tersisa dalam hati selain Allah dan segala yang mendatangkan keridhaan-Nya.

Selain keutaman Ramadhan dalam hal ibadah, pada bulan Ramadhan pula al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Yaitu pada malam lailatul qadar. Hal ini disebutkan dalam al-Quran,

“Pada bulan Ramadhan yang diturunkan al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan dari petunjuk, dan membedakan (antara yang hak dan yang batil), maka barangsiapa yang hadir di antara kamu di bulan itu hendaklah ia berpuasa.” (Al Baqarah: 185)

Keutamaan lain Ramadhan adalah dibukanya pintu-pintu rahmat dan ditutupnya pintu jahanam, dan para setan dibelenggu. Jika kita sudah memahami hal itu, tentunya akan segera berlomba mengisi Ramadhan dengan amal kebajikan seraya mengharap pahala berlipat seperti yang Allah janjikan. Juga memenuhi diri dengan taubat, sebab pintu ampunan dibuka lebar. Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan Allah meraih kebaikan Ramadhan dan semua keutamaan di dalamnya.

JANGAN SIA-SIAKAN RAMADHAN

Barangsiapa melewatkan waktu selama Ramadhan dengan sia-sia, sesungguhnya ia termasuk orang yang merugi dalam perdagangannya dengan Allah. Ia melewatkan keberuntungan besar berupa hadiah dari Allah.

Dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali z, secara marfu’ dari Nabi bersabda,

“Barangsiapa menjumpai Ramadhan dalam keadaan sehat dan muslim lalu ia berpuasa pada siang harinya, shalat pada sebagian malamnya, menahan pandangannya, menjaga kemaluannya, lisan dan tangannya, menjaga shalat-shalatnya dengan berjamaah, bersegera menuju shalat Jumat, maka sungguh dia telah berpuasa sebulan, menyempurnakan pahala serta mendapatkan lailatul qadar, dan dia beruntung dengan hadiah dari Rabb Tabaraka wa Ta’ala.”

Di antara hadiah itu adalah ampunan besar. Sebagaimana kita tahu Ramadhan penuh dengan ladang ampunan yang dibentang lebar, hingga Rasulullah mendorong umatnya untuk memanfaatkan keberkahan itu dengan memohon ampunan dosa. Beliau n mengumpamakan sekiranya dosa orang yang berpuasa seperti busa air laut, akan diampuni karena besarnya kedudukan ibadah yang berkeberkahan itu.

Dari Abu Hurairah ra, Nabi bersabda,

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan ikhlas, diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.”

Kerugian lain atas orang yang menyia-nyiakan ibadah dan waktu selama Ramadhan, ia kehilangan nikmat Allah berupa pembebasan dari api neraka, sebagaimana sabda Rasulullah bahwa Allah berkenan membebaskan setiap muslim dari api neraka tiap-tiap malam Ramadhan. Bagaimana Allah l akan membebaskan dari api neraka jika kita tetap sibuk dengan maksiat dan lalai dari beribadah selama Ramadhan dan bulan lain?

Selain hal di atas, Allah juga menyambut doa-doa orang yang berpuasa terlebih di malam-malam yang mustajab, melipatgandakan pahala atas setiap kebajikan. Masihkah kita rela kehilangan semua itu karena menyia-nyiakan kesempatan emas selama Ramadhan?

Tak hanya itu, termasuk orang yang merugi, selama Ramadhan adalah mereka yang tidak meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat. Begitulah, kebanyakan dari kita berpuasa Ramadhan, tapi perbuatan kita tak jauh beda dengan saat kita berpuasa, tetap saja bermaksiat dan tidak meninggalkan keharaman. Seperti berdusta, ghibah, memfitnah, pergi ke tempat maksiat dan hal sia-sia lainnya.

Nabi bersabda,

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan masih juga melakukannya, serta melakukan perbuatan-perbuatan bodoh, maka Allah tidak membutuhkan terhadap puasanya, meskipun ia meninggalkan makan dan minumnya.”

Coba kita tengok banyak dari saudara kita, meski berpuasa tetap menghabiskan waktunya untuk nongkrong, mengumbar pandangan, tidak menjaga perut dari keharaman makanan atau minuman, tetap mengikuti nafsu dan sebagainya. Padahal Allah berfirman,

“Dan sesungguhnya kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pandangan, penglihatan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (Al-Isra’: 36)

Hal lain yang seharusnya tak kita lupakan adalah dzikrul maut (mengingat kematian). Kematian bisa mengintai kita kapan saja. Bila kita lalai bahwa kita akan mati, maka kita akan menyia-nyiakan waktu, dan melalaikan ibadah. Lain halnya bagi orang-orang yang mengingat maut. Mereka akan lebih bersemangat dalam kebajikan, termasuk dalam memanfaatkan waktu selama Ramadhan, dan mengoptimalkan semua kesempatan yang ada, baik di dalam atau di luar Ramadhan. Memang begitulah seharusnya, karena kita tak pernah tahu, akankah kita bersua kembali dengan Ramadhan tahun depan?

Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan meraih berkah Ramadhan, dan memperoleh keberuntungan berlipat di dalamnya serta tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi.

Daisadur dari: www.majalah-nikah.com


Kamis, 20 Agustus 2009

10 Indikasi “Gagal Meraih Keutamaan Ramadhan"

10 Indikasi “Gagal Meraih Keutamaan Ramadhan"


“Berapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa
kecuali lapar dan dahaga...(HR. Bukhari dan Muslim). Hadits Rasulullah
tersebut harusnya dapat membangkitkan kewaspadaan kita untuk menjauhi dan tidak
terjerumus didalamnya. Apalah artinya berpuasa bila hanya meninggalkan kering
pada kerongkongan dan lapar didalam perut?

Berikut ini adalah uraian yang patut direnungkan agar kita tidak termasuk
orang-orang yang disinggung dalam hadits Rasulullah tersebut. Kegagalan yang
dimaksud tentu bukan sebuah klaim yang pasti. Itu memang hak Allah SWT semata.
Tapi setidaknya kita perlu berhitung dan memiliki neraca agar segenap amal
ibadah kita di bulan Ramadhan ini benar-benar berbobot, hingga kita bisa lulus
dari madrasah Ramadhan menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Amiiin.


10 Indikasi “Gagal Meraih Keutamaan Ramadhan"


“Berapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa
kecuali lapar dan dahaga...(HR. Bukhari dan Muslim). Hadits Rasulullah
tersebut harusnya dapat membangkitkan kewaspadaan kita untuk menjauhi dan tidak
terjerumus didalamnya. Apalah artinya berpuasa bila hanya meninggalkan kering
pada kerongkongan dan lapar didalam perut?

Berikut ini adalah uraian yang patut direnungkan agar kita tidak termasuk
orang-orang yang disinggung dalam hadits Rasulullah tersebut. Kegagalan yang
dimaksud tentu bukan sebuah klaim yang pasti. Itu memang hak Allah SWT semata.
Tapi setidaknya kita perlu berhitung dan memiliki neraca agar segenap amal
ibadah kita di bulan Ramadhan ini benar-benar berbobot, hingga kita bisa lulus
dari madrasah Ramadhan menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Amiiin.

PERTAMA, ketika kurang optimal melakukan “warming up Edengan memperbanyak
ibadah dibulan Sya’ban. Ibarat sebuah mesin, memperbanyak ibadah di bulan
Sya’ban berpungsi sebagai pemanasan bagi ruhani dan fisik untuk memasuki bulan
Ramadhan. Berpuasa sunnah, memperbanyak ibadah shalat, tilawah Al-Qur’an
sebelum Ramadhan. akan menjadikan suasana hati dan tubuh kondusif untuk
pelaksanaan ibadah di bulan puasa. Dengan begitu, puasa, ibadah malam,
memperbanyak membaca Al-Qur’an, berdzikir, taqarrub kepada Allah, menjadi lebih
lancar.

Mungkin, itulah hikmahnya kenapa Rasulullah SAW dalam hadits riwayat ‘Aisyah,
disebutkan paling banyak melakukan puasa di bulan Sya’ban. Bahkan sejak bulan
Rajab, dua bulan menjelang Ramadhan, beliau sudah mengajarkan doa kepada para
sahabatnya, “Allaahumma bariklanaa fii Rajaba wa Sya’ban, wa balighna
Ramadhana. EYa Allah, berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban, dan
sampaikanlah usia kami pada bulan Ramadhan. Rasulullah dan para sahabat ingin
mengkondisikan jiwa dan fisik mereka untuk siap menerima kehadiran tamu agung
bulan Ramadhan.

KEDUA, ketika target pembacaan Al-Qur’an yang dicanangkan minimal satu kali
khatam, tidak terpenuhi selama bulan Ramadhan. Di bulan ini, pembacaan
Al-Qur’an merupakan bentuk ibadah tersendiri yang sangat dianjurkan. Pada bulan
inilah Allah SWT menurunkan wahyunya dari Lauhul Mahfudz kelangit dunia.
Peristiwa ini disebut sebagai malam lailatul qadar.. Pada bulan ini pula Jibril
as biasa mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW.

Orang yang berpuasa dibulan ini, sangat dianjurkan memiliki wirid Al-Qur’an
yang lebih baik dari bulan-bulan selainnya. Kenapa minimal harus dapat
mengkhatamkan satu kali sepanjang bulan ini? Karena itulah terget minimal
pembacaan Al-Qur’an yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ketika Abdullah bin
Umar bertanya kepadanya, “Berapa lama sebaiknya seseorang mengkhatam Al-Qur’an? 
ERasul menjawab, ��Satu kali dalam sebulan. EAbdullah bin Umar mengatakan, “Aku
mampu untuk lebih dari satu kali khatam dalam satu bulan. ERasul berkata lagi,
“Kalau begitu, bacalah dalam satu pekan. ETapi Abdullah bin Umar masih
mengatakan bahwa dirinya masih mampu membaca seluruh AL-Qur’an lebih cepat dari
satu pekan. Kemudian Rasul mengatakan, “Kalau begitu, bacalah dalam tiga hari. E
KETIGA, Ketika berpuasa tidak menghalangi seseorang dari penyimpangan mulut
seperti membicarakan keburukan orang lain, mengeluarkan kata-kata kasar,
membuka rahasia, mengadu domba, berdusta dan sebagainya. Seperti yang sudah
banyak diketahui, hakikat puasa tidak terletak pada menahan makanan dan minuman
masuk masuk kedalam kerongkongan. Tapi puasa juga mengajak pelakunya untuk bisa
menahan diri dari berbagai penyimpangan, salah satu yang dilakukan oleh mulut.
Rasulullah SAW menyatakan bahwa dusta akan menjadikan puasa sia-sia. (HR.
Bukhari).

Mulut merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sukar untuk di kembalikan
namun nilainya sangat mahal. Rasulullah berpesan, adakalanya kalimat buruk yang
ringan diucapkan oleh seseorang, tapi karena Allah tidak ridha dengan kalimat
itu, maka orang itu tercampak ke dalam neraka. Sebaliknya adakalanya kalimat
baik yang ringan diucapkan oleh seseorang, tapi karena Allah ridha dengan
kalimat itu, orang tersebut dimasukan ke dalam surga. (HR. Ahmad)

KEEMPAT, ketika puasa tak bisa menjadikan pelakunya berupaya memelihara mata
dari melihat yang haram. Mata adalah penerima informasi paling efektif yang
bisa memberi rekaman kedalam otak dan jiwa seseorang. Memori informasi yang
tertangkap oleh mata, lebih sulit terhapus ketimbang informasi yang diperoleh
oleh indra yang lainnya. Karenanya, memelihara mata menjadi sangat penting
untuk membersihkan jiwa dan pikiran dari berbagai kotoran. Salah mengarahkan
pandangan, bila terus berulang akan menumbuhkan suasana kusam dan tidak nyaman
dalam jiwa dan pikiran. Ini sebabnya mengapa Islam mewasiatkan sikap hati-hati
dalam menggunakan nikmat mata.

Puasa yang tak menambah pelakunya lebih memelihara mata dari yang haram,
menjadikan puasa itu nyaris tak memiliki pengaruh apapun dalam perbaikan diri.
Karenanya, boleh jadi secara hukum puasanya sah, tapi substansi puasa itu tidak
akan tercapai.

KELIMA, ketika malam-malam Ramdhan menjadi tak ada bedanya dengan malam-malam
selain Ramadhan. Salah satu ciri khas bulan Ramadhan adalah, Rasulullah
menganjurkan umatnya untuk menghidupkan malam dengan shalat dan do’a-do’a
tertentu. Ibadah shalat di bulan Ramadhan yang biasa disebut shalat tarawih,
merupakan amal ibadah khusus di bulan ini. Tanpa menghidupkan malam dengan
ibadah tarawih, tentu seseorang akan kehilangan momentum berharga. Selain itu
di dalam shalat ini pula Rasulullah SAW mengajarkan do’a-do’a khusus yang insya
Allah akan dijadikan oleh Allah SWT. Di antara do’a-do’a yang perlu diperbanyak
dalam shalat tarawih adalah, “Allaahumma inni as alika rdhaaka wal jannah wa
na’udzubika min sakhatika wan naar. EYa Allah aku memohon keridhaan-Mu dan
surga-Mu. Dan aku mohon perlindungan dari kemarahan-Mu dab dari neraka-Mu... E
Para sahabat dahulu, berlomba untuk bisa melakukan shalat tarawih di belakang
Rasulullah. Umar bin Kaththab bahkan beriztihad untuk melaksanakan shalat
tarawih sebanyak 20 rakaat, sehingga kaum muslimin lebih termotivasi untuk
menghidupkan malam Ramadhan.

KEENAM, jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya
yang tertahan sejak pagi hingga petang. Menjadikan saat berbuka sebagai
kesempatan “balas dendam Edari upaya menahan lapar dan haus selama siang hari.
Bila ini terjadi, berarti nilai pendidikan puasa akan hilang.

Puasa, pada hakikatnya, adalah pendidikan bagi jiwa (tarbiyatun nafs) untuk
mampu mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. “Puasa itu adalah perisai 
Esabda Rasulullah SAW seperti diriwayatkan Imam Bukhari. Hanya dalam puasalah,
seseorang dilarang melakukan perbuatan yang sebenarnya halal dilakukan. Hasil
pendidikan itu, akan tercermin dalam pribadi orang-orang yang lebih bisa
bersabar, menahan diri, tawakal, pasrah, tidak emosional, tenang dalam
menghadapi berbagai persoalan.

Puasa menjadi kecil tak bernilai dan lemah dalam unsur pendidikannya ketika
upaya menahan dan mengendalikan nafsu itu hancur oleh pelampiasan nafsu yang
dihempaskan saat terbuka.

KETUJUH, ketika bulan Ramadhan tidak dioptimalkan untuk banyak mengeluarkan
infaq dan shadaqah. Rasulullah SAW seperti digambarkan dalam hadits, menjadi
soso yang paling murah dan dermawan di bulan Ramadhan, hingga kedermawanannnya
itu mengalahkan angin yang bertiup. Di bulan inilah, satu amal kebajikan bisa
bernilai puluhan bahkan ratusan kali lipat di banding bulan-bulan lainnya.
Momentum seperti ini sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan. Keyakinan
yang dikembangkan itu yang dikembangkan oleh para sahabat dan selalu shalih.

KEDELAPAN, ketika hari-hari menjelang idul fitri sibuk dengan persiapan lahir,
tapi tidak sibuk dengan memasok perbekalan sebanyak-banyaknya pada 10 malam
terakhir untuk memperbanyak ibadah. Lebih banyak berfikir untuk bisa merayakan
idul fitri dengan berbagai kesenangan, tapi melupakan suasana akan berpisah
dengan bulan mulia tersebut.

Rasulullah dan para shabat mengkhususkan 10 hari terakhir untuk berdiam didalam
masjid, meninggalkan semua kesibukan duniawi. Mereka memperbanyak ibadah,
dzikir dan berupaya meraih keutamaan malam seribu bulan, saat diturunkannya
Al-Qur’an.

Pada detik-detik terakhir menjelang usainya Ramadhan , mereka merasakan
kesedihan mendalam karena harus berpisah dengan mulia itu. Sebagian mereka
bahkan menangis karena akan berpisah dengan bulan mulia. Ada juga yang bergumam
jika mereka dapat merasakan Ramadhan sepanjang tahun.

KESEMBILAN, ketika Idul Fitri dan selanjutnya dirayakan laksana hari ”merdeka 
Edari penjara untuk melakukan berbagai penyimpangan. Fenomena ini sebenarnya
hanya akibat dari pelaksanaan puasa yang tidak sesuai dengan adabnya. Orang
yang berpuasa dengan baik tentu tidak akan menyikapi Ramadhan sebagai
kerangkeng.

KESEPULUH, setelah Ramadhan, nyaris tidak ada ibadah yang ditindaklanjuti pada
bulan-bulan selanjutnya. Misalanya memelihara kesinambungan puasa sunnah,
shalat malam, membaca Al-Qur’an.

Amal-amal ibadah satu bulan Ramadhan, adalah bekal pasokan agar ruhani dan
keimanan seseorang meningkatkan untuk menghadapi sebelas bulan setelahnya.
Namun, orang akan gagal meraih keutamaan Ramadhan, saat ia tidak berupaya
menghidupkan dan melestarikan amal-amal ibadah yang perbah ia jalankan dalam
satu bulan.[*]

*Majalah Tarbawi*
Edisi 15, Th. 2/31 Desember 2000.
dan : http://www.jkmhal.com/main.php?sec=content&cat=2&id=3574