Sabtu, 17 Oktober 2009

Mari Berwakaf Uang!


Mari Berwakaf Uang



Wakaf bukanlah istilah baru bagi umat Islam di Indonesia. Sejak dulu, umat Islam yang kaya, biasa mewakafkan tanah dan bangunan yang mereka miliki untuk digunakan di jalan Allah. Mungkinkah setiap muslim bisa berwakaf tanpa menunggu menjadi kaya?

Jawabannya, bisa. Sejak tahun 2002, para ulama di Indonesia mulai mengenalkan wakaf uang yang memungkinkan setiap muslim untuk mewakafkan uangnya. Lalu sejak kapan wakaf uang dikenal dalam Islam? Sejatinya, wakaf uang belum dikenal di zaman Rasulullah SAW. Wakaf uang ini (cash waqf) baru dipraktikkan pada abad kedua hijriyah. Imam Al-Zuhri (wafat 124 H) merupakan salah seorang ulama terkemuka dan peletak dasar tadwin al-hadits memfatwakan, dianjurkan waqaf dinar dan dirham untuk pembangunan sarana dakwah, sosial dan pendidikan umat Islam.



Mari Berwakaf Uang

Wakaf bukanlah istilah baru bagi umat Islam di Indonesia. Sejak dulu, umat Islam yang kaya, biasa mewakafkan tanah dan bangunan yang mereka miliki untuk digunakan di jalan Allah. Mungkinkah setiap muslim bisa berwakaf tanpa menunggu menjadi kaya?

Jawabannya, bisa. Sejak tahun 2002, para ulama di Indonesia mulai mengenalkan wakaf uang yang memungkinkan setiap muslim untuk mewakafkan uangnya. Lalu sejak kapan wakaf uang dikenal dalam Islam? Sejatinya, wakaf uang belum dikenal di zaman Rasulullah SAW. Wakaf uang ini (cash waqf) baru dipraktikkan pada abad kedua hijriyah. Imam Al-Zuhri (wafat 124 H) merupakan salah seorang ulama terkemuka dan peletak dasar tadwin al-hadits memfatwakan, dianjurkan waqaf dinar dan dirham untuk pembangunan sarana dakwah, sosial dan pendidikan umat Islam.

Ketua Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI), Prof. KH. Tholhah Hasan, mengungkapkan bahwa dalam sejarah perwakafan di negara-negara Islam, pada zaman kepemimpinan Salahudin al-Ayyubi, di Mesir sudah berkembang wakaf uang. Hasilnya digunakan untuk membiayai pembangunan negara serta pembangunan masjid, sekolah, rumah sakit serta tempat-tempat penginapan.

“Sebelumnya juga, Nuruddin az-Zanki yang berkuasa di Suriah juga menggunakan wakaf uang untuk pemberdayaan umat,” ungkap Kiai Tholhah. Wakaf uang semakin populer pada era kekuasaan Kekhalifahan Turki Usmani. Pada zaman itu, wakaf uang telah menjadi bagian dari kehidupan umat Islam. Bersumber dari dana wakaf uang itulah, pemerintah Turki Usmani mendirikan rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah dan lain sebagainya. “Di Indonesia, wakaf uang memang kurang populer, karena sebagian besar umat Islam Indonesia bermadzhab Syafi’i,” tuturnya.

Pada April 2002, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan, fatwa yang membolehkan wakaf uang. Ketua MUI, KH. Ma’ruf Amin mengatakan, ‘wakaf uang adalah sesuatu yang memiliki nilai untuk diwakafkan untuk kepentingan masyarakat’. “Dulu, wakaf uang diperdebatkan, tapi kini tidak lagi. Yang penting ‘ain-nya [benda]-nya tidak berkurang dan nilainya tetap, bisa dipertahankan,” ungkapnya. Menurut tokoh Nahdlatul Ulama ini, uang yang diwakafkan, terlepas kepemilikannya dari pemiliknya. Artinya, uang itu sudah menjadi milik Allah SWT dan masyarakat. Sehingga, ahli warisnya tidak berhak lagi menguasai uang tersebut.

Lantas siapa saja yang bisa mewakafkan uang? Menurut dia siapa saja bisa mewakafkan uangnya. Dengan catatan uang tersebut adalah miliknya sendiri, bukan milik orang lain. “Uang yang diwakafkan haruslah uang yang didapat dari cara yang halal. Jangan hasil mencuri atau korupsi,” ujarnya menegaskan. Kiai Ma’ruf menambahkan, tak ada batas minimal atau maksimal besaran wakaf uang. Yang terpenting, papar Kiai Ma’ruf, uang itu miliknya sendiri dan didapat dengan cara yang halal. Wakaf uang di Indonesia juga telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf.
Guna mengatur masalah wakaf, Indonesia juga telah memiliki Badan Wakaf Indonesia (BWI). Lembaga independen ini dibentuk untuk memajukan dan mengembangkan perwakafan nasional. BWI telah mengatur tata cara mewakafkan uang, dengan bekerja sama dengan lima bank syariah sebagai Penerima Wakaf Uang (PWI). Kelima bank syariah tersebut itu antara lain; Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, Bank Muamalat, Bank DKI Syariah, dan Bank Mega Syariah. Menurut Kiai Ma’ruf, selain bisa membayarkan wakaf uang kepada lembaga yang dikelola BWI, umat Islam pun bisa mewakafkan uangnya kepada lembaga-lembaga yang siap dan mampu mengelola wakaf.

“Tidak ada masalah seseorang mewakafkan uangnya kepada lembaga pendidikan, asal wakaf uang tersebut dapat dikelola dengan baik dan nilainya tidak berkurang. Lebih menarik, seteleh penyerahan wakaf uang, kepada wakif diserahkan sertifikat sebagai tanda bukti wakaf uang,” ungkapnya.

Dirjen Bimas Islam Departemen Agama, Prof. Nasaruddin Umar, mengakuir bahwa wakaf uang relatif baru dalam dunia Islam. “Memang ini (wakaf uang) relatif baru di dunia perbendaharaan fikih di Indonesia, karena mayoritas mazhab yang berlaku adalah Mazhab Syafi’i,” ujar Rektor PTIQ itu. Dalam Mazhab Syafi’i, kata dia, tidak ditemukan qaul (pendapat) yang memberikan pembenaran terhadap wakaf uang. Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah itu menambahkan, satu-satunya qaul yang bisa ditemukan dalam kitab fikih ialah qaul Abu Hanifah yang menganggap wakaf uang itu dimungkinkan.

“Organisasi Konferensi Islam (OKI) beberapa waktu lalu di Saudi Arabia sepakat memberi legitimasi wakaf uang. Ternyata, kesepakatan ini disambut negara-negara Islam dengan sangat positif,” jelasnya. Wakaf uang, menurutnya, memungkinkan setiap Muslim untuk berwakaf. “Potensi wakaf uang di Indonesia sangat besar, bisa melebihi dari potensi zakat yang nilainya mencapai Rp.19,3 Triliun. Karena seseorang bisa mewakafkan uangnya, tanah kebun atau sawahnya,” imbuh Prof. Nasaruddin.

Untuk itu, sudah saatnya semua pihak bekerja sama membangun kesadaran umat Islam untuk gemar berwakaf baik dalam bentuk uang, tanah maupun benda lainnya. Karena, wakaf itu sifatnya permanen, tidak seperti zakat yang harus habis dibagikan kepada mustahiknya. “Wakaf justru harus tetap pokoknya dan bahkan kalau bisa bertambah. Yang dapat dimanfaatkan adalah hasil pengelolaan wakaf,” paparnya.

Sumber: Dialog Jumat Republika, 09 Oktober 2009








Sabtu, 03 Oktober 2009

Kisah Korban Gempa Sumbar : Teriakan minta Tolong Itu Terngiang


Kisah Korban Gempa Sumbar : Teriakan minta Tolong Itu Terngiang


Razali masih terlihat lemah saat datang di kamar mayat RS M Djamil, Padang, Kamis (1/10). Kepalanya yang bocor dibungkus kain putih. Punggungnya juga terluka.

“Alhamdulillah atas pertolongan Allah saya bisa selamat, meski kepala bocor dan mendapatkan lima jahitan serta punggung luka,” ujarnya kepada Tribun di intalasi kamar mayat itu.

Razali mencari kawannya, sesama peserta bimbingan teknis pengelolaan tambak tinggi yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumbar di Hotel Ambacang, Jalan Bundo Kanduang, Padang.

Dengan kalimat yang terputus karena mengingat kembali detik-detik gempa yang meluluhlantakkan hotel itu, Razali yang berasal dari Kabupaten Limapuluh Kota ini bercerita. “Saya selamat berkat pertolongan Allah,” ujarnya.

Sesaat setelah gempa kedua, ia berlari keluar ruangan acara itu. Ia melihat puluhan orang di hotel sudah panik dan berteriak. Ia terus berlari dan memutuskan meloncat dari lantai dua ke basement hotel tersebut. Ia selamat meski kepala dan punggungnya terluka akibat terkena reruntuhan gempa.

Kisah Korban Gempa Sumbar : Teriakan minta Tolong Itu Terngiang

Razali masih terlihat lemah saat datang di kamar mayat RS M Djamil, Padang, Kamis (1/10). Kepalanya yang bocor dibungkus kain putih. Punggungnya juga terluka.

“Alhamdulillah atas pertolongan Allah saya bisa selamat, meski kepala bocor dan mendapatkan lima jahitan serta punggung luka,” ujarnya kepada Tribun di intalasi kamar mayat itu.

Razali mencari kawannya, sesama peserta bimbingan teknis pengelolaan tambak tinggi yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumbar di Hotel Ambacang, Jalan Bundo Kanduang, Padang.

Dengan kalimat yang terputus karena mengingat kembali detik-detik gempa yang meluluhlantakkan hotel itu, Razali yang berasal dari Kabupaten Limapuluh Kota ini bercerita. “Saya selamat berkat pertolongan Allah,” ujarnya.

Sesaat setelah gempa kedua, ia berlari keluar ruangan acara itu. Ia melihat puluhan orang di hotel sudah panik dan berteriak. Ia terus berlari dan memutuskan meloncat dari lantai dua ke basement hotel tersebut. Ia selamat meski kepala dan punggungnya terluka akibat terkena reruntuhan gempa.

Namun, Razali tetap terpukul karena rekan satu kabupaten dengannya tidak selamat. Andi, nama kawannya, itu baru bisa dievakuasi, Kamis pagi, dalam keadaan sudah tidak bernyawa. ”Saya tak dapat selamatkan Andi. Padahal di saat pelatihan maupun lari ketika gempa terjadi selalu berada di belakang saya,” ujarnya.

Dalam keadaan sangat mencekam, usai ditimpa reruntuhan. Ia merangkak keluar dari reruntuhan. Di saat merangkak itulah, ia melihat beberapa tangan melambai meminta pertolongan. Ia juga mendengar suara memelas. “Teriakan minta tolong dari tamu hotel itu juga sayup saya dengar. Sampai saat ini masih terngiang di telinga saya, tapi saya tak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, Yosmeri, mengatakan peserta pelatihan bintek di Ambacang itu berasal dari 19 kabupaten dan kota se-Sumbar. Jumlahnya ada 25 orang ditambah narasumber dan panitia menjadi 30 orang.

“Selamat dari reruntuhan hotel akibat gempa baru lima orang sedangkan yang berhasil dievakuasi sampai Kamis sore baru lima orang juga,” kata Yosmeri.

Termasuk Andi, kawan Razali, yang menurut rencana malam ini juga ia bawa dengan ambulans ke Limapuluh Kota. “Keluarga korban sudah menunggu di kampung,” ujar Razali.

Kisah warga yang selamat meski tertimbun belasan jam juga dialami Ivan (25), pekerja rumah biliar di Kota Padang. Ia selamat dari maut setelah lebih dari 12 jam terhimpit puing-puing bangunan lantai tiga tempatnya bekerja di Jalan Thamrin, Padang, itu.

Saat gempa, Ivan tengah berada di lantai tiga dan terus berupaya lari ke lantai satu untuk menyelamatkan diri. Saat akan keluar bangunan, kaki Ivan tersandung dan dia jatuh ke lantai dan pada saat yang sama bangunan tiga lantai itu roboh.Tubuh Ivan dari pinggang ke kaki ditimpa balok beton, sedangkan dari badan ke kepala terlindung di antara tulang beton-beton yang melintang.

Sejak Rabu sore itu Ivan tidak bisa bergerak dan terpaku karena tubuhnya terhimpit. Warga yang ada di lokasi tidak bisa memberikan pertolongan karena beton-beton yang berat menindih tubuh Ivan. Warga hanya dapat memberikan minuman dan meminta Ivan bertahan sampai datang tim evakuasi.

Malam itu Ivan terperangkap dan bisa bergerak di tengah guyuran hujan lebat yang dingin. Subuh hari, tim evakuasi dengan satu alat berat datang dan berhasil membantu mengeluarkan Ivan dari himpitan beton-beton. Nyama Ivan selamat namun tubuhnya dari pangkal paha ke kaki luka-luka berat. Ivan langsung dibawa ke RSUP M Djamil Padang untuk mendapat pertolongan. Sungguh, Ini adalah salah satu tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.
(adt)kompas dan http://udinmduro.wordpress.com